Ads 468x60px

Saturday, February 2, 2013

PERSAUDARAAN: BUKAN HANYA KATA SEMATA, WALAU IYA TELAH PUDAR!!!


Dokumen Pribadi
Bismillah,
       Semilir angin pantai mengawali jemariku merangkai setiap fonem yang akan berbentuk ayat-ayat tentang potongan kecil kehidupan di sudut kota Parepare. Sore ini, cuaca begitu bersahabat. Berbanding terbalik dengan keadaan subuh tadi dan siang hari tadi. Saat itu, hujan mengguyur ranah kota mungil ini.
     Dedaunan bergoyang gontai dihantam sang angin. Beberapa darinya jatuh sempoyongan menghantam bumi. Walaupun demikian, dedaunan tidak akan pernah membenci angin seperti kata seorang penulis yang belum pernah kulihat wajahnya-Tere Liye. Syahdan, bukankah Allah telah mengukur letak, waktu, dan keadaan jatuhnya daun tersebut ketika terlepas dari rantingnya?
     Di atasnya, ada burung-burung gereja kecil terbang meliuk-liuk sekitar seratus kaki dari dasar Jalan Keterampilan. Atau mungkin aku salah. Mungkin ia burung camar. Atau di belahan bumi sana menyebutnya burung dara laut. Yang pasti, ia adalah jenis burung yang solo-setia menghiasi langit di kawah Cappa Galung E ini. Kalau dalam novel “Bidadari-Bidadari Surga” gubahan Tere Liye menceritakan tentang keelokan Lembah Lahambay yang dipenuhi dengan hiasan polybag strawberi (apa lagi ketika ia ranum dan memberikan semburat merah di pelupuk mata), maka aku cukup bersyukur dengan keadaan Lembah Cappa Galung E ini.
      Lagi. Desau angin mencium wajahku. Ciuman yang bertubi-tubi. Apakah Anda pernah dicium? Kalau pernah, mungkin begitu ciuman angin yang kurasakan. Sejuknya menjalar hingga ke hati. Sekitar 159 meter dari tempatku menulis—tepatnya mengetik—, tak henti-hentinya kendaraan beroda dua, empat, enam, delapan, dua belas, bahkan mungkin enam belas lalu lalang membuang udara kotor. Tujuannya? Entahlah, yang pasti, ia begitu mengejar waktu dan menyelesaikan tugas para pengendaranya masing-masing.
      Jalan itu, jalan yang terhubung dengan kota-kota dan kabupaten-kabupaten. Daerah-daerah geografis tempat teman-teman kuliah saya tinggal. Yang mereka riuh kita waktu libur tiba, serentak bilang “Pulang Kampung”. Walau sebenarnya di antara mereka ada yang tinggal di kota tetap saja mereka bilang “Pulang Kampung”. Mereka seakan-akan terkena sidrom “euforia pulang kampung” ketika waktu libur tiba. Utara, Selatan, dan Timur, Kota Parepare ini benar-benar menjadi sentra perhubungan antardaerah. Begitu strategis.
      Mungkin ada yang bertanya, “kok tidak terhubung dengan barat sih?” jawabnya, iyalah, kan di barat hanya ada laut. Usahlah aku sebut mereka satu-satu. Membuat lembaran elektronik ini penuh dengan nama-nama mereka saja. Mungkin, nanti di suatu hari. Saat suasana spesial. Saat keadaan khusus. Saat ada adegan istimewa bersama dia atau mereka. Barulah kutuliskan namanya. Hingga fragmen-fragmen itu bagai terlihat jelas di mata Anda wahai pembacaku yang budiman (insya Allah). Oh maaf, aku lupa. Nama jalan yang strategis ini adalah Jalan Bau Maseppe. Bolehlah Anda di lain waktu berjalan-berjalan ke jalan ini untuk membuktikannya secara langsung dengan mata kepala Anda sendiri dan mata kepala teman Anda.
     Prolog ini mungkin terlalu lama dan panjang. Ada juga dari Anda mungkin berkata bahwa prolognya terlalu melankolis. Yah, ini terjadi karena suasana yang begitu indah terhampar di depan mataku. Begitu kuat mengakar diingatanku. Begitu bercampur rasa yang mengaduk hatiku. Yang jelas untuk memulai tulisan ini, kata yang menggambarkan lukisan pemandangan yang mengiringinya hanya satu kata. Indah. Yah, Indah.
