Ads 468x60px

Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Thursday, February 7, 2013

Renungan dalam Pancingan




muhmustakim.files.wordpress.com
Terdengar nyanyian jangkrik saling bersahutan
Ia membahana di tengah hening dan kegelapan
Yah, telah terjadi peperangan
 Peperangan yang untuk saat ini dimenangkan oleh pangeran kegelapan
Berkolaborasi dengan desir ombak dan ratapan hawa
Misteri laut tiada tara
Khas dan bukan buatan biasa

Thursday, January 17, 2013

KELUH KESAH AMARAH HARIKU

Menyapa dengan senyuman akan lembaran baru
Kiranya terisi warna terang indah menawan
Sudihkah Dia?

Bila mulai bintang terang penuh harapan, menanjak ke angkasa raya
Tinggi asa terkikis putus
Tatkala ilmu dirusak
Oleh manusia kurang bersyukur
Tak sadar mufakat ilmu itu sesungguhnya !!!
Hati menangis ketika lirikan mata tertuju mereka

Asa kian tipis
Bilamana mengulur tangan sesama pencari hak
Namun qalbu ini kembali terluka !!!
Akan tanya tak terjawab
Akan penantian melelahkan
Akan ingin tak terwujud
Akan pengorbanan yang hancur sia-sia

Keluh kesah amarah
Tertahan teriakan dalam diri
Pasrah pada hasil yang diberi-Nya

Asa pun putus
Ketika tunggangan lenyap dari pandangan
Hanya itu esanya kugantungkan raga
Tuk kembali pada istanaku

Ah... !!!

Jawaban itu, TIDAK !!!
Bukan hari ini
Tidaklah hariku

Yang kelam kelabu penuh warna gelap

Syukur terucap
Karena telah berkarya, walau cacat jauh dari sempurna

Mohon ampun dari-Nya
Atas dosa tak terbilang
Tuk hari beda ini...
28 Oktober 2010
Gambaran akan kelabunya hari ini...

* dalam rangka pemenuhan tugas kuliah

Tuesday, January 15, 2013

Antara Penyesalan dan Penghambaan: ?

Kicauan buruan sedari tadi menyingkap subuh
Mungkin ia seekor perenjak
yang berkicau ketika tamu hendak bertandang
atau… mungkin juga ia mengajak jangkrik tuk adu bunyi
padahal mereka telah lelah berteriak tak karuan semalaman
sekarang, titik pusat tata surya datang dengan warna-warni khasnya
yah, tentu dari ufuk timur raya sana
dengan perlahan terbang begitu ayu nan anggunnya
bercumbu dengan setiap bidang yang dihinggapinya

Thursday, January 3, 2013

KONSULTASI HATI

Berbicara tentang hati...
Tentang segala faktor yang menghiasi...
Baik diri maupun di luar diri
Dahulu dia fitri...
Tenang, tidak bahagi tidak pula keluh akan perih.

Saturday, December 29, 2012

Renjana Anak Rantau


Puing-puing rindu pun berserakan
Ketika lontara-lontara hati mulai tersayat tak kuat menahan
Hingga pecah... rasa menyeruak keluar bersama isak dan embun di pengujung mata

Aku ingat rumah adat tongkonan
Megah menjulang
Tiang-tiangnya perkasa
Pertanda prinsip bugis tertancap begitu dalam

Aku ingat lelaki paruh baya berlengak-lenggok di pematang sawah
Membawa cangkul dan bibit kehidupan
Seharian bermandikan keringat bersarung letih
Sesekali senyum sambil menengadah ke angkasa biru
Hingga semangat kembali menggalayuti batin entah darimana ia datang

Pun, dahulu mereka begitu perkasa
Berkarib dengan kapal bergelar pinisi
Menantang badai
Menembus gulungan ombak
Bersafari menjinakka samudra
Lalu berjumpa dengan dunia lain nun jauh di sana

Aku ingat perempuan-perempuan bugis
Menyusui anaknya di bale-bale
Mengusap kepalanya dan berkata lembut
“Nak, kalau sudah besar jadi pedagang atau pelaut saja yah seperti kakekmu?!”
Berbalas umbaran senyum lalu kembali mengea pada ibunya

Aku ingat ingat bunga-bunga desa di tanah bugis...
Menyembunyikan harap dan cemas di balik dinding anyaman bambu di atas rumah panggung
Menunggu seorang pemuda datang membawa cinta
membawa siri’ untuk tameng hidupnya
Lalu menggiringnya dalam bahtera baru
Melahirkan buah-buah cinta generasi penerus bangsa berdarah penantang samudra

