Ads 468x60px

Monday, April 2, 2012

Siapakah Imam Asy-Syafi’i?

     Mungkin Saudara tahu sapa itu Beckham, Lady Gaga,Nickita Wily, bahkan Aristoteles. Mereka sangat populer di kalangan manusia saat ini. namun apakah Saudara tahu siapa itu Imam Syafi'i? apatah lagi Anda yang beragama Islam? setelah Anda membaca kisah ini, coba bandingkan dengan dengan tokoh-tokoh di atas atau yang lainnya, yang manakah yang lebih hebat. Berikut kisah beliau.
     Di kampung miskin di kota Ghazzah (orang Barat menyebutnya Gaza ) di bumi Palestina, pada th. 150 H (bertepatan dengan th. 694 M) lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang berbahagia, Idris bin Abbas Asy-Syafi`ie dengan seorang wanita dari suku Azad. Bayi lelaki keturunan Quraisy ini akhirnya dinamai Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie . Demikian nama lengkapnya sang bayi itu. Namun kebahagiaan keluarga miskin ini dengan kelahiran bayi tersebut tidaklah berlangsung lama. Karena beberapa saat setelah kelahiran itu, terjadilah peristiwa menyedihkan, yaitu ayah sang bayi meninggal dunia dalam usia yang masih muda. Bayi lelaki yang rupawan itu pun akhirnya hidup sebagai anak yatim.
     Sang ibu sangat menyayangi bayinya, sehingga anak yatim Quraisy itu tumbuh sebagai bayi yang sehat. Maka ketika ia telah berusia dua tahun, dibawalah oleh ibunya ke Makkah untuk tinggal di tengah keluarga ayahnya di kampung Bani Mutthalib. Karena anak yatim ini, dari sisi nasab ayahnya, berasal dari keturunan seorang Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang bernama Syafi’ bin As-Sa’ib. Dan As-Sa’ib ayahnya Syafi’, sempat tertawan dalam perang Badr sebagai seorang musyrik kemudian As-Sa’ib menebus dirinya dengan uang jaminan untuk mendapatkan status pembebasan dari tawanan Muslimin. Dan setelah dia dibebaskan, iapun masuk Islam di tangan Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .

Maka nasab bayi yatim ini secara lengkap adalah sebagai berikut:


     Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.
     Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .
     Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .
     Bahkan karena Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam bersabda:
     “Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil beliau menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan beliau.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65 - 66).
     Di lingkungan Bani Al-Mutthalib, dia tumbuh menjadi anak lelaki yang penuh vitalitas. Di usia kanak-kanaknya, dia sibuk dengan latihan memanah sehingga di kalangan teman sebayanya, dia amat jitu memanah. Bahkan dari sepuluh anak panah yang dilemparkannya, sepuluh yang kena sasaran, sehingga dia terkenal sebagai anak muda yang ahli memanah.
     Demikian terus kesibukannya dalam panah memanah sehingga ada seorang ahli kedokteran medis waktu itu yang menasehatinya. Dokter itu menyatakan kepadanya: “Bila engkau terus menerus demikian, maka sangat dikuatirkan akan terkena penyakit luka pada paru-parumu karena engkau terlalu banyak berdiri di bawah panas terik mata hari.” Maka mulailah anak yatim ini mengurangi kegiatan panah memanah dan mengisi waktu dengan belajar bahasa Arab dan menekuni bait-bait sya’ir Arab sehingga dalam sekejab, anak muda dari Quraisy ini menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya dalam usia kanak-kanak. Di samping itu dia juga menghafal Al-Qur’an, sehingga pada usia tujuh tahun telah menghafal di luar kepala Al-Qur’an keseluruhannya.
     Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.
     Kemudian beliau juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.
     Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.
     Ia pun demi kehausan ilmu, akhirnya berangkat dari Makkah menuju Al-Madinah An Nabawiyah guna belajar di halaqah Imam Malik bin Anas di sana. Di majelis beliau ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.
     Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga beliau menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”
     Dari berbagai pernyataan beliau di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling beliau kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Beliau banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi sayang, guru beliau yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di akhir hayat beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.
     Ketika Muhammad bin Idris As-Syafi’i Al-Mutthalibi Al-Qurasyi telah berusia dua puluh tahun, dia sudah memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan Ulama’ di jamannya dalam berfatwa dan berbagai ilmu yang berkisar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tetapi beliau tidak mau berpuas diri dengan ilmu yang dicapainya. Maka beliaupun berangkat menuju negeri Yaman demi menyerap ilmu dari para Ulama’nya.
    Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, beliau melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga beliau mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.
     Sejak di kota Baghdad, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie mulai dikerumuni para muridnya dan mulai menulis berbagai keterangan agama. Juga beliau mulai membantah beberapa keterangan para Imam ahli fiqih, dalam rangka mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam . Kitab fiqih dan Ushul Fiqih pun mulai ditulisnya. Popularitas beliau di dunia Islam yang semakin luas menyebabkan banyak orang semakin kagum dengan ilmunya sehingga orang pun berbondong-bondong mendatangi majelis ilmu beliau untuk menimba ilmu. Tersebutlah tokoh-tokoh ilmu agama ini yang mendatangi majelis beliau untuk menimba ilmu padanya seperti Abu Bakr Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi (beliau ini adalah salah seorang guru Al-Imam Al-Bukhari), Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Ahmad bin Hanbal (yang kemudian terkenal dengan nama Imam Hanbali), Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi, Abu Ya’qub Yusuf Al-Buaithi, Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al-Kalbi, Harmalah bin Yahya, Musa bin Abil Jarud Al-Makki, Abdul Aziz bin Yahya Al-Kinani Al-Makki (pengarang kitab Al-Haidah ), Husain bin Ali Al-Karabisi (beliau ini sempat di tahdzir oleh Imam Ahmad karena berpendapat bahwa lafadh orang yang membaca Al-Qur’an adalah makhluq), Ibrahim bin Al-Mundzir Al-Hizami, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani, Ahmad bin Muhammad Al-Azraqi, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ilmu yang lainnya. Dari murid-murid beliau di Baghdad, yang paling terkenal sangat mengagumi beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal atau terkenal dengan gelar Imam Hanbali.
     Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Mizzi dengan sanadnya bersambung kepada Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hanbali). Beliau menceritakan: “Aku pernah bertanya kepada ayahku: <Wahai ayah, siapa sesungguhnya As-Syafi`ie itu, karena aku terus-menerus mendengar ayah mendoakannya?> Maka ayahku menjawab: <Wahai anakku, sesungguhnya As-Syafi`ie itu adalah bagaikan matahari untuk dunia ini, dan ia juga sebagai kesejahteraan bagi sekalian manusia. Maka silakan engkau cari, adakah orang yang seperti beliau dalam dua fungsi ini (yakni fungsi sebagai matahari dan kesejahteraan) dan adakah pengganti fungsi beliau tersebut?>.”
     Diriwayatkan pula bahwa Sulaiman bin Al-Asy’ats menyatakan: “Aku melihat bahwa Ahmad bin Hanbal tidaklah condong kepada seorangpun seperti condongnya kepada As-Syafi`ie.” Al-Maimuni meriwayatkan bahwa Imam Hanbali menyatakan: “Aku tidak pernah meninggalkan doa kepada Allah di sepertiga terakhir malam untuk enam orang. Salah satunya ialah untuk As-Syafi`ie.”
     Diriwayatkan pula oleh Imam Shalih bin Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hanbali): “Pernah ayahku berjalan di samping keledai yang ditumpangi Imam Syafi`ie untuk bertanya-tanya ilmu kepadanya. Maka melihat demikian, Yahya bin Ma’ien sahabat ayahku mengirim orang untuk menegur beliau. Yahya menyatakan kepadanya: <Wahai Aba Abdillah ( kuniah bagi Imam Hanbali), mengapa engkau ridla untuk berjalan dengan keledainya As-Syafi`ie?>. Maka ayah pun menyatakan kepada Yahya: <Wahai Aba Zakaria ( kuniah bagi Yahya bin Ma’ien), seandainya engkau berjalan di sisi lain dari keledai itu, niscaya akan lebih bermanfaat bagimu>.”
     Di samping Imam Hanbali yang sangat mengaguminya, juga diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh nya dengan sanadnya dari Abu Tsaur. Dia menceritakan: “Abdurrahman bin Mahdi pernah menulis surat kepada As-Syafi`ie, dan waktu itu As-Syafi`ie masih muda belia. Dalam surat itu Abdurrahman meminta kepadanya untuk menuliskan untuknya sebuah kitab yang terdapat padanya makna-makna Al Qur’an, dan juga mengumpulkan berbagai macam tingkatan hadits, keterangan tentang kedudukan ijma’ (kesepakatan Ulama’) sebagai hujjah / dalil, keterangan hukum yang nasikh (yakni hukum yang menghapus hukum lainnya) dan hukum yang mansukh (yakni hukum yang telah dihapus oleh hukum yang lainnya), baik yang ada di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Maka As-Syafi`ie muda menuliskan untuknya kitab Ar-Risalah dan kemudian dikirimkan kepada Abdurrahman bin Mahdi.
     Begitu membaca kitab Ar-Risalah ini, Abdurrahman menjadi sangat kagum dan sangat senang kepada As-Syafi`ie sehingga beliau menyatakan: “Setiap aku shalat, aku selalu mendoakan As-Syafi`ie.” Kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi`ie akhirnya menjadi kitab rujukan utama bagi para Ulama’ dalam ilmu Ushul Fiqih sampai hari ini. Pujian para Ulama’ dan kekaguman mereka bukan saja datang dari orang-orang yang seangkatan dengan beliau dalam ilmu, akan tetapi datang pula pujian itu dari para Ulama’ yang menjadi guru beliau.
     Antara lain ialah Sufyan bin Uyainah, salah seorang guru beliau yang sangat dikaguminya. Sebaliknya Sufyan pun sangat mengagumi Imam As-Syafi`ie, sampai diceritakan oleh Suwaid bin Saied sebagai berikut: “Aku pernah duduk di majelis ilmunya Sufyan bin Uyainah.
     As-Syafi`ie datang ke majelis itu, masuk sembari mengucapkan salam dan langsung duduk untuk mendengarkan Sufyan yang sedang menyampaikan ilmu. Waktu itu Sufyan sedang membaca sebuah hadits yang sangat menyentuh hati. Betapa lembutnya hati beliau saat mendengar hadits itu menyebabkan As-Syafi`ie mendadak pingsan.
     Orang-orang di majelis itu menyangka bahwa As-Syafi`ie meninggal dunia sehingga peristiwa ini dilaporkan kepada Sufyan: <Wahai Aba Muhammad (kuniah bagi Sufyan bin Uyainah), Muhammad bin Idris telah meninggal dunia>. Maka Sufyan pun menyatakan: <Bila memang dia meninggal dunia, maka sungguh telah meninggal orang yang terbaik bagi ummat ini di jamannya>.”
     Demikian pujian para Ulama’ yang sebagiannya kami nukilkan dalam tulisan ini untuk menggambarkan kepada para pembaca sekalian betapa beliau sangat tinggi kedudukannya di kalangan para Ulama yang sejaman dengannya. Apalagi tentunya para ulama’ yang sesudahnya.
     Imam As-Syafi`ie tinggal di Baghdad hanya dua tahun. Setelah itu beliau pindah ke Mesir dan tinggal di sana sampai beliau wafat pada th. 204 H dan usia beliau ketika wafat 54 th. Beliau telah meninggalkan warisan yang tak ternilai, yaitu ilmu yang beliau tulis di kitab Ar-Risalah dalam ilmu Ushul Fiqih. Di samping itu beliau juga menulis kitab Musnad As-Syafi`ie , berupa kumpulan hadits Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang diriwayatkan oleh beliau; dan kitab Al-Um berupa kumpulan keterangan beliau dalam masalah fiqih. Sebagaimana Al-Um , kumpulan riwayat keterangan Imam As Syafi`ie dalam fiqih juga disusun oleh Al-Imam Al-Baihaqi dan diberi nama Ma’rifatul Aatsar was Sunan . Al-Imam Abu Nu’aim Al-Asfahani membawakan beberapa riwayat nasehat dan pernyataan Imam As-Syafi`ie dalam berbagai masalah yang menunjukkan pendirian Imam As-Syafi`ie dalam memahami agama ini. Beberapa riwayat Abu Nu’aim tersebut kami nukilkan sebagai berikut :
Imam As-Syafi`ie menyatakan: “Bila aku melihat Ahli Hadits, seakan aku melihat seorang dari Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 109) Ini menunjukkan betapa tinggi penghargaan beliau kepada para Ahli Hadits.
     Imam As-Syafi`ie menyatakan: “Sungguh seandainya seseorang itu ditimpa dengan berbagai amalan yang dilarang oleh Allah selain dosa syirik, lebih baik baginya daripada dia mempelajari ilmu kalam.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 111)
Beliau menyatakan juga: “Seandainya manusia itu mengerti bahaya yang ada dalam Ilmu Kalam dan hawa nafsu, niscaya dia akan lari daripadanya seperti dia lari dari macan.”
    Ini menunjukkan betapa anti patinya beliau terhadap Ilmu Kalam, suatu ilmu yang membahas perkara Tauhid dengan metode pembahasan ilmu filsafat.
    Diriwayatkan oleh Ar-Rabi’ bin Sulaiman bahwa dia menyatakan: Aku mendengar As-Syafi`ie berkata:
“Barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka sungguh dia telah kafir.” ((HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 113)
    Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim Al-Asfahani bahwa Al-Imam As-Syafi`ie telah mengkafirkan seorang tokoh ahli Ilmu Kalam yang terkenal dengan nama Hafs Al-Fardi, karena dia menyatakan di hadapan beliau bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. Demikian tegas Imam As-Syafi`ie dalam menilai mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Dan memang para Ulama’ Ahlis Sunnah wal Jama’ah telah sepakat untuk mengkafirkan siapa yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu makhluk.
     Al-Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan pula dengan sanadnya dari Al-Buwaithie yang menyatakan: “Aku bertanya kepada As-Syafi`ie: <Bolehkah aku shalat di belakang imam yang Rafidli?> Maka beliau pun menjawabnya: <Jangan engkau shalat di belakang imam yang Rafidli, ataupun Qadari ataupun Murji’ie>. Akupun bertanya lagi kepada beliau: <Terangkan kepadaku tentang siapakah masing-masing dari mereka itu?> Maka beliau pun menjawab: <Barang siapa yang mengatakan bahwa iman itu hanya perkataan lisan dan hati belaka, maka dia itu adalah murji’ie; barangsiapa yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar itu bukan Imamnya Muslimin, maka dia itu adalah rafidli. Barangsiapa yang mengatakan bahwa kehendak berbuat itu sepenuhnya dari dirinya (yakni tidak meyakini bahwa kehendak berbuat itu diciptakan oleh Allah ), maka dia itu adalah qadari>.”
     Demikian Imam As-Syafi`i mengajarkan sikap terhadap Ahlil Bid’ah seperti yang disebutkan contohnya dalam pernyataan beliau, yaitu orang-orang yang mengikuti aliran Rafidlah yang di Indonesia sering dinamakan Syi’ah. Aliran Syiah terkenal dengan sikap kebencian mereka kepada para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , khususnya Abu Bakar dan Umar. Di samping Rafidlah, masih ada aliran bid’ah lainnya seperti Qadariyah yaitu aliran pemahaman yang menolak beriman kepada rukun iman yang keenam (yaitu keimanan kepada adanya taqdir Allah Ta`ala). Juga aliran Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu hanya keyakinan yang ada di hati dan amalan itu tidak termasuk dari iman. Murji’ah juga menyatakan bahwa iman itu tidak bertambah dengan perbuatan ketaatan kepada Allah dan tidak pula berkurang dengan kemaksiatan kepada Allah. Semua ini adalah pemikiran sesat, yang menjadi alasan bagi Imam As-Syafi`ie untuk melarang orang shalat di belakang imam yang berpandangan dengan salah satu dari pemikiran-pemikiran sesat ini.
     Imam As-Syafi`ie juga amat keras menganjurkan ummat Islam untuk jangan ber taqlid (yakni mengikut dengan membabi buta) kepada seseorang pun sehingga meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika pendapat orang yang diikutinya itu menyelisihi pendapat keduanya.