    Andai Anda ada di sini. Tentu Anda akan setuju dengan apa yang saya ungkapkan bahkan siap mengaklamsi apabila ada orang-orang di luar sana yang ingin menggugat deskripsiku tentang hal ini dengan kata “Berlebihan”, “Hiperbola”, “Lebay, “Ghulu’”, dan berbagai kata lainnya yang terkesan “iri”. Entahlah.
      Baik, kita masuk ke tema curhatan. Apakah Anda mempunyai saudara? Atau mungkin Anda saudara kembar barangkali? Bagaimana rasanya memiliki saudara? Menyebalkan? Ataukah menyenangkan? Maaf mencecar Anda dengan tubian pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sulit untuk kujawab. Karena Bapak dan Mamaku hanya “bermufakat” untuk melahirkanku seorang. Jadilah aku manusia kesepian tanpa ada saudara sedarah untuk saling berbagi rasa. Sekali lagi maaf, itu bukan tujuan curhatan kali ini.
      Ada yang hilang akhir-akhir ini di ranahku. Indonesia pada umumnya. Yang hilang itu, dan yang paling mencolok—setidaknya di mataku—ialah persaudaraan. Benar, persaudaraan. Untuk menguatkannya di otak Anda kuulang sekali lagi, yang hilang itu adalah PERSAUDARAAN.
      Sering karena persoalan yang remeh temeh persaudaraan berubah menjadi pertengkaran. Persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan jalan “kekeluargaan” atau jalan komunikasi dengan nge-teh—kata salah satu iklan yang pernah kulihat di teve. Namun, karena dibiarkan larut, akhirnya terjadi perselisihan, hingga persaudaraan pun menjadi renggang bagai karet di musim dingin, susutnya minta ampun! Bukan begitu wahai pembaca?
      Itu masih pada tahap persoalan kecil. Bagaimana dengan persoalan yang lebih besar. Tarulah kita ambil contoh Pemilihan Umum Gubernur Sulawesi Selatan yang baru saja kita euforira-kan di Provinsi kita. Wah, begitu banyak perselisihan yang terjadi. Bukan hanya calonnya yang berselisih, bahkan simpatisannya pun ikut-ikutan berselisih bahkan ingin bentrok satu sama lain. Haa, herman saya, maksud saya, heran saya (dalam tulisan ini, kata ganti pertama yang digunakan penulis berganti-ganti, disesuaikan dengan konteks-Red). Mungkin, di saat yang bersamaan, di saat saya merangkai kata dalam curhatan ini, ada saja saudara-saudara kita yang bertengkar hati, lisan, bahkan perbuatannya di sana. Tidak percaya? Coba lihat berita di teve sekarang, kalau bukan pembunuhan dan perkelahian, beritanya pasti tentang pemerkosaan, kisruh politik, perselingkuhan artis, hingga jeratan narkoba. Membuat saya mengkal ketika mata berhadapan dengan layar.
     Tak tahukah kita bahwa antara mukmin yang satu dengan mukmin yang lain itu bersaudara. Innamal mu’minuna ikhwa kata Allah dalam Kitab-Nya. Atau memang kita masih pada tataran muslim hingga harus menjadikannya kambing hitam demi menghalalkan perselisihan? Alasan yang bodoh kalau demikian. Karena setiap muslim di belahan dunia manapun itu juga bersaudara!
      Saya tak henti-hentinya berdecak kagum dengan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar wahai pembaca yang budiman. Tentu Anda tahu tentang kisahnya, bukan? Tarulah kita ambil contoh kisah seorang sahabat dari kaum Muhajirin bernama Abdurahman bin ‘Auf dengan salah seorang sahabat dari kaum  Anshar. Mereka dipersaudarakan oleh Rasulullah saw di tanah Madinah. Lihat ketika mereka bersaudara. Sang sahabat Anshar rela membagi hartanya dengan sahabat Abdurahman bin ‘Auf. Bahkan rela menceraikan istrinya—ia memiliki dua istri—untuk “dibagikan” dengan saudara barunya itu. Masya Allah.