Rinduku ini rindu renjana
Pekat... lubuk... mengakar agam begitu dalam
Tak mungkin diri lupa tanah dan udara pertama

Aku pergi bercerai dengan manisnya kenangan
Toh demi kebaikan jua
Walau harus menggadaikan memori indah yang sudah jauh di ujung pandang

Di pertengahan hening dan kegelapan
Memori kembali terngiang
Akan pappaseng persatuan dari pemangku adat kami
“Rebba sipatokkong, mali siparappe, sirui menre’ tessirui’ no, malilu-sipakainge, mainge’pi mupaja”

Tak akan pernah terlupakan
Dan telah ku-ejawantahkan di tanah orang ini
Terhadap kerawat dan kawan baru
bineka tunggal ika
yang juga masih saudara setanah ibu pertiwi

walau begitu... sungguh nian...Aku tetap melipat rindu tuk pulang ke kampung!

15 Desember 2012
Semoga waktu datang membelinya dengan senyuman






Tuesday, November 20, 2012

ANALISIS KARAKTERISTIK PUISI LIMA PENYAIR (Chairil Anwar, W.S. Rendra, Taufiq Ismail, Amir Hamzah, dan Murdani Tulqadri)


Tengku Amir Hamza Pangeran Indera Putera atau dikenal dengan Amir Hamzah adalah penyair dari pujangga baru. Puisi-puisi Amir Hamza menggambarkan kerinduan, kesedihan, dan kesepian terhadap kekasihnya. Puisi-pusinya juga menggambarkan bahwa ia begitu bergantung dengan Tuhannya. Beberapa puisi-puisi Amir Hamzah yang memiliki kemiripan ialah “Berdiri Aku”, “Padamu Jua”, “Hanya Satu”, “Permainanmu”, dan “Doa”. Semua puisi-pusi tersebut menggambarkan bahwa si penyair begitu rindu akan kekasihnya dan selalu menyebut-nyebut kata “kekasih” dalam puisi-puisi tersebut. Kekasih yang dimaksud Amir Hamzah ialah Tuhannya sendiri. Ialah penyejuk hatinya, penentram jiwanya. Kepadanyalah ia bergantung dan mencurahkan rasa. Tentu saja, puisi-puisi itu dibuat berdasarkan pengalaman batin maupun jasmani dari Amir Hamzah sendiri.

Penyair yang lahir tanggal 25 Juni 1935 ini bernama lengkap Taufiq Ismail. Ia adalah penyair dari angkatan ‘66. Puisi-puisi Amir Hamzah berisi tentang kehidupan kenegaraan, tentang perang kemerdekaan masa lalu, kritik terhadap negara, realita bangsa, dan segala sesuatu berbau hiruk piku-duka Indonesia. Kesamaan Isi puisi Taufiq Ismail ialah menceritakan realita kacaunya kenegaraan Indonesia. Hal itu tercermin dalam karya-karyanya yang berjudul “Buku Tamu Musium Perjuangan”, “Pengoemoeman Repoeblik”, “Dari Catatan Seorang Demonstran”, “Jawaban dari Pos Terdepan”, “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami masuk Msa Penjajahan Baru, Kata Si Toni”, “Yang Selalu Terapung di Atas Gelombong”. Puisi-puisi tersebut menggambarkan curhatan Taufiq Ismail tentang suasan kemederkaan Indonesia yang jauh dari kemerdekaan Indonesia. Puisi-puisi tersebut mungkin tercipta dari kekesalan-kekesalan hati Taufiq Ismail kehidupan Indonesia hingga mengejawantahkannya dengan karya sastra berbentuk puisi berisi kritikan.

