Ads 468x60px

Saturday, August 16, 2014

Sebuah catatan: Mengapa Saya Harus Berjuang?



Bismillaahirrahmanirrahim,

Puji syukur untuk Allah dan Selawat serta salam untuk Muhammad bin Abdullah.
 
        Judul di atas adalah sebuah pertanyaan yang sebenarnya harus tertanam kepada setiap manusia (terkhusus aktivis dakwah). Ini yang terkadang saya tanyakan pada diri pribadi, “Mengapa saya harus berjuang?”. Sebuah pertanyaan yang menelusup masuk ke dalam sanubari.

Tuesday, August 12, 2014

MENYOAL: PROBLEMATIK AKTIVIS DAKWAH KAMPUS




Bismillaah….

Ikhwa (juga akhwat), sama kita tahu bahwa terkadang cuaca belakangan ini mendung, hujan, dan berangin cukup kencang. Agaknya, inilah terjadi di sela-sela kehidupan keseharian kita dalam hidup berjamaah bahwa ada krisis ukhuwah di antara para ikhwah seperti mendung, hujan, dan angin kencang sebagai deskripsinya.

Ikhwa, dunia memang ibaratnya sebuah film ataupun (Sandiwara Langit: kata Ustadz Abu Umar Basyir). Ada sutradara, ada pemeran, ada panggung, dengan segala macam hal yang berkaitan. Pun dalam suasana yang terbangun ada canda, ada tangis, banyak tawa, dan sebagainya. makna firman Allah, dunia ini pangung senda gurau, namun di sisi Allah itulah yang lebih baik. Dan ikhwa, kita ini para pemerannya yang senantiasa akan ada adegan-adegan yang tak terduga dengan berbagai hasil akhir yang yang tak terkira.

Sunday, March 30, 2014

CATATAN SEMINAR: MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYIMPANGAN SYI’AH DI INDONESIA: GERAKAN INDONESIA TANPA SYIAH


Maraknya penyimpangan-penyimpangan serta aliran-aliran sesat di Indonesia memunculkan keresahan yang begitu besar pada rakyat Indonesia. Penyimpangan-penyimpangan tersebut mengarah pada pendangkalan akidah sehingga dapat menjadikan umat Islam Indonesia kabur terhadap kebenaran yang sahih. Salah satu aliran yang menyimpang tersebut adalah Syi’ah yang telah ditetapkan sebagai aliran menyimpang oleh Majelis Ulamah Indonesia (MUI). Sebagai bentuk penegasan maka MUI pusat kemudian meyusun dan menerbitan sebuah buku saku berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” bagi masyarakat Indonesia.

Friday, April 19, 2013

Ketika Kiriman Tak Berbalas ( ½ Kisah Nyata)


Bismillah,

            Ah, kawan. Kampus indah kalau suasana sore datang menjemput. Semburat jingga kekuningan terpancar di penjuru bumi sana. Membawa dan ikhlas membagi tawa dan bahagia. Berkumpul dengan kawan, hilang gundah dan gulana. Langit biru nan dibalut dengan awan-gemawan yang bertabur secara parsial. hanya angin yang bersepoi simultan menawan.
            Tetabuan gendang, bunyi dram, dawai gitar, dan alunan musik datang dari arah timur dari Fakultas Seni dan Desain. Setidaknya, mereka bisa bebas tanpa harus memikirkan renstra (rencana strategis) untuk berperang melawan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Teknik yang berada di ujung timur sana entah sedang berbuat apa—Namun, bukan berarti bahwa penulis setuju dengan wasilah kebebasan mereka.
            Sore ini, semua orang (tepatnya mahasiswa), sibuk dalam urusannya dan berkutat dalam dunianya (masing-masing).  Ada yang mungkin sibuk memadu cinta di belahan kampus sana. Dan mungkin ada pula yang saking sibuknya belajar di kos masing-masing kalau film Korea, bahan gosip, dan makanan telah habis (sekali lagi mungkin dan tolong catat itu). Inilah yang kusebut euforia di sore hari.
            Lalu, untuk itu... apa yang hendak diucapkan?? Betul, Alhamdulillah (walaupun hal ini masih perlu diintropeksi ulang). Terkadang kita sulit sekali untuk hanya sekadar mengucapkan satu kata dengan redaksi seperti di atas. Mungkin, karena kerasnya hidup ini dan segala soal dan permasalahan yang meliliti dan melingkupi diri kita menjadi penyebab utamanya.
         Taruhlah kita ambil satu contoh dari kalangan mahasiswa. Mungkin kita pernah saling berkorespondensi dengan birokrasi kampung bernama orang tua perihal uang kiriman. Namun ternyata, kita mendengarkan kabar buruk bahwa sedang terjadi hama di kampung dan untuk bulan itu, panen GAGAL! Atau mungkin penyebabnya ialah adik kita baru kecelakaan jatuh dari pohon mangga hingga kepalanya terkilir sehingga membutuhkan dana yang banyak sebagai pengobatannya hingga uang kiriman yang sudah dipersiapkan untuk kita, tidak jadi dikirimkan. Ditambah lagi, orang tua telah memiliki hutang yang banyak di kampung untuk membayarkan kebutuhan hidup sehari-hari.
            Contoh kasus yang kedua, pernahkah kawan selaku mahasiswa merasakan hanya punya uang 27 ribu di dompet yang seribuanya terbuat dari 2 koin 500 rupiah. Namun ternyata, 30 ribunya mau dipakai untuk bayar hutang yang kita telah berjanji kemarin kepada seseorang untuk membayarnya hari ini. Apa yang pembaca lakukan kalau diperhadapkan pada masalah tersebut?
            Mungkin pembaca merespon dengan menjawab “Kan masih ada ATM?” penulis menjawab, “Benar, alhmadulillah, Kita memiliki tiga ATM ternyata. Satunya ATM Mandiri, dua lainnya ATM BRI dan ATM BNI. Namun, pada ATM BNI saldo kita ternyata hanya di bawah sepuluh ribu, otomoatis, mustahil untuk ditarik. Sedangkan pada ATM Mandiri, kita punya saldo 190 ribu. Tapi ternyata tidak bisa ditarik lantaran, ATM tersebut punya persyaratan untuk menetapkan dana awal di rekening sebesar 100 ribu. Nah, kalau mau ditarik 100 ribu, maka itu hal mustahil karena saldo tidak mencukupi untuk dana awal.” Mungkin ada pembaca yang mengatakan, “Kenapa tidak tarik 50 ribu saja, beres kan?” penulis jawab, “Namun kita diperhadapkan susah untuk mencari ATM Mandiri yang 50 ribuan. Selanjutnya ATM BRI. Alhamdulillah, ATM BRI kita memiliki saldo 240 ribuan. Namun masalahnya, berkali-kali mencoba, ternyata tidak bisa ditarik karena entah Kartu atau ATM-nya yang bermasalah. Terus apa yang pembaca lakukan?”
            Bisa jadi pembaca serentak tanpa perlu diakomodir mengatakan “PINJAM!!”
            Aha... ide yang bagus. Walau pun terkesan idenya kurang kreatif. Alhamdulillah penulis merasakan permasalahan di atas (kasus II). Hanya, penulis merasa enggan melakukan solusi tersebut, entahlah. Yah, saya si penulis mencoba untuk bersabar dan berharap keajaiban akan datang entah dari mana. Gaji sebagai guru privat belum jelas kapan cair begitu pula beasiswa Bidik Misi baru cair bulan depan, permasalahan yang cukup kompleks. Namun, Saya terngiang dengan perkataan seorang saudara fi sabilillaah (di jalan Allah) yang ia kirim melalu sms bernada,
meyyiaristha.blogspot.com
           “Bismillah, sabar itu ilmu tingkat tinggi, belajarnya tiap hari, latihannya setiap saat, ujiannya mendadak, sekolahnya seumur hidup, dan hadiahnya kebahagiaan.. mari bersabar dalam kondisi apa pun...”
            Masya Allah, semoga beliau selalu dalam rahmat Allah. Benar kawan, sabar itu ilmu tingkat tinggi. Kita belajar kesabaran itu tiap hari. Mungkin kita pernah digosipi, dibenci, dicaci, dihina, dimaki, dipukuli, diputuskan (untuk hal ini, penulis ucapkan alhamdulillah kalau pacarannya tidak secara Islami), diduakan, dan berbagai permasalahan negatif lainnya. Namun, dengan permasalahan itu semua menuntut untuk kita belajar bersabar dan perlahan menjadi dewasa. Belajarnya benar-benar tiap hari karena masalah itu tiap hari—insya Allah—datang mengecup kita, membelai, hingga menerabas masuk dengan paksa ke dalam hati membuat rasa yang tak pasti (baca: was-was). Hingga sampai napas berada di ujung tenggorokan, mungkin saat itulah kita tamat dari sekolah kesabaran hingga meraih titel kebahagiaan, insya Allah.
            Allah berfirman dalam salah satu ayatnya yang berbunyi, “Mohonlah pertolongan (kpd Allah) dengan  sabar dan salat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.” 2:153, kemudian di dua ayat berikutnya kita temukan “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar....” dan banyak lagi ayat-ayat tentag kesabaran dalam Alquran yang lebih dari empat puluh ayat, wallahu a’alam... (saya tahu, karena saya lihat indeks Alquran tentang ayat kesabaran)...