Hal ini dinyatakan oleh beliau dalam beberapa pesan sebagai berikut:
     Al-Hafidh Abu Nu`aim Al-Asfahani meriwayatkan dalam Hilyah nya dengan sanad yang shahih riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, katanya: “Ayahku telah menceritakan kepadaku bahwa Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie berkata: <Wahai Aba Abdillah (yakni Ahmad bin Hanbal), engkau lebih mengetahui hadits-hadits shahih dari kami. Maka bila ada hadits yang shahih, beritahukanlah kepadaku sehingga aku akan bermadzhab dengannya. Sama saja bagiku, apakah perawinya itu orang Kufah, ataukah orang Basrah, ataukah orang Syam>.”
     Demikianlah para Ulama’ bersikap tawadlu’ sebagai kepribadian utama mereka. Sehingga tidak menjadi masalah bagi mereka bila guru mengambil manfaat dari muridnya dan muridnya yang diambil manfaat oleh gurunya tidak pula kemudian menjadi congkak dengannya. Tetap saja sang murid mengakui dan mengambil manfaat dari gurunya, meskipun sang guru mengakui di depan umum tentang ketinggian ilmu si murid. Guru-guru utama Imam Asy Syafi`ie, Imam Malik dan Imam Sufyan bin Uyainah, dengan terang-terangan mengakui keutamaan ilmu As-Syafi`ie. Bahkan Imam Sufyan bin Uyainah banyak bertanya kepada Imam Asy-Syafi`ie saat Imam Syafi’ie ada di majelisnya. Padahal Imam Asy-Syafi`ie duduk di majelis itu sebagai salah satu murid beliau, dan bersama para hadirin yang lainnya, mereka selalu mengerumuni Imam Sufyan untuk menimba ilmu daripadanya. Tetapi meskipun demikian, Imam Syafi`ie tidak terpengaruh oleh sanjungan gurunya. Beliau tetap mendatangi majelis gurunya dan memuliakannya. Di samping itu, hal yang amat penting pula dari pernyataan Imam Asy-Syafi`ie kepada Imam Ahmad bin Hanbal tersebut di atas, menunjukkan kepada kita betapa kuatnya semangat beliau dalam merujuk kepada hadits shahih untuk menjadi pegangan dalam bermadzhab, dari manapun hadits shahih itu berasal.
     Imam Asy-Syafi`ie menyatakan pula: “Semua hadits yang dari Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam maka itu adalah sebagai omonganku. Walaupun kalian tidak mendengarnya dariku.”
Demikian beliau memberikan patokan kepada para murid beliau, bahwa hadits shahih itu adalah dalil yang sah bagi segala pendapat dalam agama ini. Maka pendapat dari siapapun bila menyelisihi hadits yang shahih, tentu tidak akan bisa menggugurkan hadits shahih itu. Bahkan sebaliknya, pendapat yang demikianlah yang harus digugurkan dengan adanya hadits shahih yang menyelisihinya.

P e n u t u p :
Masih banyak mutiara hikmah yang ingin kami tuangkan dalam tulisan ini dari peri hidup Imam Asy-Syafi`ie. Namun dalam kesempatan ini, rasanya tidak cukup halaman yang tersedia untuk memuat segala kemilau mutiara hikmah peri hidup beliau itu. Bahkan telah ditulis oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah kitab-kitab tebal yang berisi untaian mutiara hikmah peri hidup Imam besar ini. Seperti Al-Imam Al-Baihaqi menulis kitab Manaqibus Syafi`ie , juga Ar-Razi menulis kitab dengan judul yang sama. Kemudian Ibnu Abi Hatim menulis kitab berjudul Aadaabus Syaafi’ie . Dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu semua menunjukkan kepada kita, betapa agungnya Imam besar ini di mata para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah Ta`ala menggabungkan kita di barisan mereka di hari kiamat nanti. Amin ya Mujibas sa’ilin .



S
Sumber:
http://alghuroba.org/

Sunday, April 1, 2012

Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu?

     Nah, saudara. Agak Islami lagi nih. Semoga tidak pernah alergi dengan hal-hal yang berbau Islam, utamanya bagi pemeluknya yang di KTP-nya masih tercantum agama Islam. Seringkali ditengah-tengah kita, kita bingung, apakah menyentuh wanita ataukah lelaki setelah berwudhu itu membatalkan wudhu kita. berikut jawabannya dalam artikel milik muslim.or.id

Friday, March 30, 2012

Mana yang Lebih dahulu, Bahasa atau Berpikir?

     Kridalaksana (2009: 24) meyatakan bahwa bahasa adalah system lambang bunyi yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Chaer (2009: 51) menambahkan bahwa berbahasa merupakan penyampaian pikiran atau perasaan dari orang yang berbicara mengenai masalah yang dihadapi dalam kehidupan budayanya. Jadi, kesimpulannya ialah bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi, sedangkan berbahasa adalah proses penyampaian informasi dalam berkomunikasi itu (Chaer, 2009: 30).

Thursday, March 29, 2012

Strategi Pembelajaran Kontekstual, Apa itu?

     “Dalam pembelajaran ini, siswa tidak dianggap sebagai gelas kosong yang harus diisi dengan ilmu pengetahuan. Namun, siswa diperlakukan sebagai tumbuhan yang harus disirami dan di bantu untuk tumbuh mencari ilmu sendiri.”
Saudara sekalian. Apakah Anda hendak menjadi guru nantinya? Atau dengan kata lain, mungkin ingin menjadi pengajar, dsb. Ada baiknya ketika telah merealisasikan cita-cita tersebut, Anda mengaplikasikan strategi mengajar berikut ini. Strategi tersebut bernama, “Pembelajaran kontekstual” atau dalam bahasa Inggris kita kenal dengan nama “Contekstual Teaching and Learning”.