Penyair lulusan American Academy of Dramatical Art ini bernama lengkap Willibrordus Surendra Bawana Rendra, namun dikenal oleh pecintanya dengan nama W.S. Rendra.  Ia merupakan bagian dari penyair angkatan ‘53 dan bergelar “Burung Merak”. Kesamaan dalam puisi-puisinya ialah berisikan protes, sindirian, dan kritikan baik terhadap pemerintah, dan segala kekacauan dalam hidup berbangsa. Hal itu tertuang dalam puisi-puisinya yang berjudul “Sajak Kenalan Lamamu”, “Sajak Mata-Mata” “Sajak Pertemuan Mahasiswa”, “Sajak Pulau Bali”, “Sajak S L A”, “Sajak Sebatang Lisong”, dan “sajak Sebotol Bir”. Puisi-puisi tersebut tak jarang bernada kasar dan menggunakan kata-kata yang “tabu” di dalam pandangan masyarakat Indonesia yang inti puisinya bernada penyesalan, protes, kritik, dan sindiran. Tentu hal itu wajar saja karena W.S. rendra hidup dari zaman kemerdekaan hingga zaman reformasi yang begitu penuh penderitaan.

 Siapa yang tak kenal pemuda Minangkabau satu ini. Dia bernama Chairil Anwar, “Binatang Jalang” dari Medan. Puisi-pusi pelopor angkatan ’45 ini memiliki kesamaan yaitu memiliki makna tentang sebagaian besar pengalaman hidup Chairil Anwar. Benar, dalam puisinya seringkali menggunakan penulisan “Aku”. Puisi-puisi tersebut di antaranya,”Aku”, “Penerimaan”,”Doa”, “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Cinta Aku Jauh ke Pulau”, dan “Derai-Derai Cemara”. Bahasa yang digunakan dalam puisi-puisinya tersebut berisi bahasa yang lugas walau juga menggunakan kiasan-kiasan yang tajam. Kesamaan puisi-puisi tersebut terjadi karena Sang Penyair memiliki pengalaman hidup dan batin yang begitu kaya. Makna-makna puisinya penuh dengan penharapan, mimpi, keinginan hati, dan kesedihan.

Penyair kelahiran Parepare satu ini bernama Murdani Tulqadri. Dia ialah mahasiswa bersahaja tahun ketiga di Universitas Negeri Makassar dengan memilih Jurusan Bahasa dan Satra Indonesia. Puisi-puisi yang dia terbitkan di www.pojokpakdani.blogspot.com menceritakan tentang kehidupannya. Sedih, senang, duka, larah, dan bahagia ia ungkapkan dengan gaya bahasa orang pertama “Aku”dalam puisi-puisinya. Ia juga selalu memasukkan kata “hati” dalam puisi-puisnya, baik diungkapkan secara langsung atau pun melalui metamorfosa hingga tersurat dalam diksi-diksinya. Puisi-puisi tersebut di antaranya, “Anjangsana”, “Hujan Turun Lagi”. “Cinta Zakiah”, “Bukan Keluh”, “Di Kala Pagiku” dan “Keluh Kesah Amarah Hariku”. Puisi-puisi itu tercipta melalui pengalaman batin dari sang penyair yang merupakan inspirasi-inspirasi dari lingkungan dan manusia yang berada di sekelilingnya. Bahasa yang dipergunakan dalam puisi-puisinya cukup sederhana walau terkadang terdapat kata kiasan di beberapa baris dan bait dalam pusi-puisinya.

Sumber Referensi:
http://siboccahfelix.wordpress.com/kumpulan-puisi-puisi-chairil-anwar-dlegend/
http://budhisetyawan.wordpress.com/2007/11/21/sebuah-puisi-karya-chairil-anwar/
http://andixjelek.blogspot.com/2009/04/chairil-dan-bahasa-individualistis.html
http://indonesiabuku.com/?p=1131
http://adisastrajaya.blogspot.com/2012/06/makalah-analisis-citraan-dalam-puisi-ws.html
http://zhuldyn.wordpress.com/2011/04/11/kumpulan-puisi-karya-w-s-rendra/


Monday, October 29, 2012

ANJANGSANA


Sebuah rindu…
Rindu begitu renjana…
Kepada sang kekasih bergelar sanak di sudut kota sana

Bersarang di pojok-pojok jiwa
Balig bahkan sudah tua
Renta dan begitu sengasara karena cinta

Hanya ada sebuah penawar
Bagi sengsara yang juga konsekuensi desir rasa
Anjangsana ianya

Ah, ini bukan persoalan mengapa dan siapa!
Hanya sebuah anjangsana
Lalu… hilang sudah duduk perkara

Ketika paras-paras telah saling berhadapan
Pucuk-pucuk rindu mulai layu
Berganti bianglala di langit-langit hati