***
            Hujan deras, di kampus. Dedaunan basah dan berjatuhan karena angin. Sekali lagi, manusia tiada yang bisa menebak cuaca dengan pasti. Kemarin cerah, sekarang hujan. Entah bagaimana nanti.
            Di bagian akhir ini, penulis mengajak kepada membaca untuk sama-sama belajar bersabar, walau pun dan bagaimana pun situasi yang kita hadapi. Kesabaran ada pada awal permasalahan, bukan ketika kita telah lelah merontah, berteriak tak karuan, dan mengeluh kepada setiap orang (pakai facebook pula) dan setelah itu berkata “Baiklah, saya akan bersabar!!!”.
            Benar hal ini susah, penulis pun merasakannya. Namun, tak ada kata tak mungkin selama kita mau berusaha. Berusaha untuk bersabar. Boleh jadi, masih banyak yang lebih buruk keadaannya daripada kita. Taruhlah, kiriman kita tak berbalas namun badan kita masih sehat sehingga bisa digunakan untuk bekerja sampingan. Sementara di sisi lain, ternyata ada mahasiswa yang kurang beruntung mengalami sakit mag akut karena sudah enam bulan tidak dikirimkan uang. Contoh lainnya, badan kita begitu sehat namun kita sering mengeluhkan berbagai macam hal. Sementara masih ada orang yang pincang kakinya, patah tangannya, hilang matanya, menderita penyakit kanker kronis, menderita tumor ganas di seluruh tubuhnya, dan mungkin telah ada yang mati. Kawan, rumput tetangga tak selamanya lebih hijau dari rumput di halaman sendiri. Mengapa kita selalu melihat ke atas sedangkan kita lupa untuk sesekali menengok ke bawah.
            "Perkara orang mukmin mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR. Muslim).
            Manshabara zhafira, sebuah pepatah dari Arab yang berarti siapa yang bersabar akan beruntung.
            Untuk tulisan ini, sebaiknya kucukupkan sekian. Kalaulah ada manfaatnya, silakan pembaca ambil dan mengimplementasikannya dalam hidup serba unpredictible ini. kalau tidak ada yang bisa dipetik, penulis mengucapkan maaf karena penulis hanya pemula dalam dunia aksara dan hikmah, hanya mencoba untuk saling berbagi.
            Selawat dan taslim kepada Rasulullah saw, keluarga, dan sahabatnya serta orang-orang yang menyertainya. Semoga kita dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cinta dan saya mencintai Rasulullasah saw dan apa-apa yang dicintai beliau. Wallahu a’lam.
Cat.: Uang yang saya miliki sekarang sekitar 5.500 rupiah, tadi bayar hutang kepada seseorang tersebut dan masih ada hutang 20.000 hutang sepuluh ribu yang baru datang karana lusa organisasi yang saya geluti mengadakan musyker. Tampaknya, saya akan pikirkan saran dari pembaca yang mungkin tawarkan, yaitu “PINJAM”, hehe...

18-19 April 2013
Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan sejumlah keluhan!

Tuesday, April 16, 2013

Belajar Menikmati Hidup dan Tidak Gila Urusan!