Wednesday, March 28, 2012

Pemimpin yang Ideal, Masih Adakah?

Bismillah,

     Sebelumnya, kubertanya padamu wahai saudaraku, bagaimanakah pemimpin yang Engkau dambakan? Tampankah? Cantikkah? Perhatiankah? Atau…?
     Bukan memberontak, namun coba Engkau wahai saudaraku ikuti sampai habis kisah seorang pemimpin berikut ini. Waktu untuk membacanya hanya sekitaran sepuluh menit kalau Engkau mau bersabar wahai saudaraku. Dan coba Engkau komparasikan dengan pemimpin yang ada di dunia bahkan di negara yang kita cintai ini. Beginikah sosok pemimpin yang kita cita-citakan? Kita damba-dambakan? Yang mungkin melebihi idealitas kepemimpinan yang ada dalam buku filsafat dan semacamnya. Insya Allah semoga ada nanti (doakan semoga di pemilu terdekat nanti) pemimpin seperti ini.

Sunday, March 25, 2012

Mengapa Mesti Mencelah Hujan?

   “Hujan mi sede’, akhhh stresku!”, “mdd… baru kie sudah mencuci, hujan mi, argggg!”, “Awwa, kenapa ko hujan!? Mau ma lagi pergi malam mingguan?”, “we kasiank, kenapa hujan terus, tidak ada mi ini sapake kuliah!!?”
    Hehe… Kalimat demi kalimat kekesalan atau pun kegalauan tersebut tak jarang kita dengarkan, baik dari teman-teman sekelas, saudara, keluarga, atau bahkan mendengar dari diri sendiri. Wajarlah, apabila mentari sangat dinantikan kehadirannya atau pun cuaca cerah kiranya, eh,  awan menggumpal kehitaman yang datang membawa sebulir hujan dkk. untuk membasahi bumi. Tak pelak, ungkapan-ungkapan kekesalan itu meluncur keluar begitu saja.
    Nah, giliran matahari terus bergaya memamerkan sinarnya hingga sore menjelang petang, eh kita malah bilang “panassssss….”, “serasa kayak di neraka saja panasnya”-memang pernah ke sana, hehe-, ada lagi nih, “wah ini oven atau kamar?”, “we… hujan lalo ko…”. Haha… dasar memang kitanya mungkin yang tidak konsisten, sebenarnya mau cuaca yang bagaimana sih?
    Nah, beberapa waktu lalu, penulis datang ke sebuah taklim yang membahas persoalan hujan. Nah berikut beberapa penjelasan yang mencerahkan agar kita bisa berdamai dengan makhluk ciptaan tuhan bernama “hujan” tersebut.
    Saudaraku, hujan yang dari dulu kita selalu celah, ternyata merupakan rezeki dari Allah Swt. Tidakkah engkau percaya? Dalam Firman-Nya:
Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah: 22)
Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kalian, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kalian mengembalakan ternak kalian.” (QS. An-Nahl: 10)
Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan Dia menyebarkan rahmat-Nya.” (QS. Asy-Syuraa: 28)
     Mengakui bahwa hujan itu adalah karunia Allah merupakan salah satu ciri orang yang beriman. Dari Zaid bin Khalid Al-Juhaini radhiallahu anhu dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin kami shalat subuh di Hudaibiah di atas bekas-bekas hujan yang turun pada malam harinya. Setelah selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak lalu bersabda, “Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?” mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “(Allah berfirman), “Subuh hari ini ada hamba-hambaKu yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang berkata, “Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya,” maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata, “(Hujan turun disebabkan) bintang ini atau itu,” maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR. Al-Bukhari no. 1038)
    Saudaraku, ternyata pada waktu hujan itu, merupakan salah satu waktu yang mustajab (manjur) agar doa dikabulkan. Hadits dari Imam Syafii dan Baihaki, yang disahihkan Syekh AlBani berbunyi:
Carilah doa yang mustajab pada 3 keadaan yaitu: bertemunya dua pasukan, menjelang salat dilaksanakan, dan pada saat turunnya hujan.”
    Lalu, ketika kita sudah tahu bahwa hujan adalah nikmat yang luar biasa serta GRATIS dikaruniakan untuk kita dari Allah, masihkah kita mau mencelahnya? Seharusnya, yang kita lakukan ialah berdoa dan mensyukuri nikmat tersebut.
    Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat hujan, maka beliau berdoa, “ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI’AN (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang deras lagi bermanfaat).” (HR. Al-Bukhari no. 1032)
    Hujan… hujan…
    Yah saudaraku, mari bersama-sama menghilangkan kebiasaan buruk kita mencelah dan tidak mensyukuri nikmat hujan ini karena "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf [50] : 18).
     Semoga, ketika hujan turun, kita dapat berkata “Alhamdulillah, masih bisa ka lihat lagi hujan.”, “wuih, hujan membawa kesejukan!”. “semoga hujan ini menghapuskan dan meluluhkan dosa-dosaku ketika butiran-butirannya membasahi tubuhku.” Dsb. Karena, ketika kita bersyukur, maka Ia senantia menambah dan menambahnya. Namun tatkala kita kufur dan tak bersyukur, maka tunggulah Azab-Nya.

25 Maret 2012
Hapuskanlah dosa kami dari air-Mu, dari embun-Mu, dari salju-Mu, dan dari hujan-Mu yaa Rabb

Sumber:
Ust. Slamet. 20 Mei 2012. Taklim Ar Rahmah.
http://al-atsariyyah.com/hujan-dalam-syariat-islam.html
http://katamanis-katamanis.blogspot.com/2011/11/jangan-mencela-hujan.html
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTEuqDGxgVUFNplqIlWSzqmHRw3B1c5Bop2P8QKhSo0zIrfS-OYSOngFSz3qcGyDxgzuEpaXcq9h_DbKrgUI3hiq28jeQa-i1JwS81gaE1Ahv-prHGWSOka283G7lM5nGCUtHWWYrNua4/s1600/Where_Rain_Grows_by_x_horizon.jpg

Friday, March 23, 2012

Mari Memasak dan Makan Mi dengan Cara yang Sehat

       A..ha.. Mi. Pasti Saudara tahu dua huruf yang berjejeran rapi tersebut. Kata yang sangat mudah diucapkan dan menggugah selerah, bukan begitu saudara?  Jauh dari keluarga berarti jauh dari sayur dan ikan (pada umumnya). Jadilah mi sebagai makanan favorit dan kegemaran. Khususnya yang berstatus sebagai mahasiswa dan anak indekos (kos-kosan).
       Permasalahannya adalah ada-ada saja orang yang meragukan makanan yang lezat, super murah, dan bergizi ini. Dengan alasan bahwa mengkomsumsinya mengakibatkan efek samping dan berbagai macam penyakit (selengkapnya, tanyakan kepada Prof. Google). Nah, untuk menghilangkan keraguan Saudara dan menghemat kantong Saudara, maka mari makan mi dengan cara yang sehat sebagai berikut:

1. Rebus air dalam panci sampai mendidih, ingat sampai mendidih (ini bukan telur setengah mendidih/matang).

2. Setelah mendidih, masukkan Mi (terserah mau mereknya apa).

3. Aduk-aduk mi ± 1,5 menit yang pertama
Setelah mi dimasukkan ke panci, maka aduk-aduklah mi selama ± 1,5 menit, agar bahan-bahan kimia yang ada dalam mi instan rontok misalnya lilin, zat pewarna, zat pengawet, dan ratusan lagi zat-zat kimia lain yang berbahaya bagi tubuh kita.

4. Buang air rebusan mi yang pertama. Air yang kekuningan (katanya: coba cek untuk pastinya Prof. Google) merupakan bahan kimia yang rontok.

5. Masukkan lagi ke dalam air dingin dan di rebus lagi untuk yang kedua kalinya. Dengan waktu dan tempat yang sama. Agar bahan kimianya semakin rontok. Aduk terus minya.

6. Angkat lalu tiriskan kemudian mi siap untuk dihidangkan.
Jika selesai, mi siap dihidangkan (kalau minya adalah mi goreng). Namun kalau minya adalah mi kuamoh, maka air yang kedua tak perlu dibuang, cukup itu saja. Atau untuk lebih amannya, mari masak lagi. eh, jangan lupa tambah sayur, telur, dll agar lebih enak.
Semoga bermanfaat, :)

Sumber :
http://bambang-gene.blogspot.com/2011/03/cara-memasak-mie-instant-yang-baik-dan.html#ixzz1pqIaZ9YS
http://images.detik.com/content/2010/10/11/294/miinstanctt.jpg

Thursday, March 22, 2012

Nikah dan Syarat-Syaratnya

        Nikah secara bahasa berarti menghubungkan atau mengumpulkan antara dua hal. Nikah juga disebut akad atau ikatan. Adapun nikah secara istilah adalah akad yang diungkapkan dengan lafadz inkah (menikah) atau tazwij (kawin) secara umum. Perempuan yang dinikahi akan menjadi teman hidup bagi mempelai laki-laki.
        Di dalam pernikahan, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syarat tersebut berjumlah empat. Syarat yang pertama ialah adanya calon suami dan istri. Syarat ini adalah syarat yang paling utama. Tidak ada pernikahan tanpa ada pasangan. Apabila ada, pasti namanya bukan pernikahan.
Syarat yang kedua ialah keridhaan suami dan istri. Tidak boleh memaksa salah satu dari keduanya untuk menikah. Gadis atau janda harus dimintai izinnya. Karena ini bukan zaman Siti Nurbayah. Izin tersebut berupa sikap diam bagi gadis dan berupa perkataan bagi janda. Hal ini tidak disyaratkan bagi pasangan yang gila dan bisu.
        Syarat yang ketiga ialah adanya wali. Wali di sini bukan berarti sekelompok pemuda yang menyanyikan lagi “Jodi (Jomblo Ditinggal Mati” di atas panggung. Namun wali di sini berarti pengasuh pengantin perempuan pada waktu menikah. Wali yang utama dan pertama ialah orang tua (ayah) dari pengantin perempuan tersebut. Wali yang paling terakhir ialah pemerintah. Wali bukan juga tukang becak yang diberi uang untuk dijadikan wali pernikahan.
       Syarat yang terkhir ialah saksi. Saksi adalah orang yg dimintai hadir pada suatu peristiwa yang dianggap mengetahui kejadian tersebut agar pada suatu ketika, apabila diperlukan, dapat memberikan keterangan yg membenarkan bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi. Tidak sah nikah bila tanpa dua orang saksi yang adil. Saksi tersebut adalah laki-laki dan sudah dewasa.
       Demikianlah pembahasan mengenai pengertian menikah dan syarat-syaratnya. Semua syarat-syarat di atas harus terpenuhi agar pernikahan menjadi sah. Karena setiap syarat sangat erat kaitannya dengan syarat yang lain.