   Perpecahan yang paling sering terjadi ialah dengan tetangga kita. Karena persoalan kecil saja, kita ngambekan berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun—wal ya’udzu billah. Bukankah kita diperingatkan oleh Rasulullah saw untuk berbuat baik kepada tetangga kita? Bahkan Rasulullah saw hampir mengira bahwa tetangga mempunyai hak waris terhadap beliau? Yaa Allah, hamba memohon ampun atas tetangga-tetangga yang pernah hamba sakiti hatinya baik yang hamba lakukan dengan sengaja atau pun tidak.
     Kita tak pernah habis-habisnya mendapatkan contoh tentang kebaikan di dalam Islam. Karena Islam sendiri memang tidak meninggalkan banyak bangunan sejarah. Walau demikian Islam mewariskan kita banyak hikmah dan sirah tentang budi pekerti, moral, dan kebaikan lainnya. Taruhlah uswah utama kita, Rasulullah saw. Lihat bagaimana hubungannya dengan tetangganya yang nonislam. Lihat ketika beliau diperlakukan secara tidak hormat dengan tetangga Yahudinya. Dicerca dan dilepari kotoran. Apa yang dilakukan oleh beliau? Apakah beliau mendatangi rumah sang Yahudi tersebut dan menghantam mukanya dengan martil? Ataukah melemparkan muka sang Yahudi dengan kotoran unta? Anda benar-benar salah kalau mengangguk apalagi bagi yang berkata “Yah, tentu” karena saking emosinya dengan Yahudi tersebut.
    Hei, beliau bukan kita yang begitu temperamental dan emosional. Yang beliau lakukan justru bersabar menghadapi sang Yahudi tak tahu diri tersebut. Namun yang lebih mencengangkan lagi ialah ketika sang tetangga Yahudi itu sakit. Mungkin ketika kita berada di posisi Rasulullah saw, hati kita tentu berbunga-bunga dan bersyukur hingga menyumpahi agar sang tetangga lekas dicabut nyawanya saja. Namun Rasulullah saw wahai pembaca yang budiman bukanlah kita yang penuh dengan kekurangan. Beliau menjenguknya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam cahaya Islam. Yaa Allah, kita?
     Ada tiga tingkatan persaudaraan menurut salah seorang bijak wahai pembaca. Yang pertama ialah ridho kepada perbuatan saudaranya. Yang kedua mencinta apa yang dicintai saudaranya. Dan tingkatan yang paling tertinggi ialah mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan pribandinya. Nah, telah sampai di manakah persaudaraan kita? Di level manakah kita sedang berpijak? Saya pun malu untuk menjawabnya wahai pembaca.
     Saya benar-benar malu terhadap semut merah. Yang berbaris di dinding. Yang bergerak jalan di tanah. Dan di mana pun mereka berada. Bukan karena mereka menatapku curiga dan menayakan “sedang apa di sini?” kepadaku. Aku pun tidak menjawab “menanti pacar” seperti yang dikatakan oleh Chrisye Rahimahullah. Aku malu kepada mereka karena mereka begitu menjaga jalinan silaturahim dan menjunjung tinggi norma persaudaraan. Coba Anda sekali-kali perhatikan tingkah mereka. Sesibuk apapun makhluk-makhluk kecil itu, ia selalu meluangkan waktu untuk saling “menabrakkan kepalanya” dengan saudara sesama semutnya yang lain. Mungkin dalam versi bahasa kita, mereka saling mengucap salam atau hanya sekadar bertanya kabar. Sungguh makhluk kecil yang begitu lucu dan imut. Sampai-sampai, nabi Sulaiman as pun tertawa karenanya. Mut, semut, imut loh,... hehe