Bismillaah...
www.multiply.com
            Ada banyak cara bagi seseorang untuk melampiaskan kekesalan dan keresahan hatinya. Ada cara yang positif, namun ada pula cara yang negatif. Cara negatif sama-sama kita ketahui  seperti mengumpat, mencelah, berkelahi, dan sebagainya. Sedangkan cara yang positif ialah menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang ia sukai serta bermanfaat bagi seperti menulis kekesalannya lewat sebuah tulisan, banyak mendengarkan murottal (bacaan Alquran dengan irama sedang), membaca, berolahraga, dan berbagai macam cara lainnya. Dan apa yang sedang pembaca nikmati ini adalah bentuk sebuah kekesalan dan keresahan dalam sebuah tulisan.
            Cuaca memang tiada yang bisa menebak kecuali Yang Maha Penciptanya sendiri kemudian malaikat yang Ia perintahkan untuk membagikan rezeki hujan tersebut ke bumi cinta-Nya. Dua hari yang lalu, kita saksikan sendiri bahwa Jazirah Makassar sedang hangat-hangatnya dalam pelukan mentari. Namun, kemarin dan pagi ini, mentari bersembunyi entah ke mana. Awan menggumpal datang dan menurunkan butiran-butiran air yang lembut. Membasahi bumi dengan kasih dan sayang hingga tetumbuhan pun kembali bersememangat untuk melakukan dinamisme hidup.
            Pagi dan mendung. Sebuah perpaduan indah yang biasanya menghasilkan kemalasan bagi sebagian orang hingga lebih memilih berada di balik selimutnya dari pada mencari aktivitas lain, apatah lagi kalau memang hari itu sedang libur dari berbagai aktivitas duniawi seperti kuliah, sekolah, dan bekerja. Namun, mungkin bagi sebagian orang menyatakan kesyukurannya karena telah lama menunggu cuaca dan suasana yang demikian hingga memberikan aura positif bagi dirinya untuk berbuat dan melakukan sesuatu. Benar-benar, kita harus memahami seseorang dan tidak memaksakan kehendak diri pribadi untuk menyukai hal yang kita sukai.
            Setidaknya, kita perlu belajar. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa tidaklah beriman seseorang sampai mencintai sesuatu yang yang juga dicintai saudaranya. Sebuah perkataan indah dari pemilik Jawami’ Al-qalim (sedikit kata padat makna), Rasulullah saw.
            Tahukah kita pembaca, mungkin kita pernah menegur seseorang yang sebenarnya teguran kita itu lebih pantas untuk diri kita sendiri—Penulis pernah melakukan hal yang demikian entah berapa kali. Kita dengan sedemikian pongahnya memberikan keritikan kepada orang lain dengan perkataan yang kasar hingga benar-benar bemaksud menjatuhkan dan menyakiti hati saudara kita. Kita begitu tega dan tak mau pusing dengan peluruh-peluruh yang terlontar dari mulut ini, peluruh-peluruh yang hakikatnya akan kembali menembuh raga kita di hari akhir nanti. Pernah kita sadar apa akibatnya nanti sebelum melepaskan hardikan, cacian, dan celaan tersebut. Kita merasa bahwa ini adalah nasehat namun kita tuliskan atau bahkan kita katakan dengan perkataan-perkataan kasar. Kira-kira apa tanggapan dari orang yang kita “nasehati” tersebut? Bagaimana jikalau posisi kita di balik, kita yang di“nasehati” dengan perkataan kasar tersebut, apa yang kira rasakan dan lakukan?
       Atau bahkan lebih parahnya lagi, kita mungkin  telah berembuk dengan teman-teman kita memperbincangkan sesuatu yang tentang kekeliruan yang dilakukan oleh saudara kita tanpa menyembunyikan identitas saudara kita itu ketika meminta sebuah pendapat untuk menasehatinya. Paham maksud saya wahai pembaca? Pernahkah kita melakukannya? Padahal kita boleh jadi tidak tahu bahwa hal itu akan menyakiti saudara kita. Dan tahukah pembaca bahwa hal itu adalah gibah?
            “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat; 12)
            Kita mungkin dengan bangganya berkata bahwa apa yang kita perbincangkan (bahasa kasarnya gosipkan) itu adalah kebenaran tanpa memedulikan apakah saudara yang menjadi objek diskusi kita sakit hatinya atau tidak. Namun tahukan kita bahwa itulah sejatinya gibah. Karena dalam sebuah riwayat dari Tirmidzi dikatakan bahwa:
             “Abu Hurairah berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, apakah gibah itu?" beliau menjawab: "Kamu menyebutkan tentang temanmu dengan sesuatu yang ia benci." Ia bertanya lagi, "Bagaimana sekiranya apa yang kukatakan memang benar?" Beliau menjawab: "Jika memang apa yang kamu katakan itu benar, maka sungguh kamu telah menggibahnya, namun jika apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka sungguh kamu telah berdusta." Hadits semakna juga diriwayatkan dari Abu Bazrah, Ibnu Umar dan Abdullah bin Amr. Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.”
            Anggaplah kita di posisi yang dibicarakan dan diceritakan kekeliruannya, bagaimana perasaan kita? Ketika hal tersebut diklarifikasikan kita menjelaskan tentang “kekeliruan” tersebut namun orang yang memgibahi kita tidak mau mengaku namun bersembunyi di balik alasan-alasan dengan bumbuh-bumbuh kebohongan yang telah jelas di mata kita. Ataukah kita orang yang mengelak tersebut? Sering kali kita lupa mencubit diri sendiri sebelum mencubit orang lain. Kita lupa rasanya bagaimana cubitan keras itu lalu kita dengan pongahnya mencubit orang lain dengan begitu kerasnya. Benarlah sebuah pepatah bahwa mulutmu harimaumu. Jagalah mulutmu, jangan sampai ia menelanmu mentah-mentah.
            Wahai pembaca yang budiman, apa yang kita lakukan ketika kita dinasehati oleh orang sebenarnya butuh nasehat bagi dirinya sendiri. Anggaplah, kita disuruh puasa untuk menahan hawa nafsu syahwat namun orang yang mengatakannya memiliki pacar dan senantiasa saling mengumbar aurat dan cinta yang sejatinya dilakukan setelah pernikahan? Ataukah kita disuruh salat oleh orang yang tidak melakukan salat? Paradoks memang! Namun, dalam sebuah pepatah dikatan bahwa jangan lihat dari siapa nasehat itu disampaikan, namun lihat apa yang dinasehatkannya. Lalu bagaimana kalau nasehatnya bernada kasar? Nah, ini yang menjadi persoalan bagi setiap manusia tak terkecuali bagi penulis sendiri untuk selalu menyampaikan kebaikan dengan lembut serta berdakwah dengan hikmah. Tentu saja sebagian besar orang akan marah dan menolak mentah-mentah apabila nasehat-nasehat tersebut dengan bahasa yang kasar, apatah lagi kalaulah yang menyampaikan perkataannya seharusnya kembali kepada dirinya sendiri.
            Kita juga perlu belajar memahami bahwa mungkin saja ada urusan-urusan saudara kita yang tidak mau didiskusikan atau ditanyakan namun kita karena saking gila urusannya mencampuri hal-hal tersebut. Padahal, kita sendiri masih punya segudang permasalahan yang mesti dicarikan solusi dan sibuk di dalamnya. Kita terlalu menganggap hal-hal yang remeh-temeh hingga membuat kita pusing sendiri dan mendapatkan akibatnya sendiri. Bagaimana kalau kita biarkan saja masalah remeh-temeh tersebut, karena sejatinya kita memiliki masalah-masalah yang lebih besar yang perlu untuk kita pecahkan. Bukankah itu adalah salah satu seni menikmati hidup ini. Untuk yang satu ini, penulis kutip dari buku “Enjoy Your Life” karya Dr. Al-A’rifi cetakan Qistipress. Penulis sarankan, pembaca yang budiman membaca buku ini untuk bersama-sama belajar menikmati hidup.
            Setidaknya, kita terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang berani dan mau berubah menuju arah yang lebih baik. Pribadi-pribadi yang lembut dan baik tutur kata dan perbuatannya. Sejatihnya memang kita membutuhkan nasehat karena memang agama itu adalah nasehat. Nasehat yang indah dan meresap lembut di dalam hati. Andai pun nasehat itu kasar, setidaknya nasehat itu berupa kebaikan, maka kita beranggapan saja bahwa yang menasehati itu belum tahu adab menasehati dan mengelus dada ini untuk menerima nasehatnya sambil suatu saat juga kembali menasehatinya untuk memperbaiki kesalahannya. Tentu dengan adab, cara, dan suasana yang lebih baik.
            Bukan pula menasehati orang yang sejatinya tidaklah  melakukan kesalahalan (namun karena kita juga agak suka ikut campur dalam urusan orang lain, terjadilah apa yang terjadi) dan membiarkan serta berlepas diri dari kesalahan-kesalahan yang jelas di kacamata syariat yang dilakukan oleh teman-teman kita yang lain.  Hidup ini terlalu singkat kalaulah kita hanya berkutat pada permasalah kecil dan remeh-temeh.
            Saya pikir, mungkin cukup untuk tulisan ini. Tidak ada kata terlambat untuk belajar menjadi lebih baik. Semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca!
            Selawat dan taslim untuk Rasul saw., keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa menapak tilasi jalannya hingga akhir kelak.