Sekadar Catatan dari Orang yang Ingin Menikah:
Lebih baik menikah dahulu kemudian pacaran, bukan sebaliknya. Karena pacaran setelah menikah jauh lebih nikmat rasanya, insya Allah. Adapun yang telah pacaran dihimbau untuk segera menikah sesuai tuntunan agama agar semuanya menjadi pahala bukan dosa. Wallahu A’lam.

Sumber pustaka:
As-sadlan, Shalih bin Ghanim dan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. 2009.    Intisari Fiqih Islam. Surabaya: Elba.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhr-zfPwwv8svwqOq24p-hhiZbh-5sNvAsbr2DFc6GeUXW9chyoncl49QMOb7tIw5h4soKL_YxlEcsNpXjtbDLEGY_Bs2BsYNMUuApzQk-8uUBrIrM2rQ68Kll0SqS6CYPayJBjZhPaOX4Y/s1600/cincin-kawin-cianjur2%5B1%5D.jpg

Aku dan Tubuhku di antara Neraka

Aku bertanya pada mataku,
“Wahai Mata, maukah engkau masuk neraka?”
Ia menjawab, “Tidak tuanku!”
“Maka jagalah setiap pandanganmu!” Balasku.

Lalu, aku bertanya pada lidahku,
“Wahai Lidah, maukah engkau masuk neraka?”
Ia menjawab, “Tidak tuanku!”
“Maka jagalah setiap lisanmu!” Balasku.

Kemudian aku bertanya pada telingaku,
“Wahai Telinga, maukah engkau masuk neraka?”
Ia menjawab, “Tidak tuanku!”
“Maka jagalah setiap pendengaranmu!” Balasku.

Setelah itu, aku bertanya pada kulitku,
“Wahai Kulit, maukah engkau masuk neraka?”
Ia menjawab, “Tidak tuanku!”
“Maka jagalah setiap sentuhanmu!” Balasku
.
Aku pun bertanya pada yang lain dan jawabannya semuanya sama, mereka semua berkata, “Tidak tuanku!”
Karena baik diriku dan setiap jengkal dari tubuhku, semua akan dimintai pertanggungjawaban!!!