      Saya juga malu kepada tetangga semut bernama lebah. Sungguh benar-benar malu. Sekumpulan lebah ini hanya mencerminkan kebaikan. Bahkan bisa menjadi simbol kebaikan kalau kita bersepakat. “Mengapa?” pertanyaan itu mungkin terlintas dipikiran Anda setelah bersusah payah melewati alam bawa sadar Anda dan menembus ke otak kiri hingga menghembuskannya melalui vokal cempreng (bagi yang memiliki suara tidak cempreng tidak usah marah) Anda secara tidak sadar. Saya bertanya balik kepada Anda, perilaku tidak baik apa sih yang ada pada sang lebah? Ia suka menggigit? Hei, lebah tidak menggigit, hanya menusukkan benda tajam yang ada di pantatnya. “Iya, maksudnya begitu!” jawab Anda. Lebah gila mana sih yang mau menusukkan senjatanya ke tubuh Anda kalau Anda tidak punya salah?
     “Lebah itu juga tinggal di pohon dekat rumah saya, hingga saya takut melawatinya kalau ke kampus. Harus mutar dulu, gitu...” alasan lain Anda. GEDUBRAKKK. Hei, mereka juga butuh tempat tinggalkan? Lagi pula tidak ada tanda larangan horizontal merah zona anti lebah yang tertancap di halaman rumah Andakan? bukan begitu?
       Selain itu, lebah juga menghasilkan madu untuk kita nikmati manfaatnya. Mereka pun kalau hingga di ranting-ranting pepohonan, tidak merusak. Lah, letak teladan persaudaraannya di mana? Baik, coba lihat kalau sarang lebah diganggu oleh manusia, kira-kira peristiwa dahsyat apa yang terjadi? dengan mempertaruhkan nyawa dan harga diri, para lebah berkumpul mengatur strategi dan bekerja sama menyerang manusia yang mengganggu kehidupan mereka. Mereka kecil tetapi mereka berani.  Mereka lemah, namun karena bersatu mereka kuat. Tugas mereka masing-masing berbeda, namun toh mereka juga bersaudara. Sungguh makhluk yang penuh dengan kebaikan. Kalau saya disuruh memilih harus menjadi makhluk apa selain manusia? Saya akan memilih makhluk kecil ini walau seluruh dunia bersekutu untuk menjadi burung merpati.
       Belum lagi filosofi sapu lidi. Mungkin pembaca sudah pernah mendengarnya. Tentu satu lidi tak akan bisa menyapu kotoran walau hanya satu pembungkus kacang garuda. Namun ketika sekumpulan lidi-lidi diikat dan disatukan, kotoran mana sih yang tak bisa disapu?
       Ada baiknya kita bisa mencontoh kebaikan-kebaikan yang ada pada mereka. Mengejawantahkannya ke dalam desahan napas kita. Menjadikannya bianglala dalam aktivitas kehidupan kita. Menghamparkannya dalam permadani-permadani persaudaraan kita. Utamanya mengikuti cara Rasulullah saw dalam bersaudara walau pun dengan media persaudaraan yang berbeda-beda. Bukankah beliau adalah teladan terbaik seperti mukadimah perhelatan kita?
    Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Ali Imran: 31).
Wallhu a’lam. Semoga bermanfaat.

Dokumen Pribadi


30 Januari 2013
Lembah Cappa Galung E yang permai

Catatan: Tulisan ini juga kupersembahkan kepada saudara yang masih mendiamiku hingga saat ini. Tahukah engkau, bahwa aku mencintaimu karena Allah. Alangkah indahnya ketika kita saling mendengarkan bukan mengedepankan sikap egois dan kesenioritasan. Bukankah adik maupun kakak mempunyai hak untuk saling menasehati? Sekali lagi, saya memohon maaf atas segala yang menggoreskan luka tajam dalam hatimu wahai saudaraku. Uhibbuka fillaah yaa akhi. Semoga engkau pun demikian, jauh dalam lubuk hatimu yang terdalam.
           

           

0 comments:

Post a Comment