16 April 2013
Komplek Hartako Indah setelah kerja bakti. Untuk diri dan yang membutuhkan.

Sunday, April 14, 2013

Namanya... Aminah!

Bismillah,

05.04, Masjib Babul Muttaqien.
            Bumi Daeng Tata sedang bersahabat dengan mentari dan awan-gemawan. Tiada hujan hari ini! walau saya tahu, banyak pecinta hujan dan merasa tenang ketika hujan sedang turun. Namun, hari ini semua tampak begitu indah. Lalu lintas depan masjid tenang dan tidak macet seperti biasanya, serta dedaunan yang menguning jatuh berguguran. Alhamdulillah, semoga dedaunan tidak membenci angin, karena sesungguhnya saya tidak tahu, apakah daun yang jatuh membenci angin, atau—seperti kata tere—daun yang jatuh itu tidak membenci angin. Yang jelas, daun itu telah kusapu tadi dan kubuang pada tempatnya.
www.gen22.net
            Baik. Semua orang berada dalam kesibukan dan sungguh celaka orang yang tidak dalam kesibukan. Kita, sama—Alhamdulillah— diberi waktu 24 jam. Namun, samakah kita dalam menggunakan waktu tersebut? Tentu berbeda wahai pembaca. Ada yang sibuk belajar, membaca, mengerjakan setiap soal untuk ujian CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) atau OSN (Olimpiade SAINS Nasional), menulis, olahraga, dan sebagainya (dan ini adalah hal yang positif tentunya). Namun, ada pula yang sibuk menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang kurang bermanfaat, sia-sia, bahkan membawa membawa mudarat.  Kadang kita mendengar ada kawan berkata bahwa waktunya kurang cukup untuk segala hal. Kadang ada yang berkata, waktunya cukup untuk melakukan berbagai hal. Namun, kadang pula kita mendengar kawan kita berkata, “Apa yang hendak saya kerjakan sekarang yah?” Nah, mana pertanyaan yang sering kita lontarkan...?
            Benarlah, dalam sebuah hadits riwayat Bukhari bahwa ada dua nikmat yang kebanyakan manusia merugi pada keduanya, yaitu sehat dan waktu luang. Sering kali kita terlena dengan waktu—tanpa terkecuali juga penulis. Kalaulah kita saking sibuknya dalam suatu hari atau suatu pekan, maka kita berkata “Kalau libur datang, saya akan mengerjakan ini dan itu.”. Namun, pada saat libur, ternyata ucapan kita hanya penghias udara saja dan lupa akan janji-janji kita—untuk ke depannya, semoga kita dijauhkan dari hal itu. Kalau kita mau merinci setiap masalah dan rencana, maka yakinlah wahai pembaca yang budiman, waktu itu tidak cukup untuk mengerjakan itu semua.
            Nah, pembaca, itu sedikit prolog dalam tulisan ini karena kita memang harus saling mengingatkan tentang kebaikan, bukan? Terus bagaimana dengan judul tulisan ini? Baik, sebenarnya judul tulisan di atas dalamnya bukan main—setidaknya bagi penulis. “Aminah”, ah kata yang begitu sedap menjalar masuk ke lubang-lubang telinga orang (mungkin). Wahai pembaca, adakah kawan bernama Aminah? Mungkin pembaca bertanya-tanya, apa hubungan saya dengan si “Aminah” ini? Atau ada juga yang langsung menebak bahwa itu adalah calon istri saya yang mungkin pernah saya gemabar-gemborkan? Entahlah, Allah kemudian engkau sendiri yang tahu tentang hal itu.
            BUKAN!! Jawabannya bukan wahai pembaca. Saya hanya terngiang dengan pesan senior saya waktu Upgrading kemarin tentang si “Aminah” tersebut. Tahu apa yang ia katakan? Ia berkata, “Ikhwa sekalian, jangan sampai kita sibuk mengejar Aminah daripada menjalankan amanah!” Tahukah pembaca apa makna dari perkataan senior saya itu?
            Walaulah saya bukan ahli tafsir, namun menurut saya maknanya ialah jangan sampai kita sibuk mengejar dan mempersiapkan diri untuk seorang perempuan (juga laki-laki) namun kita lalai dalam menjalankan amanah dakwah. Dakwah? Yah, dakwah berupa ajakan kepada kebaikan. Bukan hanya mengajak salat dan puasa saja, namun perkataan yang baik kepada keluarga dan teman itu juga merupakan dakwah—semoga kita tidak elergi dalam mendengarkan dan menuliskannya.
            Saya? Kapan menikah? Menikah dengan Aminah, bukan sih? Haha, beberapa pekan ini, di kelas saya sedang heboh gosip kapan saya menikah, di mana, dan siapa calonnya... saya katakan insya Allah tentu saya mau menikah—dan siapa pula orang gila di dunia ini yang tidak menginginkan pernikahan, bukan?. Mungkin ini gara-gara status di Facebook yang sering saya posting berkaitan dengan calon istri ideal dan indahnya pernikahan. Bahkan, teman-teman kelas sudah ada yang mau daftar jadi pagar ayu-nya—untung bukan pagar betis, haha. Dengan lucunya lagi, mau buat baju seragam untuk datang ke pesta pernikahan, hehe... Alhamdulillah, saya ucapkan syukran wajazakumullahu khairan kepada teman-teman sekelas saya yang memberikan perhatian kepada ketua tingkatnya yang menjengkelkan ini.
            Walaupun demikian, pernikahan bukanlah hal yang mudah untuk dikerjakan. Perlu perencanaan yang matang. Kalaulah dalam mengajar nanti kita butuh untuk mempelajari mata kuliah perencanaan pembelajaran, maka dalam pernikahan pun membutuhkan perencanaan yang matang hingga benar-benar indah pada waktu dan tempatnya. Bukan hanya semudah mengatakan “Insya Allah, saya akan menikah bulan Mei...!”. Mungkin ada yang bertanya, “Jadi, keputusannya apa?” hehe... saya serahkan kepada Allah.
            Soal target saya kapan menikah, itu masih sekitar 5 tahun ke depan, setelah beberapa mimpi dan cita telah saya gapai. Namun, kalaulah Allah menghendaki saya menikah di bulan Mei, hei siapa yang bisa menolak wahai pembaca?? Bung Ringgo kan bilang mei be yes, mei be no? Saya, sangat berkeingin untuk menikah, untuk merasakan yang namanya pacaran—maklumlah, wong seumur hidup tidak pernah pacaran. Apa lagi di zaman fitnah (baca cobaan, ujian, pen.) ini yang luar biasa besarnya. Pesona Cleopatra sudah terkalahkan. Begitu banyak cleopatra-cleopatra baru yang muncul dengan pesona-pesona auratnya yang setiap mata lelaki takluk penuh nafsu. Ini yang membuat saya ingin menikah sesegera mungkin, untuk menjaga mata, hati, dan syahwat ini serta menyalurkan pada tempat yang benar. Entahlah, yang jelas, insya Allah target saya lima tahun ke depan, jadi masih terbuka lebar kesempatan bagi akhwat mana saja yang sesuai kriteri saya yaitu: menyejukkan hati dan wajahnya, saleh, nurut sama suami, dan pintar memasak. Diutamakan yang hafidz 30 juz, pintar bahasa Inggris, pintar bahasa Arab, dan pintar menyenangkan suami, untuk mendaftarkan diri—Adduh mungkin ada di surga kali yah... hahaha.
            Mungkin, tulisan yang sederhana dan singkat ini kuusaikan saja duluh wahai pembaca. Semoga tidak ada yang kecewa mengenai keputusan ini. Kalaulah ada hikmahnya, petik dan hidangkan dalam hangatnya kehidupan. Kalaulah banyak salah, toh penulis ini juga manusia dan di sekelilingnya ada berjubel setan yang selalu hendak menjerumuskan saya. Semoga kita dipertemukan olehnya di telaga kautsar nanti, meneguk air bersama Rasul saw. hingga tak pernah lagi merasakan kehausan. Salam dan selawat kepada Muhammad, semoga kita benar-benar menatap dan bercengkrama dengan beliau di akhir kelak. Syukran.