18 Maret 2012
Segelas minuman hangat bernama “INTROSPEKSI”

Friday, March 16, 2012

Membaca Kisah Hidup Generasi Salaf Sebagai Solusi Meningkatkan Motivasi Belajar

PENDAHULUAN
Latar Belakang
       Ilmu dan pengetahuan agama Islam merupakan kebutuhan primer bagi setiap muslim. Ilmu dan pengetahuan tersebut dapat diperoleh dengan belajar. Oleh karena itu, memelajarinya merupakan suatu kewajiban bagi setiap Islam agar dapat dijadikan tuntunan dalam kehidupan sehari-hari. Pada hakikatnya, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh mendekatkan diri pada Allah Swt sebagai Tuhan yang menciptakan ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Sehubungan dengan itu, At-tsauri dalam Al-Muhaimid (2006: 194) berkata bahwa tidaklah seseorang mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada ilmu yang bisa meningkatkan rasa butuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
       Katsir dalam Al-Muhaimid (2006: 200) mengatakan bahwa ilmu tidak akan datang dengan tubuh yang santai. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa memelajari agama Islam membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Memelajarinya juga membutuhkan pengorbanan yang besar karena memang ilmu itu mahal harganya. Di samping itu, guru yang baik juga merupakan salah satu faktor agar ilmu dapat tersalurkan dengan baik pula. Al-Utsaimin (2005: 10) menambahkan bahwa ketika ilmu sudah dipelajari, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan ialah mengamalkan, mendakwahkannya, dan bersabar terhadap gangguan di dalamnya.
Kurangnya semangat dan motivasi untuk memelajarinya merupakan sekian penyebab mengapa ilmu agama tersingkirkan. Dampaknya, dominan orang-orang tidak lagi menggunakan ilmu agama sebagai alat ukur untuk menyelesaikan masalah di dunia ini. Yang terjadi ialah umat Islam di zaman sekarang sedang mengalami kelemahan daan perpecahan yang menjadikannya berada di belakang rombongan perjalanan umat-umat kafir (Al-Hilali, 2009: 8).
       Basyier (2011) menjelaskan bahwa mudarat yang lebih besar ketika tidak memelajari agama ini dan mengaplikasikannya ialah suatu negeri menjadi begitu rapuh karena elemen masyarakatnya tidak saling percaya, tidak saling menghormati, dan tidak saling mendukung untuk membangun. Negeri tersebut akan semakin rapuh karena rakyat dan pemimpinnya tidak bahu membahu. Belia manambahkan bahwa negeri itu seolah dililit benang kusut krisis yang tidak diketahui di mana ujung akhirnya.
       Pendidikan agama Islam memang telah diajarkan di bangku sekolah, namun hasilnya sangat jauh dari yang diharapkan. Apatah lagi, para pembelajar lebih gemar memelajari ilmu eksak maupun bahasa asing tinimbang memelajari ilmu agama Islam. Hal itu karena pembelajaran agama Islam tidak diselingi oleh kisah-kisah para salaf.
       Secara bahasa salaf berarti sesuatu atau orang-orang terdahulu. Generasi salaf ialah generasi emas orang-orang terdahulu. Al-Muhaimid (2006: 45) mengatakan bahwa kisah-kisah mereka di dalamnya terdapat penyucian karakter, pelembutan jiwa, pemantapan iman, dan pemandangan nyata mengenai komitmen terhadap agama. dan boleh dikatakan sejarah hidup mereka adalah figur yang bisa dijadikan sebagai contoh atau teladan dalam segala hal. Membicarakan kehidupan generasi seperti mereka akan menghidupkan hati dan membangkitkan semangat.
       Sehubungan dengan hal di atas maka sangat penting jika masalah ini dijadikan karya tulis ilmiah. “Membaca Kisah Hidup Generasi Salaf Sebagai Solusi Meningkatkan Motivasi Belajar” merupakan judul yang penulis angkat sebagai karya tulis yang menawarkan metode baru yang lebih mutakhir untuk memecahkan masalah tersebut.
Tujuan Penulisan
       Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan karya tulis ini adalah untuk mengetahui cara menigkatkan motivasi belajar agama Islam dengan membaca sejarah hidup generasi salaf.
Manfaat yang Ingin Dicapai
    Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam gagasan ini yaitu:
1.    Bagi pembelajar agama Islam, karya tulis ini dapat dijadikan tambahan metode baru dalam meningkatkan motivasi belajar.
2.    Menjadi masukan bagi pemerintah untuk dapat dijadikan tambahan metode dalam meningkatkan  motivasi belajar agama Islam dengan mensosialisasikannya ke masyarakat.
3.    Bagi umat Islam, karya tulis ini dapat dijadikan solusi untuk terus bersemangat memelajari agama Islam.
Kajian Teoritis
Pengertian Motivasi
       Motivasi menurut Sahabuddin dalam Annisa (2011: 6) berasal dari kata motus, movere = tc move yang didefinisikan oleh ahli-ahli psikologi sebagai gejala yang meliputi dorongan dan perilaku mencari tujuan pribadi; kecendrungan untuk melakukan kegiatan yang berawal dengan stimulus atau dorongan yang kuat. Sehubungan dengan itu, pengertian motivasi dalam KBBIofline (Kamus Besar Bahasa Indonesia ofline, 2010) ialah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Pengertian lainnya yaitu usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
      Fungsi motivasi ada bermacam-mcam, diantaranya:
1.    Motivasi mempunyai fungsi yang penting dalam belajar, karena motivasi akan menentukan intensitas usaha belajar yang dilakukan siswa. Para siswa yang memiliki motivasi yang tinggi, belajarnya lebih baik dibandingkan dgn siswa yang motivasi rendah. Hal ini dapat dipahami, karena siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan tekun belajar dan terus belajar secara kontinu tanpa mengenal putus asa serta dapat mengesampingkan hal-hal yang dapat menganggu kegiatan belajar yang dilakukan (Annisa, 2011: 6)
2.    Motivasi sebagai daya penggerak. Motivasi mempunyai daya penggerak yang besar biasanya ialah motivasi intrinsik. Motivasi yang sehat perlu ditumbuhkan secara integral di dalam dunia belajar, yang di ambil dari dalam suatu sistem nilai lingkungan hidup pelajar dan ditujukan pada penjelasan tugas-tugas dari pelajar itu (Salam (2004: 7).
       Melihat dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan yang kuat dalam diri pribadi seseorang untuk melakukan tindakan tertentu agar tujuannya tercapai.
Pengertian Belajar
       Ajar merupakan kata dasar dari belajar yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui. Jadi belajar berarti berusaha memeroleh kepandaian atau ilmu; berlatih; berupa tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBIofline, 2010).
       Salam (2004: 3) mengatakan “Para pedagog dan psikolog berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses perubahan perilaku. Prilaku mengundang arti yang sangat luas meliputi pengetahuan kemampuan berpikir, skill/keterampilan, penghargaan terhadap sesuatu sikap, minat, dan semacamnya.” Salam menambahkan bahwa belajar adalah mengalami. Dengan mengalami pelajaran menghayati sesuatu aktual yang akan menimbulkan respons tertentu antara lain: perubahan tingkah laku, sistem nilai perubahan konsep-konsep (pengertian) dan kekayaan informasi (pengajaran) (Salam, 2004: 8.).
       Belajar adalah suatu usaha perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh, dengan sistematis, mendayagunakan semua potensi yang dimiliki, baik fisik, mental serta dana, panca indra, otak, dan anggota tubuh lainnya, demikian pula aspek-aspek kejiwaan seperti intelegensi, bakat, motivasi, minat, dsb. (Dalyono dalam Musyaraffah, dkk., 2008). Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan (Syah dalam Musyaraffah, dkk., 2008). Jadi, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses memeroleh ilmu dan berlatih melalui pengalaman.
Pengertian Motivasi Belajar
       Motivasi belajar merupakan faktor inner (batin) yang berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan pelajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesakn belajarnya (Dalyono Musyaraffah, dkk., 2008).
Sahabuddin (2007 ) mengatakan:
       “Motif belajar adalah sesuatu yang mendorong individu untuk berprilaku yang langsung menyebabkan munculnya prilaku. Tanpa motif seseorang tak dapat belajar, karena dengan hal tersebut dapat memberi semangat dan arah dalam belajar. Karena motif merupakan keinginan yang akan dipenuhi/ dipuaskan, maka ia timbul bila ada ransangan, baaik karena adanya kebutuhan (needs), maupun adanya minat (interest) terhadap sesuatu.”
       Menurut Sahabuddin (2007: 141) motivasi dikatakan berperan dalam belajar karena motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
a.    Motivasi menentukan tingkat berhasil atau tidaknya kegiatan peserta didik. Belajar tanpa motivasi akan sulit mencapai hasil yang optimal.
b.    Pembelajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada diri peserta didik.
c.    Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan mendayagunakan motivasi dalam proses pembelajaran berkaitan dengan upaya pembinanaan disiplin kelas, masalah disiplin kelas dapat timbul karena kegagalan dalam pergerakan motivasi belajar.
       Siswa yang termotivasi dalam belajarnya dapat dilihat dari karaktrer tingkah laku yang menyangkut minat, ketajaman, perhatian, konsentrasi, dan ketekunan. Sahabuddin dalam Annisa (2011: 7). Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah dorongan kuat dalam diri seseorang untuk memeroleh ilmu dan berlatih melalui pengalaman.
Pengertian Agama  Islam
       Agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusi serta lingkungannya (KBBIofline, 2010). Islam sendiri berarti agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw berpedoman kepada kitab Alquran yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah Swt.
      Sejalan dengan hal tersebut, menurut Utsaimin (2005, 106-107) Agama Islam ialah penyerahan diri kepada Allah dengan bertauhid, ketundukan kepada-Nya dengan menaatinya, dan pembebasan diri dari syirik dan orang-orang musyrik. Dapat disimpulkan bahwa Agama Islam adalah agama yang memercayai satu Tuhan bernama Allah dan kitab pegangannya ialah Alquran serta nabi pembawanya ialah Nabi Muhammad saw.
Pengertian Membaca
      Membaca diambil dari kata dasar baca. Baca atau pun membaca sama-sama berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati); mengaja atau melafalkan apa yang tertulis; mengucapkan; mengetahui; memperhitungkan; memahami (KBBIofline, 2010). Tarigan sendiri mengemukakan pendapat bahwa membaca adalah proses pemerolehan pesan yang disampaikan oleh seorang penulis melalui tulisan (Tarigan, 1985).
Ahuja dan Ahuja (2010: 5) mengatakan:
       “Membaca adalah sebuah karya cita masyarakat. Orang menulis, pertama-tama, ketika mereka merasa perlu mengkomunikasikan gagasan-gagasannya dalam bentuk yang lebih permanen daripada bentuk tuturan atau ujaran. Kemudian, secara serempak, mereka merasakan kebutuhan untuk menginterpretasikan simbol-simbol tertulis melalui sebuah proses yang kemudian disebut membaca.”