Saling berceloteh mengumbar kasih…
Air muka lalu menjadi begitu suci
Kemuning bahagia bersandar di dipan-dipan hati
Hanya sebuah anjangsana
Lalu… sudah hilang semua perkara
Hingga musim semi yang dinanti… tiba… melukis rona merah di hati

28 Oktober 2012
Di peraduan sanak


28 Oktober 1928

Imagi berputar jauh ke belakang hari
Melintasi ingatan-ingatan yang pernah berarti
Hingga tiba di sebuah gerbang bertuliskan pemuda-pemudi

Mereka penuh jasa
Mereka punya upaya
Mereka adalah tonggak peradaban bertajuk “Indonesia”

Dalam kepungan penjajah
Ketakutan menghiasi hari-hari mereka
Hanya bisa merintih dan berteriak dalam hati “aku ingin merdeka”

Benalu itu begitu perkasa
Mengumbar janji, namun muslihat di balik raga
Tahulah bagaimana pemuda, tiada sabar dan memang rindu membuncah untuk merdeka

Lalu terjadilah apa yang terjadi
Mereka mengejawantahkan renjana dalam suatu tragedi
Membakar ketakutan lalu lahir trisula di bumi pertiwi

Dengan teriakan menggelegar membahana
“satu nusa, satu bangsa, satu bahasa…. INDONESIA”
Mereka lanjutkan mimpi yang telah terbit dalam adegan yang berbeda
Masa bodoh dengan malapetaka
Masa bodoh dengan gentar belantara
Mereka hanya ingin merdeka

Semangat mereka hidup hingga detik ini
Bergelora dalam sanubari
Bahwa Indonesia telah merdeka hingga kini

Terima kasih wahai pemuda pemudi
Kau pertaruhkan nyawa demi seukir senyum untuk anak-anak ibu pertiwi
Hingga kini, semua tertancap indah di hati-hati kami

Terima kasih wahai pemuda pemudi
Jasamu begitu dalam berarti
Bermunajat… Rahimakumullah… kepada Maha Pengasih

Terima kasih wahai pemudai pemudi
Nyalimu untuk nusantara akan selalu menggetarkan kolong hati ini
Sekali lagi, terima kasih wahai pemuda pemudi….

28 Oktober 2012
Refleksi pemuda-pemudi Indonesia dahulu dan kini



Catatan: puisi-puisi di atas juga dibuat dalam rangka mengerjakan tugas puisi dalam mata kuliah Apresiasi Puisi Indonesia


Cinta Zakiah


Ini cinta zakiah bukan cinta yang zadah
Bukan pula cinta kawula yuwono yang begitu sembrono
Ketika habis manis, sepah dibuang begitu jauh
Usah pula kira hanya semacam raut rasa
BUKAN… kau salah!!!

Ini benar zakiah…
Datang dari sang Pencipta
Hingga tumbuh begitu rimbun
Menjadi ornamen di dinding-dinding hati..

zakiah… zakiah… zakiah…
ini cinta zakiah…
bukan hanya sepasang insan merasakannya
BUKAN… Kau Salah!

ketika telah merajut cinta zakiah
hilang larah
hilang nestapa
hilang kilah keruh kendala

karsa rindu cinta zakiah..
Cinta yang diperuntuhkan bagi mereka yang di sana…
Hingga hati tertawan kenyam
Roman muka begitu bahagia…

Begitu rindu zakiah
Begitu rindu cinta zakiah
Ow… ini prahara cinta

Ah zakiah…
Di mana engkau berada…?

27 Oktober 2012
Pencarian cinta yang zakiah


Hujan Turun Lagi…


Hari ini… hujan turun lagi
Tatkala dua buah batin sedang diaduk berang
Benih-benih perseteruan mulai tumbuh bergelayutan
Hingga timbul suasana hening begitu mencekam

Hari ini… hujan turun lagi
Ketika kedua kelopak mata mulai menjatuhkan embunnya
Dua cakap telah bertentang kicau
Hingga menyisakan balutan luka

Hari ini… hujan turun lagi
Pernah terjadi suatu adegan yang sepadan
Namun dahulu begitu dahsyat
Hingga menorehkan luka begitu dalam
Ada kesah…
Ada sesal…
Namun tak ada yang mengalah

Hari ini… hujan turun lagi
Bagaimana kiranya jika hanya menawarkan rasa
Lalu dibeli dengan suatu pertikaian
Berakhir dengan permusuhan
Begitu takut seperti dahulu kala
Ketika masing-masing batin…
 sibuk menjahit mozaik rona