14 April 2013
Ditulis dalamrangka mengklarifikasi kasus pernikahan saya yang beredar, hehe

Thursday, February 7, 2013

Renungan dalam Pancingan




muhmustakim.files.wordpress.com
Terdengar nyanyian jangkrik saling bersahutan
Ia membahana di tengah hening dan kegelapan
Yah, telah terjadi peperangan
 Peperangan yang untuk saat ini dimenangkan oleh pangeran kegelapan
Berkolaborasi dengan desir ombak dan ratapan hawa
Misteri laut tiada tara
Khas dan bukan buatan biasa

Saturday, February 2, 2013

PERSAUDARAAN: BUKAN HANYA KATA SEMATA, WALAU IYA TELAH PUDAR!!!


Dokumen Pribadi
Bismillah,
       Semilir angin pantai mengawali jemariku merangkai setiap fonem yang akan berbentuk ayat-ayat tentang potongan kecil kehidupan di sudut kota Parepare. Sore ini, cuaca begitu bersahabat. Berbanding terbalik dengan keadaan subuh tadi dan siang hari tadi. Saat itu, hujan mengguyur ranah kota mungil ini.
     Dedaunan bergoyang gontai dihantam sang angin. Beberapa darinya jatuh sempoyongan menghantam bumi. Walaupun demikian, dedaunan tidak akan pernah membenci angin seperti kata seorang penulis yang belum pernah kulihat wajahnya-Tere Liye. Syahdan, bukankah Allah telah mengukur letak, waktu, dan keadaan jatuhnya daun tersebut ketika terlepas dari rantingnya?

Thursday, January 17, 2013

KELUH KESAH AMARAH HARIKU

Menyapa dengan senyuman akan lembaran baru
Kiranya terisi warna terang indah menawan
Sudihkah Dia?

Bila mulai bintang terang penuh harapan, menanjak ke angkasa raya
Tinggi asa terkikis putus
Tatkala ilmu dirusak
Oleh manusia kurang bersyukur
Tak sadar mufakat ilmu itu sesungguhnya !!!
Hati menangis ketika lirikan mata tertuju mereka

Asa kian tipis
Bilamana mengulur tangan sesama pencari hak
Namun qalbu ini kembali terluka !!!
Akan tanya tak terjawab
Akan penantian melelahkan
Akan ingin tak terwujud
Akan pengorbanan yang hancur sia-sia

Keluh kesah amarah
Tertahan teriakan dalam diri
Pasrah pada hasil yang diberi-Nya

Asa pun putus
Ketika tunggangan lenyap dari pandangan
Hanya itu esanya kugantungkan raga
Tuk kembali pada istanaku

Ah... !!!

Jawaban itu, TIDAK !!!
Bukan hari ini
Tidaklah hariku

Yang kelam kelabu penuh warna gelap

Syukur terucap
Karena telah berkarya, walau cacat jauh dari sempurna

Mohon ampun dari-Nya
Atas dosa tak terbilang
Tuk hari beda ini...
28 Oktober 2010
Gambaran akan kelabunya hari ini...

* dalam rangka pemenuhan tugas kuliah

Tuesday, January 15, 2013

Antara Penyesalan dan Penghambaan: ?

Kicauan buruan sedari tadi menyingkap subuh
Mungkin ia seekor perenjak
yang berkicau ketika tamu hendak bertandang
atau… mungkin juga ia mengajak jangkrik tuk adu bunyi
padahal mereka telah lelah berteriak tak karuan semalaman
sekarang, titik pusat tata surya datang dengan warna-warni khasnya
yah, tentu dari ufuk timur raya sana
dengan perlahan terbang begitu ayu nan anggunnya
bercumbu dengan setiap bidang yang dihinggapinya

Thursday, January 3, 2013

KONSULTASI HATI

Berbicara tentang hati...
Tentang segala faktor yang menghiasi...
Baik diri maupun di luar diri
Dahulu dia fitri...
Tenang, tidak bahagi tidak pula keluh akan perih.

Saturday, December 29, 2012

Renjana Anak Rantau


Puing-puing rindu pun berserakan
Ketika lontara-lontara hati mulai tersayat tak kuat menahan
Hingga pecah... rasa menyeruak keluar bersama isak dan embun di pengujung mata

Aku ingat rumah adat tongkonan
Megah menjulang
Tiang-tiangnya perkasa
Pertanda prinsip bugis tertancap begitu dalam

Aku ingat lelaki paruh baya berlengak-lenggok di pematang sawah
Membawa cangkul dan bibit kehidupan
Seharian bermandikan keringat bersarung letih
Sesekali senyum sambil menengadah ke angkasa biru
Hingga semangat kembali menggalayuti batin entah darimana ia datang

Pun, dahulu mereka begitu perkasa
Berkarib dengan kapal bergelar pinisi
Menantang badai
Menembus gulungan ombak
Bersafari menjinakka samudra
Lalu berjumpa dengan dunia lain nun jauh di sana

Aku ingat perempuan-perempuan bugis
Menyusui anaknya di bale-bale
Mengusap kepalanya dan berkata lembut
“Nak, kalau sudah besar jadi pedagang atau pelaut saja yah seperti kakekmu?!”
Berbalas umbaran senyum lalu kembali mengea pada ibunya