       Melihat beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah aktivitas yang dilakukan untuk  melihat dan memahami pesan yang disampaikan oleh penulis dalam tulisannya.
Pengertian Generasi Salaf
       Salaf secara bahasa (KBBIofline, 2010) berarti sesuatu atau orang terdahulu. Ada pun salaf saleh adalah ulama-ulama terdahulu yang saleh. Sejalan dengan pengertian tersebut, salaf berarti generasi pertama dari kalangan sahabat Nabi Muhammad saw. dan tabiin (generai setelah sahabat) yang berada di atas fitrah yang selamat dan bersih dengan wahyu Allah (Wikipedia).
      Al-Muhaimid dalam bukunya (2006: 44) mengatakan bahwa kehidupan generasi salaf mengandung banyak sekali pelajaran yang berharga, petuah yang baik, petunjuk dan cahaya, kemenangan dan keberuntungan, kebahagiaan dan kesuksesan. Di dalamnya terdapat penyucian karakter, pelembutan jiwa, pemantapan iman, dan pemandangan nyata mengenai komitmen terhadap agama. Dapat dikatakan bahwa sejarah hidup generasi salaf adalah figur yang bisa dijadikan sebagai contoh dan tauladan dalam segala hal.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Basya (2011) bahwa generasi salaf adalah generasi yang menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa, kisah-kisah yang sangat menakjubkan yang belum tertandingi hingga hari ini. Basya menambahkan bahwa dengan membaca sejara generasi salaf tidak hanya mendapat segala keyakinan dan perangai yang layak untuk diteladani, namun juga mendapatkan ilmu fikih. Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa generasi salaf adalah generasi orang-orang terdahulu yang mempunyai kisah-kisah luar biasa yang patut dijadikan inspirasi dan pelajaran.
GAGASAN
Kondisi Kekinian Pendidikan Agama Islam
       Ilmu agama Islam yang sejatinya menjadi penuntun bagi umat Islam dalam mejalankan roda kehidupan sehari-sehari perlahan-perlahan mulai tersingkirkan dan terlupakan. Padahal, ilmu tersebut mengajarkan bagaimana membedakan suatu perkara yang baik dan yang buruk. Akibatnya, orang tidak memelajarinya akan tenggelam dalam keragu-raguan dan bingung memilih antara perkara yang baik dan perkara yang buruk tersebut.
       Ilmu agama Islam sekarang menjadi pembelajaran pada nomor kesekian bagi umat Islam. Mempelajarinya hanya sekadar formalitas saja. Mengapa demikian? Karena umat Islam sekarang lebih senang memelajari ilmu dunia sembari mempersiapkan dunianya agar lebih baik lagi ke depannya. Namun, mereka lupa mempersiapkan kematiaannya karena saking sibuknya dalam mempersiapkan dunianya.
Akhirnya apa yang terjadi ketika tidak memelajari dan meninggalkan pelajaran yang sangat penting bagi dunia dan akhirat ini ialah suatu kehancuran. Realitas kehidupan dunia sekarang sungguh jauh dari idealitas dalam agama Islam. Umat Islam begitu rapuh sehingga mudah diadu domba. Setiap elemennya tak lagi saling percaya dan saling menghormati. Antara pemimpin dan rakyat seakan tidak ada lagi kepercayaan dan sangat jauh kesenjangannya.
       Ilmu agama ini mengajarkan bagaimana berpakaian dengan baik. Namun realitasnya terjadi pameran aurat di mana-mana yang dilakukan oleh umat Islam. Agama ini mengajarkan bagaimana memimpin rakyat dan bagaimana menasihati pemimpin. Namun realitas yang terjadi ialah pemimpin memikirkan diri sendiri dan citra pribadi sedangkan rakyat meneriakkan hinaan bagi pemimpinnya. Masih banyak yang terjadi apabila tidak memelajari agama ini.
       Kurangnya kepedulian memelajari agama ini juga dipengaruhi oleh metode belajar yang dikembangkan guru pengampuh mata pelajaran agama. Itu terbukti dari pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari para pembelajarnya, sangat jauh dari teori yang diajarkan. Dan yang paling berpengaruh terhadap rendahnya kemauan untuk memelajari agama Islam ialah kurangnya motivasi. Kekurangan motivasi dalam memelajari agama Islam ialah kurangnya dorongan dari dalam diri pribadi untuk memelajari agama yan mulia ini. Untuk itu dibutuhkan suatu pemicu agar motivasi itu dan kembali lagi bahkan meninggi utntuk memelajari agama ini.
Solusi yang Pernah Ditawarkan Sebelumnya
       Banyak solusi yang pernah ditawarkan dari berbagai pihak untuk meningkatkan pendidikan agama Islam. Metode tersebut seperti metode “Jigsaw” (Anonim, 2011), memberikan jam tambahan pelajaran, memberikan ganjaran yang berupa pujian dan hadia, mengadakan persaingan atau kompetisi, memberikan ulangan, serta memberikan hukuman yang bersifat mendidik (Anonim, 2011). Namun hasil dari solusi-solusi tersebut tampak kurang memuaskan dan hanya bersifat sementara.
Gagasan Baru yang Ditawarkan
       Terdapat suatu cara yang dapat dilakukan agar semua hal di atas dapat diperbaiki dan kembali membuat umat Islam termotivasi lagi memelajari agamanya. Umat Islam harus belajar banyak kepada generasi salaf, generasi emas orang-orang terdahulu. Kisah-kisah mereka yang sudah banyak dituliskan merupakan kisah yang penuh inspirasi, menghidupkan hati, membangkitkan semangat,  dan sebagai referensi utama dalam menjalankan kehidupan dunia ini. Karena memang pengalaman adalah guru yang paling baik. Apatah lagi, pengalaman-pengalaman itu diperoleh dari generasi salaf yang merupakan teladan yang paling baik. Oleh karena itu, membaca sejarah hidup generasi salaf dapat menjadi solusi yang jitu untuk meningkatkan motivasi belajar agama Islam
       Membaca sejarah hidup generasi salaf merupakan jalan yang tepat untuk meningkatkan motivasi belajar agama Islam. Di dalamnya terdapat kisah-kisah orang-orang terdahulu yang memberikan semangat bagi jiwa yang lelah. Kisah-kisah yang membuat para pembacanya ingin menjalankan syariat agama dengan benar untuk mencapai janahnya. Mereka adalah generasi yang paling dekat dengan kehidupan Rasulullah saw orang yang paling mulia yang pernah lahir di dunia ini. Mereka adalah teladan-teladan yang baik dalam mengarungi hidup ini.
       Kehidupan para ulama salaf merupakan taman yang menumbuhkan begitu banyak hikma, petunjuk, pelajaran, dan cahaya. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah lelah memelajari agama ini. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah bosan untuk mengamalkan ilmunya. Mereka adalah orang yang tak pernah letih dalam mendakwahkan agama ini. Dan mereka adalah orang-orang yang selalu bersabar di atas jalan Allah. Sungguh pantas, kehidupan para generasi salaf dijadikan anutan agar umat Islam tak pernah berhenti dan lelah untuk memelajari agama mereka, agama Islam.
Pihak-pihak yang Mengimplementasikan dan Penerapannya
       Metode membaca sejarah generasi salaf ini dapat digunakan oleh guru pada saat ia dalam proses mengajar. Ketika para siswa sudah jenuh dalam memelajari teori-teori agama Islam, maka guru dapat mengambil inisiatif untuk membacakan kisah sejarah kehidupan para salaf agar dapat membangkitkan gairah mereka untuk kembali belajar agama. Metode ini juga sangat efektif digunakan untuk pejuang dakwah yang sedang lelah dalam menyuruh kepada kebaikan seta mencegah kepada kemungkaran. Apabila mereka membaca sejarah kehidupan para salaf, maka semangat mereka akan kembali penuh karena mereka mengingat kembali tujuan mereka berdakwah yaitu wajah Allah dan kebahagiaan abadi.
       Kisah-kisah para generasi salaf juga dapat dibawakan pada saat khotbah Jumat, ceramah, kultum, atau pun dijadikan bahan untuk memerikan nasihat bagi orang yang membutuhkannya. Metode membaca sejarah hidup generasi salaf juga dapat digunakan untuk umat Islam pada umumnya. Umat yang selalu merindukan wajah Allah dan surga-Nya yang begitu indah dan abadi. Kisah-kisah para salaf merupakan cara yang paling baik untuk mengingatkan alasan kita hidup di dunia ini. bahwasanya para salaf hanya mengganggap dunia ini adalah sekadar tempat berteduh sementara untuk pulang ke kampung halaman yang sesunggunya yaitu surga. Dan umat Islam seluruhnya pun harus melakukan hal yang sama terhadap apa yang dilakukan oleh para salaf.
KESIMPULAN
Inti Gagasan
       Membaca kisah hidup genarasi salaf merupakan metode yang jitu dan baik untuk meningkatkan motivasi belajar agama Islam. Dengan membaca kisah mereka, maka pembacanya dapat belajar dari pengalaman-pengalaman mereka serta mengambil pelajaran di dalamnya. Karena di dalam kisah mereka terdapat banyak hikma, petunjuk, dan teladan yang baik.
Teknik Implementasi Gagasan
       Metode membaca sejarah hidup generasi salaf dapat diaplikasikan kepada pembelajar agama Islam di sekolah, pejuang dakwah yang lelah dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, dan umat Islam pada umumnya. Kisah-kisah para generasi salaf juga dapat dibawakan pada saat khotbah Jumat, ceramah, kultum, atau pun dijadikan bahan untuk memerikan nasihat bagi orang yang membutuhkannya.
Prediksi Keberhasilan Gagasan
       Sehubungan dengan itu, motivasi belajar agama Islam akan meningkat apabila metode ini terus diterapkan dibandingkan dengan metode-metode sebelumnya. Cara atau pun metode ini memberikan semangat yang baru untuk belajar agama Islam ketika menerapkannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahuja, Pramila dan G.C. Ahuja. 2010. Membaca Secara Efektif dan Efisien. Jakarta: Kiblat.
Al-Hilali, Syaikh Salim bin ‘Ied. 2009. Umat Islam Dikepung dari Segala    Penjuru. Bogor:    Pustaka Darul Ilmi.
Al-Muhaimid, Shalih bin Abdul Aziz. 2006. 1000 Hikmah Ulama Salaf. Surabaya: Elba
Al-Ustsaimin, Muhammad bin Sholih. 2005. Syarah Tsalatsatul Ushul: Mengenal    Alloh,    Rosul dan Dinul Islam. Surakarta: Alqowam.
Annnisa, azizah mujahidah. 2011. Pembelajaran Berbasis E-Learning Sebagai Upaya    Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa. Makassar: tidak diterbitkan).
Anonim. 2011. Aplikasi Metode Jigsaw Guna Meningkatkan Motivasi    Pembelajaran    Pendidikan Agama Islam.    (http://www.lib4online.com/2011/05/aplikasi    metode;jigsaw    guna.html?m=1, diakses tanggal 7 Maret 2012).
Anonim. 2011. Upaya Guru Pendidikan agama Islam dalam Meningkatkan    Motivasi Belajar    Siswa.    (http://contohmakalahs.blogspot.com/2011/10/upaya-guru-pendidikan    agama-agama-Islam-dalam.html?m1, diakses tanggal 7 Maret 2012).
Anonim. 2012. Salaf. http://id.m.wikipedia.org/wiki/Salaf. Diakses tanggal 3 Februari 2012
Basya, Abdurrahman Ra’faat. 2011. Tabi’in. Solo: At-Tibyan.
Basyier, Abu Umar. 2011. Indonesia Negeri Para Pendengki. Surabaya: Shafa Republika.
Musyaraffah, dkk. 2008. Studi Tingkat Motivasi Belajar Siswa Kelas III Sman 1 Galesong    Utara Setelah Penambahan Mata Pelajaran Ujian Nasional (Un). Makassar: (tidak    diterbitkan).
Pusat Bahasa. 2010. Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline.
Salam. 2004. Cara Belajar yang Sukses di Perguruan Tinggi. Jakarta: Rineka    Cipta.
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.    Bandung:    Angkasa.