Hari ini… hujan turun lagi
Sang penentram hati, kembali beraksi
Mulai dari nada hingga masuk ke relung jiwa
Dingin dan menyejukkannya yang lelah
Semoga belum beku dan membatu
Hingga rukun dua batin

Hari ini… hujan turun lagi
Cakap batin pada Penciptanya
“Rabb… rajutlah kembali cinta itu”
Kiranya mustajab bagi ia yang malang
Hingga langit menyekah sedunya

Hari ini… hujan turun lagi
Berharap segera usai
Hingga kemilau senja berganti menerangi hati…

27 Oktober 2012
Air muka begitu kalut

Catatan: puisi-puisi di atas juga dibuat dalam rangka mengerjakan tugas puisi dalam mata kuliah Apresiasi Puisi Indonesia





Thursday, October 11, 2012

Bukan Keluh


Ia begitu lembut membelai, menyentuh, dan mengecupku
Tak terlihat…
Namun perlahan menjalar menusuk jiwa hingga relung kalbu
Kemudian ia merayu “ceritakanlah pedih perihmu!”
Lalu berjanji bahwa ia akan menemani hingga penghujung karya dan tinta

Guruh gemuruh mulai memudar di seberang raya sana
Toh, wajah bulat itu pun mulai sayu, malu, dan sadar
bahwa ia harus menyembunyikan keindahannya… agar semua pasang mata beralih
hingga tak menumbuhkan rasa cemburu yang begitu dalam!
Kepada “siapa” engkau bertanya??
Kukira kau pun tahu siapa dia

Ia kembali berpadu dengan dedaunan
Menghasilkan berjuntai-juntai nada
Ia dan kawannya bertahan di antara kumpulan nada dan suasana yang terbuang
Seperti biasa!!!

Berkutat dengan pilihan
Berkelahi dengan waktu
Bergulat dengan warna hati
Hingga ada yang tersakiti

Terkadang dan memang mungkin demikian
Pabila beban disandarkan
Lalu direkatkan dengan begitu kuatnya
Hingga terasa begitu lelah
Aku hanya kembali pada satu ukiran nama
Yang membuat segalanya menjadi damai dan dewasa
dan mengakui bahwa Ia yang sempurna

Benar bahwa aku yang hidup kini
Aku lelaki
Punya cita yang tinggi
Namun… aku bukan pahlawan berdikari
Tampil solo begitu mandiri
Bukan!!!

Aku butuh dekapan dan dukungan
Aku ini penuh kekurangan
Begitu lusuh dan punya pikiran begitu rusuh
Sungguh begitu rapuh!!!

Aku butuh seikat penawar rindu
Berupa tali yang erat mengekang jiwa
Sekali lagi engkau bertanya “mengapa”?
Karena aku ini manusia
Bukan binatang jalang!!!
9 Oktober 2010
Obat Hati



PUISI II (BUKAN ALIRAN SAYA)

MALU, RASA, DAN NYAWA

suka, suka, suka
suka, suka, dan suka
su-ka, su-ka, su-ka
su-ka, su-ka, ka-gum
ka-gum, kagum, kagum
kagum, kagum, dan kagum
ka-gum, ka-gum, ka-gum
ka-gum, ka-gum, ka-yang
sa-yang, sayang, sayang
sayang, sayang, dan sayang
sa-yang, sa-yang, sa-yang
sa-yang, sa-yang, sa-ta
cin-ta, cinta, cinta
cinta, cinta, dan cinta
cin-ta, cin-ta, cin-ta
cin-ta, cin-ta, cin-gia
ba-ha-gia, bahagia, bahagia
bahagia, bahagia, dan bahagia
ba-ha-gia, ba-ha-gia, ba-ha-gia
ba-ha-gia, ba-ha-gia, ba-ha-gia
kala dan telah
semua menjadi maka dan bisa
hingga sangat biasa
dan akhirnya…
sakit
sakit, sakit
sakit, sakit, sakit
s
a
k
i
t
sakit, sakit, sakit
sakit, sakit
sakit
sa
ki
t
sa
ki
t
luka,      darah,   luka,      darah
luka        dan       darah
hingga meregang
nyawa
!
9 Oktober 2012
Teruna tak bestari

Catatan: puisi-puisi di atas juga dibuat dalam rangka mengerjakan tugas puisi dalam mata kuliah Apresiasi Puisi Indonesia