Aku ingat ingat bunga-bunga desa di tanah bugis...
Menyembunyikan harap dan cemas di balik dinding anyaman bambu di atas rumah panggung
Menunggu seorang pemuda datang membawa cinta
membawa siri’ untuk tameng hidupnya
Lalu menggiringnya dalam bahtera baru
Melahirkan buah-buah cinta generasi penerus bangsa berdarah penantang samudra

Rinduku ini rindu renjana
Pekat... lubuk... mengakar agam begitu dalam
Tak mungkin diri lupa tanah dan udara pertama

Aku pergi bercerai dengan manisnya kenangan
Toh demi kebaikan jua
Walau harus menggadaikan memori indah yang sudah jauh di ujung pandang

Di pertengahan hening dan kegelapan
Memori kembali terngiang
Akan pappaseng persatuan dari pemangku adat kami
“Rebba sipatokkong, mali siparappe, sirui menre’ tessirui’ no, malilu-sipakainge, mainge’pi mupaja”

Tak akan pernah terlupakan
Dan telah ku-ejawantahkan di tanah orang ini
Terhadap kerawat dan kawan baru
bineka tunggal ika
yang juga masih saudara setanah ibu pertiwi

walau begitu... sungguh nian...Aku tetap melipat rindu tuk pulang ke kampung!

15 Desember 2012
Semoga waktu datang membelinya dengan senyuman






Wednesday, December 5, 2012

Bahasa Indonesiaku Sayang, Bahasa Indonesiaku Malang


inindonesiaonline.blogspot.com
“Jang dinamakan ‘bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ‘Melajoe Riaoe’, akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia;…”


  Perkataan di atas diucapkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia sekitar 73 tahun yang lalu. Ucapan yang menggemah ketika Indonesia mulai tumbuh menjadi sebuah bangsa, menjadi sebuah negara, dan menjadi sebuah bahasa. Ucapan yang berani terlontarkan walau dalam kepungan dan ancaman sang penjajah Belanda. Ki Hajar Dewantara nama beliau. Ia dengan begitu tegasnya menyampaikan perkataan tersebut  di ruang Kongres bahasa Indonesia I, di Solo, pada tahun 1939.
  Kongres bahasa Indonesia tersebut sebenarnya merupakan  kelanjutan dari aksi para pemuda dan pemudi dalam Kongres Pemuda yang terlaksana pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta. Sebuah konggres yang tak kalah pula gaungnya. Konggres yang menghasilkan sumpah pemuda yaitu ikrar mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia; mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia; dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
  Bahasa Indonesia dari dahulu hingga detik ini digunakan sebagai lingua franca di seluruh tanah Indonesia. Bahasa yang digunakan untuk menyatukan rakyat Indonesia yang menetap di tanah sabang hingga rakyat Indonesia yang bercocok tanam di tanah Merauke. Hal inilah yang diperjuangkan oleh pemuda dan pemudi Indonesia sejak dahulu yang menginginkan bahasa Indonesia menjadi bahasa negara dan bahasa nasional. Hal ini pula yang diinginkan oleh Ki Hajar dewantara dan para pahlawan pendidikan lainnya yang menginginkan bahasa Indonesia menjadi bahasa utama yang digunakan oleh seluruh rakyat di Indonesia. Tentu hal ini ditujukan agar tak ada sekat-sekat dalam perbedaan bahasa dan untuk menyatukan semua ide serta cita dalam satu rasa dan satu bahasa.
  Walaupun demikian, ada, bahkan banyak di antara kita—sang penutur bahasa Indonesia—kurang mensyukuri nikmat bahasa yang diberikan oleh Tuhan ini. Terkadang kita berbahasa tanpa memerhatikan kaidah bahasa dengan alasan bahwa perkara tersebut untuk kalangan ahli bahasa. Terkadang pula kita berbahasa tanpa memerhatikan ejaan yang benar dengan bantahan bahwa bahasa itu intinya komunikatif dan saling mengerti satu sama lain. Bukan hanya itu, terkadang pula tanpa disadari orang-orang berbahasa Indonesia dengan mencampurkannya dengan kosa kata asing agar dapat memperlihatkan tingkatkan keintelektualannya. Begitu pula sebagian rakyat Indonesia di berbagai daerah terkadang berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan kosa kata daerahnya masing-masing. Semua itu seakan menunjukkan bahwa kita kurang mensyukuri nikmat bahasa Indonesia yang telah dianugrahkan oleh Tuhan utuk kita, rakyat Indonesia.
  Penulis masih ingat sebuah adigium yang terkenal dari mantan presiden kita yaitu Presiden Gus Dur dengan bunyi “Gitu aja kok repot!”. Sebuah adigium yang terkenal hingga hampir digunakan oleh segala lapisan masyarakat Indonesia, baik tua maupun muda. Bahkan, adigium tersebut digunakan dalam beberapa iklan yang pernah ditayangkan di televisi misalnya iklan So Klin, iklan Supra Revlon, iklan jamu Nyonya Meneer, iklan umpan burung Gold Coin, dan iklan deterjen Daia. Tentu tujuan penggunaan adigium itu agar iklan-iklan tersebut cepat popular di kalangan masyarakat, sehingga produk tersebut akan laris manis di pasar. Dari segi bisnis langkah yang ditempuh oleh biro-biro iklan tersebut sangat jitu. Namun, dari segi pembinaan bahasa, cara tersebut sangatlah tidak menguntungkan. Sebenarnya, adigium tersebut tidaklah sepantasnya diucapkan oleh sang presiden. Adigium-adigium seperti itulah yang merusak pembinaan dan pengembangan bahasa nasional tercinta. Karena seorang presiden selayaknya menjadi anutan bagi rakyatnya untuk berbicara dengan bahasa yang benar.
  Arkian, tentu pernah kita dapatkan atau kita dengarkan pula sebuah tulisan atau sebuah tuturan bahasa Indonesia yang di dalamnya tecampur dengan kosa kata asing. Contohnya, Dilla Taylor, Project Proposal, Planning, dan sebagainya. Memang, kalimat-kalimat yang biasanya disisipi kosa kata asing akan terdengar lebih canggih. Namun sayang, seakan-akan penulis atau pun pembicara kurang menghargai bahasanya sendiri.  Ia merasa bangga menggunakan kosa kata asing daripada menggunakan kosa kata bahasa Indonesia yang sebenarnya dapat digunakan dalam kalimat yang ia ucapkan. Bukan hanya itu, mungkin saja kosa kata-kosa kata asing tersebut hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang memiliki pendidikan yang memadai tetapi belum tentu dapat dipahami oleh orang-orang yang berpendidikan rendah. Bahkan tidak mustahil bagi mereka tidak memahami kosa kata-kosa kata asing tersebut, seakan-akan dunia Allah ini terasa sempit baginya. Sehubungan dengan itu, ada kaidah yang menyatakan bahwa jika kita berbahasa Indonesia, berbahasa Indonesialah dengan baik. Jika kita berbahasa asing, berbahasa asinglah dengan baik. Dengan kata lain, kita tidak mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing dalam suatu pembicaraan.
  Masalah lain yang timbul ialah nilai terendah pada ujian nasional terbaru ialah terjadi pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, padahal siswa-siswinya lahir dan besar di Indonesia. Mengapa bukan mata pelajaran bahasa Inggris, matematika, dan mata pelajaran lainnya yang terendah? Ini adalah sebuah keadaan yang sebenarnya tidak mungkin terjadi. Para pelajarnya lebih fasih menjawab pertanyaan-pertanyaan mata pelajaran lain seperti bahasa Inggris padahal ia bukan bahasa negara atau bahasa nasional. Mungkin ini terjadi karena sikap para pelajarnya menganggap bahwa bahasa Indonesia sudah mereka kuasai dan pahami sehingga tidak perlu didalami. Bahkan, boleh jadi para pelajar menganggap bahwa bahasa Indonesia  tidaklah penting dan bukan merupakan pre-tes untuk di pelajari. Berbeda dengan bahasa Inggris yang pamor dan statusnya lebih penting bagi para pelajar untuk mereka dalami dan pelajari.
  Lalu, bagaimanakah seharusnya masyarakat Indonesia menyikapi bahasanya? Ada dua hal yang harus diperhatikan agar dapat membumikan bahasa Indonesia di bumi Indonesia sendiri. Pertama yaitu dari sikap penuturnya. Menumbuhkan rasa cinta bahasa Indonesia bagi para penutur sangat perlu dilakukan. Dengan adanya cinta bahasa Indonesia di hati maka hal itu akan tercermin dengan lisan para penuturnya yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Nah, bagaimanakah menumbuhkan rasa cinta tersebut? Jawabannya adalah tentu saja dengan mengilmuinya. Dengan ilmu, kita dapat memahami cara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan ilmu, kita dapat mengetahui manfaat menggunakan bahasa Indonesia. Dan dengan ilmu pula-lah, kita akan mengetahui kerugian ketika tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena tidaklah mungkin kita mencintai sesuatu tanpa mengetahui alasan harus mencintai sesuatu tersebut. Oleh karena itu, menumbuhkan rasa cinta akan bahasa Indonesia adalah hal pertama dan utama yang harus diperhatikan.
  Kedua ialah meningkatkan kompetensi pengajar bahasa Indonesia. Para pengajar harus mengetahui cara mengajarkan bahasa Indonesia yang tepat sesuai kebutuhan para pelajarnya. Untuk menumbuhkan kompetensi tersebut, maka para pengajar perlu diberikan pelatihan, diklat, dan sebagainya. Dengan meningkatnya kompetensi pengajar bahasa Indonesia, maka pengajar tersebut dapat mengajar dengan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks pembelajaran di kelas.
 Untuk mengatasi masalah-masalah kebahasaan yang terjadi maka kita seharusnya menerapkan dua komponen tersebut. Para pemakai bahasa Indonesia harus bergerak untuk meningkatkan keterampilan berbahasanya dengan cara belajar bahasa Indonesia dan memperagakannya sesuai dengan kaidah yang berlaku. Jangan sampai bangsa Indonesia kehilangan identitas, alat pemersatu, dan jati dirinya dengan membumihanguskan bahasa Indonesia di negeri Indonesia sendiri. Sehubungan dengan itu, tentu penggunaan bahasa Indonesia harus disesuaikan dengan konteksnya, baik itu konteks tempat maupun konteks waktu. Tentu berbeda cara penggunaan bahasa Indonesia ketika menggunakannya berbelanja di pasar dan pada saat belajar di ruang kelas. Maka pemakai bahasa yang baik ialah pemakai bahasa yang mampu menggunakan bahasanya pada tempatnya.
  Yah, begitulah rumitnya sejarah bahasa Indonesia sehingga tetap bertahan hingga sekarang tanpa peduli gerusan zaman dan himpitan globalisasi. Bahasa Indonesia tetap bertahan menjadi alat untuk mengungkapkan diri baik secara lisan maupun tertulis, dari segi rasa, karsa, dan cipta serta pikir, baik secara etis, estetis, maupun secara logis. Bahasa yang diperjuangkan dengan penuh pengorbanan hingga meneteskan darah ini tetap bertahan untuk menyatukan sekian banyak rakyat Indonesia yang menetap di berbagai pelosok pulau di negeri ini. Dan sekali lagi, semua itu akan terus menjadi ada dan nyata ketika para pemakainya konsisten dalam menggunakannya sesuai dengan kaidah yang berlaku dan sesuai konteks penggunaannya.
  Mari kita panjangkan cita-cita para pemuda dan pemudi yang rela berkoar meneriakkan sumpahnya pada saat kongres pemuda! Mari kita panjangkan mimpi sang Bapak Pendidikan yang rela berkata lantang untuk membumikan bahasa Indonesia dalam kepungan penjajah pada saat kongres bahasa Indonesia I! Mari bergerak dan memperagakan bahasa Indonesia! Kalau bukan kita, lalu siapa lagi? Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi?