Thursday, March 15, 2012

Sa’ad Sang Pengantin Surga dan Nasihat Terakhir Sang Murobbi

       Masih kuat di relung ingatanku tentang peristiwa yang tergolong masih hangat yang baru terjadi itu. Tanggal 22 Januari 2012, aku dan teman sehalakahku berencana melakukan rihlah yang kedua di Galesong (sedang rihlah yang pertama juga di Galesong namun aku tidak bisa bergabung dikarenakan ada urusan di Asrama, tempatku dulu bernaung) yang buntutnya di ubah menjadi mabit (malam bina ilmu dan taqwah) di mesjid belakang kampus, Ar Rahma. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu dan para peserta sehalakahku tidak semuanya hadir.
       Kami adalah mahasiswa yang berstatus mutarobbi dari KKI (Kelompok Kajian Islam) Axel ’10 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sedangkan mutoarobbi kami bernama Ardian Kamal, S.Pd. atau lebih akrab disapa Ust. Ardian. Beliau mendapatkan gelar sarjananya pada jurusan Fisika di Universitas Negeri Makassar. Kami sang mutarobbi berasal dari berbagai fakultas di UNM, yang semula semuanya canggung dalam belajar karena belum akrab dan sekarang semua seperti saudara yang selalu bercanda dan saling menasihati. Itulah kami.
       Melihat keadaan yang tidak sesuai untuk rihlah, maka aku sarankan kepada teman sehalakah dan murobbi untuk di ubah menjadi mabit. Usul pun di terima dan kami mulai melaksanakan agenda. Kami akhirnya berkumpul dan bermusyawarah ba’da isya untuk melaksanakan kegiatan mabit. Agenda pertama ialah bakar-bakar ikan.
       Cuaca tak menentu malam itu. Kadang cerah dan langit mempertontonkan artis kesayangannya dengan cahaya yang kerlap-kerlip, namun kadang langit gelap ditutupi awang tebal lagi gelap seakan-akan mendakan bahwa langit juga malu untuk menyapa setia yang bernyawa di bumi. Sungguh aneh cuaca pada malam itu. walaupun dengan keadaan yang seperti itu, kami tetap melaksanakan agenda pertama, sekitar pukul 9.30. tugas pun di bagi, ada yang membersihkan ikan, ada yang mencari arang untuk bakar ikan, ada pula yang tugasnya membakar ikan tersebut, dan tak tanggung-tanggung ada pula membuat sambelnya,  pokoknya semua tenaga sebisa mungkin dimaksimalkan.
       Awalnya berjalan lancar, sampai beberapa teman datang malasnya untuk melakukan sesuatu. Wajarlah, kami semua berbeda watak dan sifatnya. Dengan keadaan itu ada pula teman yang menasehati dan akhirnya mereka kembali “tercerahkan”.
       Ikan pun siap di bakar. Arang telah jadi, tangan pun bisa hangus dengannya. Mulailah kami membakar ikan, dengan terlebih dahulu mengaturnya di permukaan tempat pembakaran. Seakan semua akan enak pada waktunya. Ternyata, tanpa di duga-duga, langit mulai memutuskan tali persahabatan, mulailah ia menghujani kami dengan air, mungkin ia sedih tentang perkara-perkara yang terjadi di dunia, atau mungkin juga memang sudah musimnya. Hujan membuat kami kelabakan serta kelimpungan. Apa yang harus kami perbuat? Haaa.
       Agar semua menjadi tidak kacau, kami berpikir secepat dan seefektif mungkin. Akhirnya kami memindahkan tempat pembakaran di sekitar tangga belakang mesjid. Namun tetap terkena hujan. Kalaulah dibiarkan terus menerus, apainya bisa padam, dan acara bakar ikan pun hancur. Ternyata ada ide untuk menaunginya dengan payung, sungguh cerdas. Albert Enstein pun tak akan berpikir sejauh itu. Membakar ikan disertai payung.
      Hujan pun redah, akhirnya kami memindah kembali tempat pembakaran ikan di halaman mesjid Ar-rahmah. Berulang kali langit berprilaku demikian, sehingga kami silih berganti memayungi pembakar ikan atau sebaliknya. Ikan pun susah masaknya. Di sinilah masalah bermula. Ada yang berinisiatif untuk menggorengnya, namun ada yang tetap bersikukuh untuk membakarnya. Belum lagi, ada yang hanya melihati kami membakar ikan. Semuanya hampir kacau diliputi ego masing-masing. Bayangkan, kami membakar ikan sekitar dua jam, dan ikannya tidak seberapa banyaknya, haaa. Dengan kesabaran, semua bisa jadi.
       Akhirnya, semua proses pembakaran ikan telah kami lalui. Walau ada juga yang menggorengnya, namun tak jadi masalah, yang penting kami bisa menyumbat mulut cacing yang sedari tadi berdemo dan melakukan aksi turun ke jalan-jalan di perut kami. Saat makan. Ternyata ikan bakarnya lumayanlah begitu pula ikan gorengnya, mantap. Namun yang paling dahsyat ialah sambelnya, super hot. Mamaku pun kalah jika ingin mengomparasikannya dengan buat teman sehalakahku. Wah, sunggu lezat.
       Karena semua berjalan dengan waktu yang sangat lama, maka murobbi kami berfatwa bahwa ia baru bisa memberikan materi esok hari. Semalaman hanya untuk membakar ikan, ckckck. Tak bisa kubayangkan, bagaimana seorang ulama dalam buku yang aku baca sangat memanfaatkan waktunya, sampai-sampai ia meminta agar makanannya dihaluskan terlebih dahulu sebelum ia makan karena ia merasa terlalu banyak waktu yang dibuang untuk sekadar makan, hm. Lalu kami di sini, melalui malam yang hanya di isi dengan acara bakar ikan. Tak apalah, toh dalam rangka mempererat jalinan ukhuwah dan banyak pelajaran yang kami dapatkan dalam proses pembakaran ikan itu, susah senang dapat semua kocak enak, ada pula, hehe.
       Usai tidur yang hanya beberapa jam, kami mengisi separuh malam dengan ibdah yang dimulai dengan tahajjud bareng. Ibadah selanjutnya ialah Salat subuh berjamaah dan dzikir ataupun memurojaah hafalan. Semua berjalan dengan khusyunya. Indah tak bisa dihargai didunia, walaupun Engkau mencoba untuk mendatangkan mentari, bulan, bintang gemintang di hadapanku untuk menukar momen itu, akan kutolak mentah-mentah kawan. Keindahan yang tak terperihkan.
       Setelah itu, tibalah sang murobbi mengambil alih kursi sutradara keadaan dan kegiatan. Beliau mulai memainkan perannya sebagai “Sang Pencerah” bagi kami mutarobbinya. Momen ini sangat berkesan di hati kami karena kamis depan (kemarin) beliau sudah berangkat ke Saudi untuk melanjutkan strata pendidikannya sambil menimbah ilmu agama di sumbernya. Kalau tidak salah, beliau melanjutkan studinya di King Saud University. Momen yang sebenarnya sangat memiluhkan karena kami sudah menganggap beliau ayah kami walaupun ternyata ujung-ujungnya kami tahu bahwa umur beliau ternyata 23 tahun yang tidak sesuai dengan perawakannya. Tapi tak apalah, karena memang ia seperti ayah atau pun bapak kami. Kami seakan-akan tidak ridoh kalau ia pergi meninggalkan kami, walaupun tujuannya tak terbantahkan muliahnya. Kami berperasangka bahwa mungkin tak ada pengganti yang sepadan dengan beliau, sungguh andai kau adalah bagian dari kami maka kau juga berpendapat sepaham dengan kami. Kami takut bahwa murobbi baru kami nantinya tidak sesuai dengan yang kami harapkan, hm. Tak apalah, kami mencoba melawan segala rasa yang ada untu mendengarkan setiap petuahnya yang seakan-akan ini merupakan petuah terakhirnya.
       Panorama mentari menampakkan keindahannya dengan cahaya yang kemerahmerahan indah bukan main. Beliau membuka dengan dengan berbagai matan cabang-cabang agama, yang membuat kami lagi-lagi terkesima dengan sosoknya, dengan penampilannya, dan dengan perawakannya yang nanti akan sangat kami rindukan. Sungguh manusia yang sangat bermanfaat dan sangat dirindukan banyak orang.
       Beliau kemudian melanjutkan dengan menggiring kami untuk masuk meresapi sebuah kisah yang luar biasa menakjubkan. Seoarang manusia yang wara’, sungguh setia kepada Allah, tak diragukan lagi kesetiaannya. Di bernama Sa’ad sahabat rasulullah saw, budak hitam yang berperawakan jelek namun di balik rupanya ia merupakan sosok pribadi yang saleh taat beribadah. Sejak lama ia memendam keinginan untuk menikah, namun apadaya ia selalu ditolak mentah-mentah apabila mengajukan proposal pelamaran. Ia lalu mengadukan kegundahannya kepada Rasulullah saw yang saat itu sedang membagikan ilmu kepada sahabat-sahabatnya (seperti kami dan murobbi kami).  Akhirnya, Rasulullah saw memberi ia titah dengan muatan titah yang berisikan agar ia dinikahkan dengan anak gadis dari Amr Bin Wahab. Dengan persaan bahagia yang tak bisa digambarkan ia segera ke rumah Amr. Ia membuka pembicaraan dengan basa-basi, lalu akhirnya tibalah masa penyampaian titah. Ini titah nabi pastilah ia menerimanya, begitu prasangkanya. Namun, apa mau dikata, ia lagi-lagi ditolak mentah-mentah. Hatinya pun hancur sejadi-jadinya, berkeping-keping pula. Dengan merasa harga dirinya terinjak-injak oleh Wahab, ia mengatakan akan mengadukannya kepada rasulullah saw karena membangkang titahnya. Ia pun melaksanakan niatnya.
        Dibalik tirai anak gadis Wahab merekam pembicaraan yang terjadi. Setelah Sa’ad keluar rumah, ia juga keluar dari balik tirai menemui ayahnya. Perdebatan pun tak elak terjadi. Si gadis mengatakan kepada ayahnya bahwa sebenarnya tak boleh melakukan hal tadi. Begitu beraninya ia membangkang perintah Rasulullah saw. Apakah ia tak takut terkena azab yang pedih. Ia lalu membacakan surah Al Ahzab ayat 36 yang berbunyi:
       “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”
       Ia melanjutkan, bahwa ia ridho menikah dengan Sa’ad apabila benar bahwa itu perintah Rasulullah. Sudah ditebak ayahnya kalah telak dalam perdebatan yang memukau, tanpa sedikitpun kata yang terucap, ia terperanjat kaget gemetar bukan main. Anaknya mengatakan bahwa sebelum Sa’ad sampai ke Rasulullah dan sebelum azab tertimpa pada Amr, ia menyuruh ayahnya untuk lekas memburu dan mencegat Sa’ad. Berlarilah ayahnya secepat mungkin.
      Terlambat !!!! Amr gagal mengejar Sa’ad. Sa’ad telah sampai dan Amr masih di ambang pintu masjid. Sa’ad pun menceritakan kronologi yang terjadi kepada Rasulullah yang masih dalam majelis ilmunya bersama sahabat-sahabatnya dan semua terdengar jelas di kedua telinga Amr. Bayangan azab pun bersarang di kepala Amr. Buru-buru Amr memotong pengaduan Sa’ad. Ia mengatakan tidak kepada Rasulullah saw. Ia melakukan itu karena hanya ingin menguji bahwa apakah memang benar yang dikatakan Sa’ad itu. ia pun menerima titah dan lamaran Sa’ad dengan saksi para sahabat dan Rasulullah saw.
        Sungguh berbunga hati Sa’ad. Kebahagiaannya tak dapat tertandingi, seakan-akan ia adalah orang yang saat ini paling bahagia di dunia. ia pun pergi membawa bahagianya ke pasar, loh kok? Yah ia ke pasar untuk membelikan hadiah sebagai mahar kepada Istribarunya, isri yang ia dambakan. Coba engkau tebak, hadia apa yang akan dibeli oleh Sa’ad untuk istrinya!
       Ditengah kesibukannya mencari hadiah, datanglah suara panggilan jihad. Isi panggilannya mengatakan bahwa setiap lelaki yang memenuhi syarat untuk berjihad harus melaksanakan jihad itu walaupun hatinya terasa berat. Tanpa berpikir dua kali ia pun memenuhi hajatan jihad itu. uang yang semula ia ingin belikan hadi buat istrinya beralih ke toko perlengkapan perang. Ia membeli kuda dan alat-alat perang. Pergilah ia ke tanah Jihad. Allahu Akbar!!! Bagaimana kalau kita di posisi Sa’ad, apa yang akan kita lakukan yah?
Ternyata ia syahid fi sabilillah. Syahid sebelum malam pertama, syahid sebelum menemui istrinya, dan syahid sebelum menumpahkan rasa bahagianya. Murobbiku mengatakan bahwa ia merupakan pengantin surga. Subahanallah.
       Murobbi kami pun melanjutkan, akhirnya syahidnya Sa’ad diketahui oleh Rasulullah saw. Beliau menangisi perjuangan dan pengorbanan sahabatnya ini. ia merupakan pengantin surga, bayangkan kawan. Akhirnya Rasulullah saw memerintahkan agar kuda beserta alat perang Sa’ad dikirimkan kepada istrinya sebagai mahar atas pernikahannya. Sampailah mahar itu kepada istri Sa’ad. Istrinya menangis dengan rasa bangga memiliki suami seperti Sa’ad yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya ketimbang dia. Subahanallah. Sungguh muliah sahabat ini.  Dapatkah kita berlaku seperti Sa’ad kawan? Insya Allah.
       Kisah ini sungguh indahnya dibawakan oleh murobbi kami. Momen-momen inilah yang tak bisa kami lepaskan dan pasti akan sangat kami rindukan serta terkenang sepanjang hayat kami. Akhirnya beliu memberikan kami nasihat dan petuah agar kami bisa lebih baik nantinya setalah beliau meninggalkan kami.
Nasihat pertama beliau ialah agar kami belajar untuk berbahaa Arab. Bahasa Rasulullah saw. Karena tak sempurna ilmu agama seseorang apabila belum mampu menguasai bahasa Arab. Pokoknya, beliau memaksa kami agar sebisa mungkin dan harus bisa berbahasa Arab. Agar ketika ia pulang nanti, ia bisa mentarbiyah kami dengan bahasa Arab, begitu katanya.
       Nasihat kedua beliau ialah agar kami membca buku yang disarankan oleh beliau. buku-buku yang di antaranya bertemakan aqidah Ahlussunnah wal jama’ah, kitab fiqih, sirah nabawiyah, sirah sahabat, sirah tabi’in, kitab riyadussalihin semua jilid, tafsir ibnu katsir, syahi bukhari, dan buku kisah orang alim salaf sebagai teh penyemangat hati. Beliau menyuruh kami untuk rajin membaca buku karena memang buku adalah jendela dunia. Engkau tentu sudah tahu betapa berharganya ilmu sebuah buku itu kan?
       Yang ketiga ialah agar kami menjadi ikhwa yang berakhlak muliah yang selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Pernah kudengar seorang ustadz di tv mengatakan bahwa Rasulullah saw. Lebih menyukai duduk di samping orang yang berakhlak mulia dari pada ahli ibadah, wallahu a’lam.
       Yang keempat ialah agar kami melanjutkan hafalan, baik itu hafalan doa dalam hisnul muslim atau pun hafalan alquran. Beliau menargetkan bahwa kami minimal harus menghafal dengan profesional tiga juz. Insya Allah ustadz.
       Yang terkhir ialah jadilah aktifis Islam sejati yang ketika tidak dipanggil dalam setiap kegiatan menjadi panitia hatinya menangis.
       Lima wasiat ini harus kami laksanakan sesuai perintah beliau. mentari yang sudah meninggi namun tertutupi oleh awan kelam seakan-akan mendukung suasana yang kami rasakan. Dinding dan jendela kaca menjadi saksi bisu peristiwa ini. pepohonan dan dedaunann, segala macam serangga dan hewan yang bukan serangga, serata ranggkaian bunga di sekitaran mesjid menjadi penonton adegan yang kami lakonkan, haa.      Kami seperti kumpulan singa kecil yang baru belajar untuk menjadi singa sejati yang hampir kehilangan induknya. Kami seperti anak-anak yang sebatang kara di dunia ini dan kebigungan untuk berjalan. Sungguh kami merasa sedih mengalahkan kesedihan langit semalam. Kami sedih karena akan merindukan sosok murobbi kami nanti. Kami takut tidak mendapatkan murobbi yang sepadan dengan beliau, hmm.
       Beliau tutup dengan doa kaffaratul majelish. Beliau kemudian membagikan buku yang pernah ia janjikan untuk ikhwa yang menjual tiket “Seminar Peradaban” minimal lima buah tiket. Aku menjual dua kali lipat dari yang ia perintahkan, aku pun mendapatkan hadiah berupa buku yang hakikatnya kucari selama ini. buku tentang Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Buku yang akan menjadi saksi selain tembok dan jendela kaca tentang kami dan murobbi kami pernah ada dan bersama. Ada dan bersama merajut cinta dan berbagi ilmu dan kasih.
       Di selah-selah berakhirnya materi beliau, aku dekati beliau dan kukatakan aku tidak ridho atas kepergian beliau, beliau lantas memelukku dan mengatakan bahwa ia pergi bukan dengan percuma. Ahhh... sungguh kisah yang memiluhkan untuk tulis dan bagikan. Di sini aku menulis. Bersandar di tiang mesjid Babul Muttaqin dengan amunisi aksara yang terus terlontar memenuhi tulisan kata demi kata. Ditemani dengan makhluk malam, utamanya si penghisap darah makhluk parasit yang hanya menciptakan habitat simbiosis parasitisme menurut kebanyakan orang. Dua cahaya menerangiku, caha lampu masjid yang putih serta cahaya lampu jalan yang kemerah-merahan mengingatkan aku pada peristiwa itu, peristiwa di mana mentari memamerkan keindahannya. Ku tutup dengan cinta, rindu, dan kasih sayang untuk murobbiku dan untuk yang pantas mendapatkannya. Wassalam.