Referansi tambahan:
Arifin, E. Zainal dan Farid hadi. 2009. 1001 Kesalahan Berbahasa. Edisi ketiga, cetakan IV. Jakarta: Akapress.
Badan Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. 2010. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian bahasa Indonesia. Makassar: Fakultas Bahasa Dan Satra Universitas Negeri Makassar.

Sunday, December 2, 2012

Wahai Pemuda, Mari Bergerak Hancurkan Korupsi!


     Seorang ulama salaf  bernama Al-Muhasibi (dalam Seribu Hikmah Ulama Salaf: Al-Muhaimid) pernah berkata bahwa kejujuran adalah landasan seluruh amal kebajikan, semakin kuat kejujuran seseorang, maka ia mengalami peningkatan dalam semua amal kebajikan. Mungkin inilah yang telah hilang dari bangsa Indonesia. Organ utama jalannya pemerintahan yang bersih itu mulai pudar dan pupus di hati-hati para petinggi negara ini. Begitu banyak orang pintar, namun begitu langka orang yang jujur.
    Semakin hari, semakin sering saja terdengar perkara-perkara bertema korupsi menghiasi media Indonesia, baik cetak maupun elektronik. Ia bagai momok menakutkan bagi rakyat Indonesia. Momok yang mengikis setiap suap nasi dalam bentuk uang yang harusnya menjadi hak rakyat kini meluncur deras di kantong-kantong para penjahat korupsi berlabel oknum pemerintahan resmi. Lalu, apa pengaruh korupsi bagi demokrasi? Sebagai tulang punggung bangsa, apa pula yang harus dilakukan bagi para pemuda dalam memberantas penyakit kronis Indonesia bernama korupsi?

Korupsi Merusak Tatanan Demokrasi
    Di tengah carut-marut bangsa ini. Di tengah himpitan ekonomi yang begitu sempit ini, korupsi datang menambah parah atas masalah-masalah yang bertubi-tubi menghantam Indonesia. Demokrasi yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti gagasan atau pandangan hidup yg mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara seakan hanya menjadi tulisan yang manis dibaca. Perlu kiranya digaris bawahi bahwa persamaan hak dan kewajiban itu masih sekadar mimpi indah yang masih diperjuangkan menjadi kenyataan.
     Lalu mengapa hal itu urung terjadi? Salah satunya, penyakit bernama korupsi menjangkiti raga bangsa ini. Korupsi yang bagai virus mematikan begitu gencar merusak kekebalan-kekebalan eksekutif, legislative, bahkan yudikatif—sebagai wakil rakyat—hingga tak jarang tampillah wajah-wajah penghianat bangsa di media yang memiliki jabatan tinggi di negara. Dari eksekutif sebut saja misalnya adanya dugaan keterlibatan dua menteri kabinet dalam kasus BI. Dari legislatif, tertangkap tangannya beberapa anggota DPR RI tatkala menerima suap. Dari pihak Yudikatif yaitu terbongkarnya campur-tangan jaksa dalam menghentikan kasus BLBI yang merugikan negera sebanyak ratusan triliun rupiah. Selain itu, masih banyak lagi kasus-kasus korupsi yang melimpah di negara tercinta ini andai kita mau menyelidiki dan mencari tahu.
     Korupsi telah menjadi budaya negatif bagi bangsa Indonesia. Budaya korupsi bukan hanya diterapkan di kalangan elit politik namun juga telah menjamur di kalangan rakyat (jelata). Tak jarang terdapat pemandangan korupsi kelas teri terjadi dalam kehidupan masyarakat kecil ini. Tak dapat disangsikan lagi, maraknya kasus korupsi mulai dari kelas teri hingga kelas kakap, baik yang dilakukan secara sendiri-sendiri maupun secara berjamaah lambat laun akan membawa Indonesia ke dalam jurang kehancuran. Korupsi bagaikan bencana banjir yang menenggelamkan visi dan misi bangsa Indonesia untuk menyejahterakan rakyat. Dampaknya pun bukan perkara ujung kuku. Indonesia sudah jatuh pamor dalam lingkungan internasional, hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum dan penyelenggaraan negara, hingga negera dirugikan entah sudah dalam nominal berapa. Begitu mustahil negara demokrasi bisa terwujud apabila hal itu berlarut hingga kehancuran yang sesungguhnya akan terjadi, ini hanyalah persoalan penentuan waktu kapan itu akan terjadi.

Peran Pemuda dalam Mengatasi Korupsi
      Sebelum dampak yang lebih buruk itu terjadi, Indonesia masih dapat menebas waktu sebelum waktu yang benar-benar menebas tengkuk bangsa Indonesia. Dengan pedang benama pemuda maka hal itu bisa menjadi nyata dan indah. Salah satu founding father Indonesia bernama Soekarno pernah berkata “berikan kepadaku sepuluh pemuda, maka aku goncangkan seluruh dunia”. Nah, bagaimana ketika semua pemuda Indonesia aktif bergerak melakukan perubahan memberantas korupsi? Hasilnya, bisa jadi dunia koruptor akan mengalami gempa tektonik yang begitu dahsyat.
      Mengapa harus pemuda? Tentu! Indonesia harus lebih memprioritaskan pemuda karena jiwa dan raganya yang dalam kondisi puncak, jernih, dan prima—serta diharapkan belum terkontaminasi—dapat memberikan pikiran dan tenaga yang maksimal untuk memunahkan korupsi. Pemuda yang sebagian besarnya mahasiswa masih terjaga keidealannya sebagai calon-calon pemimpin, agen perubah, dan pengontrol sosial. Perjalanan negara ini menjadi negara merdeka berlabel Indonesia juga diawali dengan aksi pemudanya lewat Sumpah Pemuda dan Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan yang didahului aksi pemuda bertajuk Peristiwa Rengas Dengklok. Masa reformasi pun diawali dengan gerakan pemuda yang membahana. Mereka adalah generasi-generasi emas sebuah bangsa. Mereka bak mutiara yang indah sebagai hiasan sekaligus senjata pamungkas bagi sebuah negara, khususnya negara Indonesia.
      Banyak langkah-langkah riil yang bisa dilakukan oleh para pemuda tersebut. Pertama, tentu memulai dari diri sendiri. Sebagai wujud nasionalisme maka pemuda terlebih dahulu menjadi ikon dalam menunjukkan sikap dan perbuatan antikorupsi. Kedua, jujur dan bertanggung jawab dalam setiap perkara yang dilakukan. Jujur dan bertanggung jawab begitu ringan di lisan namun begitu berat diperjuangkan. Adalah sebuah hal yang percuma tatkala para pemuda meneriakkan penolakan terhadap korupsi namun dalam diri sendiri tiada kejujuran dan aksi tanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukan. Pemuda hendaklah dapat mengalahkan hawa nafsunya atas hedonisme serta rakus uang dan kekuasaan sehingga nantinya menjadi pimpinan yang bersih dan amanah. Beratus tahun yang lalu, Sulaiman Bin Daud yang juga adalah ulama salaf (dalam Seribu Hikmah Ulama Salaf: Al-Muhaimid) pernah berkata bahwa sesungguhnya orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya lebih perkasa daripada orang yang mampu menaklukkan kota seorang diri.
     Selanjutnya, Para pemuda juga dapat aktif menyumbangkan pikiran, tenaga, dan dananya di Lembaga Swadaya Masyarakan (LSM) yang bergerak dalam penentangan korupsi, sehingga apa yang dilakukannya menjadi sumbangsih tersendiri bagi negara. Selain itu, para pemuda dapat juga menuliskan ide dan gagasannya dalam memberantas korupsi lewat tulisan yang mereka sebarkan melalui media elektronik maupun media cetak sebagai aksi peduli negeri dan aktualisasi diri pemerhati bangsa. Kemudian, pemuda pun dapat memberikan dukungan, saran, dan kepercayaan bagi lembaga yang bergerak langsung dalam menangani korupsi semisal Komisi Pemberantasan Korupsi agar kinerja lembaga tersebut lebih mumpuni dan maksimal. Serta masih banyak lagi kegiatan-kegiatan positif yang dapat dilakukan pemuda dalam aksi memberantas korupsi.
     Bangsa Indonesia begitu rindu dengan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran yang selama ini hanya menjadi wacana belaka. Tak ada alasan lagi bagi semua golongan untuk bergerak memberantas korupsi dan mengganyang koruptor tanpa pandang bulu. Khususnya bagi para pemuda sang masa depan depan bangsa karena dipundak merekalah ditaruh mimpi dan cita bangsa. Bergerak memanfaatkan potensi yang ada adalah langkah nyata yang dapat dilakukan para pemuda. Serta tak lupa, sebagai makhluk yang bertuhan, maka hendaknya setiap usaha dibarengi dengan doa dan diakhiri dengan tawakal kepada Allah Tuhan Semesta Alam. Mari bergerak, satukan langkah, hancurkan korupsi. Wallahu a’lam.