27 Januari 2012
Setangkai rindu untuk murobbiku di sana.

Wednesday, March 14, 2012

IBU YANG LUAR BIASA

       Dia bangun di pagi buta mempersiapkan segalanya sebelum aku bangun. Bangun sebelum aku bangun dan membangunkanku untuk menghadap Rabbku. Ia kemudian mempersiapkan makanan kesukaanku dan susu putih manis yang terbuat dari lemak nabati di atas nampan bercorak bunga melati. Kemudian ia memberikanku beberapa buah nasehat sebelum aku pergi menuntut ilmu. Nasehat yang selalu menyirami dan memupuk hatiku. Sambil menasehati ia mengelus kepalaku dan memanjakanku. Dia seakan-akan menganggapku malaikat kecilnya dan aku pun senang akan hal itu. Aku rasa ibuku adalah orang yang luar biasa.
       Di tempatku menuntut ilmu, aku selalu memikirkannya. Memikirkan senyumnya, caranya menatapku, caranya berbicara denganku, dan banyak hal tentang dia. Mungkin ia sedang menyapu sekarang atau mungkin juga ia sedang mempersiapkan makanan siangku, entahlah. Dia membuatku seolah-olah dapat melakukan apa saja yang kuinginkan. Entah mengapa ia sangat memperhatikanku. Setelah aku menuntut ilmu dan pulang ke rumah, ia menungguku di depan pintu rumah dengan senyumannya yang khas dan indah. Dan benar saja, makanan telah tersiap rapi dan menggugah di atas meja. Ia pun kemudian mendorong punggungku secara lembut agar aku dapat mengambil tempat di meja makan. Aku lalu menyantapnya dengan lahap tanpa tahu dan tak mau tahu bagaimana ia bisa membuatnya. Menurutku, masakan ibukulah yang paling enak di dunia. Ia juga adalah koki yang paling cantik sekaligus ibu yang paling baik sedunia.
       Ketika malam telah tiba, ia tak pernah henti-hentinya menyuruhku untuk belajar dan mengulang ilmu yang telah aku dapatkan di tempatku menuntut ilmu. Ia juga tak pernah bosan-bosannya menyiapkan makanan untukku. Ia tak pernah mengeluh ketika aku merengek meminta sesuatu. Dan ketika rasa kantuk menyerangku, ia pun kembali hadir dan membawaku ke pembaringan. Terkadang ia menceritakan sesuatu baik itu kisah atau pun pengalamannya sebagai aroma bunga untuk membuatku tidur. Apabila mataku telah tertutup, kurasakan di dahiku ada sambaran ciuman lembut sembari mengelus kepalaku, sungguh begitu lembut kurasakan. Ia tak pernah terlihat lelah dihadapanku. Sungguh, aku adalah anak yang paling beruntung di dunia karena memiliki ibu yang begitu luar biasa.
        Kemuadian aku bangun pada pagi hari ia tidak ada di depan mataku seperti biasanya. Dan ternyata, aku baru sadar bahwa ia memang tidak pernah ada. Dan aku masih di sini di rumah anak yatim piatu (panti asuhan) bersama anak-anak yang senasib denganku. Andaikan mimpiku ini jadi kenyataan. Namun apa yang bisa kulakukan, hatiku hanya bisa berteriak dan menangis bahwa andai aku memiliki ibu yang luar biasa seperti itu.
                                                                             ***
        Saudaraku, sadarkah kita tentang orang tua kita. Ibu kita khususnya. Dari kecil dan mungkin hingga sekarang, tak pernah henti-hentinya ia memberikan kasih sayang secara ikhlas kepada kita. Ia menggadaikan kepenatan demi kesehatan kita. Ia rela beritndak seperti pelayan demi kebutuhan kita.  Namun, coba bayangkan, apa yang telah kita balaskan terhadap ibu kita? terkadang kita selalu membantah dan berkata kasar terhadap orang tua kita. Padahal Allah telah memperingatkan kita dalam surah Al Israa’: 23:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
        “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
       Ini di perkuat dengan hadis riwayat Mughirah bin Syu'bah ra: ia berkata: Dari Rasulullah, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah Taala mengharamkan atas kamu sekalian; mendurhakai ibu, mengubur anak-anak perempuan dalam keadaan hidup, (prilaku) menahan dan meminta. Dan Allah juga tidak menyukai tiga perkara yaitu; banyak bicara, banyak bertanya serta menyia-nyiakan harta “
      Tanpa sadar atau memang mungkin kita sadari bahwa kita telah menyakiti hati ibu kita baik itu lewat perkataan atau pun perbuatan. Dan mungkin kita tak acuh akan hal tersebut. Namun saudaraku, mari lekaslah meminta maaf pada orang tua kita atas setiap bantahan yang keluar dari mulut ini. Marilah kita berbuat baik kepada kedua orang tua kita khususnya ibu kita. Dan jangan pernah berkata bahwa apa yang telah kita berikan pada mereka cukup untuk membalasnya. Tidak wahai saudaraku. Sesungguhnya apa yang kita berikan padanya tidak akan pernah cukup untuk membalas jasa-jasanya, tak akan pernah saudaraku bahkan jauh lebih dari yang engkau bayangkan.
       Ibnu Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. Ia bertanya : “Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku) wahai Ibnu Umar?” Beliau menjawab : “Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan (saat persalinan)” Subahanalloh.
       Bahkan tahukah Engkau saudaraku, Zainal Abidin, adalah seorang yang terkenal baktinya kepada ibu. Orang-orang keheranan kepadanya (dan berkata) : “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibu. Mengapa kami tidak pernah melihatmu makan berdua dengannya dalam satu talam”? Ia menjawab,”Aku khawatir tanganku mengambil sesuatu yang dilirik matanya, sehingga aku durhaka kepadanya”.  Dapatkah kita meneladani mereka? Maka syukurilah bahwa kita memiliki orang tua yang tidak dimiliki oleh mereka yang berada di panti asuhan.
       Saudaraku, semoga kita selalu menyayangi dan mendoakan orang tua kita di mana pun kita berada. Semoga pekerjaan tidak melalaikan diri kita untuk menjenguk atau bahkan memberikan pesan singkat kepada orang tua kita. Dan semoga kita dan mereka dapat bertemu di Jannah-Nya wahai saudaraku. Insya Allah.
                                                                  
                                           Terinspirasi dari nasyid my mom is amazing oleh Zain Bhika
                                           13 Maret 2012

Thursday, March 8, 2012

Apakah Bahasa Memengaruhi Perilaku Manusia?

           Pertanyaan tersebut sebenarnya dimunculkan oleh Sabriani (dalam Mahmuda, 2012: 16). Dalam buku itu disebutkan bahwa ada variabel lain yang berada di antara variabel bahasa dan perilaku. Variabel tersebut ialah realita. Jika hal ini benar, maka belum tentu bahasa memengaruhi perilaku manusia, bisa jadi realita atau keduanya.
Pernyataan di atas bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh anonim (2011) yang menyatakan bahwa tentu saja bahasa dapat memengaruhi perilaku manusia. Mengapa? Karena sesungguhnya, fungsi dan peranan bahasa sendiri dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai alat komunikasi, alat kontrol sosial, alat adaptasi sosial,alat interpretasi diri, serta ekspresi diri.
Dari kedua pernyataan di atas, penulis lebih condong pada pendapat anonim (2011) yang menyatakan bahwa tentu bahasa dapat memengaruhi perilaku manusia tanpa menafikkan pernyatan yang dikeluarkan oleh Mahmudah dalam bukunya. Mengapa penulis berpendapat demikian? Semisal diambil contoh bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Anonim (2011) menjelaskan  bahwa hal itu dikarenakan dalam kehidupan sehari-hari, dibutuhkan sesuatu yang dapt digunakan untuk berbicara terhadap orang lain, yaitu alat komunikasi dan bahasa adalah alat komunikasi yang sangat baik untuk menyampaikansesuatu maksud kepada orang lain. Dengan berbahasa yang baik dan benar serta cara penyampaian yang sopan disertai intonasi yang pas,akan membuat orang lain yang mendengar menjadi paham dan mengerti maksud dan tujuan kita menyampaikan sesuatu. Dengan berkomunikasi yang baik secara tidak langsung akan menunjukkan kepada orang lain bahwa si pembicara mempunyai perilaku yang baik, seperti sopan santun.
Sebutkan Contoh Hubungan Bahasa dan Perilaku dalam Kehidupan Sehari-hari?
            Selain contoh dan pejelasan di atas, penulis akan memaparkan contoh lainnya. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Dalam hal ini, bahasa sangat efektif dan tentu berhubungan dengan perilaku manusia. Anonim (2011) mengungkapkan bahwa hal ini dapat diterapkan pada diri pribadi sendiri maupun pada masyarakat. Sebagai alat kontrol sosial, kegiatan berbahasa dapat memberikan cara untuk memeroleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, dapat pula dipelajari untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu masalah.
Anonim menambahkan bahwa fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial salah satunya adalah sebagai alat peredam rasa marah. Contohnya ialah menulis. Menulis bisa digunakan sebagai salah satu cara yang sangat efektif untuk meredahkan rasa marah. Dengan membiasakan diri menuangkan rasa kesal dan marah ke dalam bentuk tulisan, tentunya dengan gaya tulisan yang masih sopan dan mengindari kata-kata seperti mengumpat. Pada akhirnya, rasa marah akan berangsur-angsur menghilang dan orang yang menulis akan dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.
Contoh yang dikemukakan oleh penulis sendiri ialah bahasa bisa digunakan untuk menasehati. Hal ini selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Apabila seorang ayah menasehati anaknya ketika berbuat kesalahan, tentu dengan nasehat yang lembut, maka nasehat tersebut perlahan dapat diterima oleh anaknya dengan mengubah perilaku buruknya menjadi lebih baik.
Sebutkan contoh hubungan bahasa dan realita dalam kehidupan sehari-hari?
            Mahmuda (2012: 18) menyatakan bahwa realita mencakup segala sesuatu yang berada di luar bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap komunikasi umumnya menggunakan bahasa, karena memang alat komunikasi tersebut ialah bahasa. Berpatokan dengan pernyataan Mahmuda, maka setiap bahasa mewakili realita yang ada dalam kehidupan penutur maupun mitra tuturnya. Pada hakikatnya, apa yang diucapkan (dibahasakan) semua mempunyai hubungan dengan kehidupan kenyataan.
            Fodor (dalam Mahmuda, 2012: 17) memberikan contoh bahwa kata cecak memiliki hubungan kausal dengan referennya atau binatangnya. Artinya, binatang itu disebut cecak karena suaranya kedengarannya seperti cak-cak-cak (dalam perkara tanda dan simbol). Contoh yang penulis berikan sendiri ialah kata meja. Jika dalam bahasa disebut meja, maka realitanya, meja dalam kehidupan sehari-hari ialah perkakas (perabot) rumah yang mempunyai bidang datar sebagai daun mejanya dan berkaki sebagai penyangganya (bermacam-macam bentuk dan gunanya) (KBBIMobile, 2008).
Sumber acuan:
Anonim. 2011. Apakah Bahasa dapat Mempengaruhi Perilaku Manusia. (Online) (http://chacaatmika.blogspot.com), diakses tanggal 8 Maret 2011)
Pusat Bahasa. 2008. KBBIMobile. Departemen Pendidikan Nasional.
Mahmuda. 2012. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Makassar.
http://images04.olx.co.id/ui/8/54/60/1280739885_107745460_1-Gambar--HURUF-TIMBUL-UNTUK-PAPAN-NAMA-KANTOR-1280739885.jpg