Ads 468x60px

Sunday, March 25, 2012

Mengapa Mesti Mencelah Hujan?

   “Hujan mi sede’, akhhh stresku!”, “mdd… baru kie sudah mencuci, hujan mi, argggg!”, “Awwa, kenapa ko hujan!? Mau ma lagi pergi malam mingguan?”, “we kasiank, kenapa hujan terus, tidak ada mi ini sapake kuliah!!?”
    Hehe… Kalimat demi kalimat kekesalan atau pun kegalauan tersebut tak jarang kita dengarkan, baik dari teman-teman sekelas, saudara, keluarga, atau bahkan mendengar dari diri sendiri. Wajarlah, apabila mentari sangat dinantikan kehadirannya atau pun cuaca cerah kiranya, eh,  awan menggumpal kehitaman yang datang membawa sebulir hujan dkk. untuk membasahi bumi. Tak pelak, ungkapan-ungkapan kekesalan itu meluncur keluar begitu saja.
    Nah, giliran matahari terus bergaya memamerkan sinarnya hingga sore menjelang petang, eh kita malah bilang “panassssss….”, “serasa kayak di neraka saja panasnya”-memang pernah ke sana, hehe-, ada lagi nih, “wah ini oven atau kamar?”, “we… hujan lalo ko…”. Haha… dasar memang kitanya mungkin yang tidak konsisten, sebenarnya mau cuaca yang bagaimana sih?
    Nah, beberapa waktu lalu, penulis datang ke sebuah taklim yang membahas persoalan hujan. Nah berikut beberapa penjelasan yang mencerahkan agar kita bisa berdamai dengan makhluk ciptaan tuhan bernama “hujan” tersebut.
    Saudaraku, hujan yang dari dulu kita selalu celah, ternyata merupakan rezeki dari Allah Swt. Tidakkah engkau percaya? Dalam Firman-Nya:
Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah: 22)
Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kalian, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kalian mengembalakan ternak kalian.” (QS. An-Nahl: 10)
Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan Dia menyebarkan rahmat-Nya.” (QS. Asy-Syuraa: 28)
     Mengakui bahwa hujan itu adalah karunia Allah merupakan salah satu ciri orang yang beriman. Dari Zaid bin Khalid Al-Juhaini radhiallahu anhu dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin kami shalat subuh di Hudaibiah di atas bekas-bekas hujan yang turun pada malam harinya. Setelah selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak lalu bersabda, “Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?” mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “(Allah berfirman), “Subuh hari ini ada hamba-hambaKu yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang berkata, “Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya,” maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata, “(Hujan turun disebabkan) bintang ini atau itu,” maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR. Al-Bukhari no. 1038)
    Saudaraku, ternyata pada waktu hujan itu, merupakan salah satu waktu yang mustajab (manjur) agar doa dikabulkan. Hadits dari Imam Syafii dan Baihaki, yang disahihkan Syekh AlBani berbunyi:
Carilah doa yang mustajab pada 3 keadaan yaitu: bertemunya dua pasukan, menjelang salat dilaksanakan, dan pada saat turunnya hujan.”
    Lalu, ketika kita sudah tahu bahwa hujan adalah nikmat yang luar biasa serta GRATIS dikaruniakan untuk kita dari Allah, masihkah kita mau mencelahnya? Seharusnya, yang kita lakukan ialah berdoa dan mensyukuri nikmat tersebut.
    Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat hujan, maka beliau berdoa, “ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI’AN (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang deras lagi bermanfaat).” (HR. Al-Bukhari no. 1032)
    Hujan… hujan…
    Yah saudaraku, mari bersama-sama menghilangkan kebiasaan buruk kita mencelah dan tidak mensyukuri nikmat hujan ini karena "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf [50] : 18).
     Semoga, ketika hujan turun, kita dapat berkata “Alhamdulillah, masih bisa ka lihat lagi hujan.”, “wuih, hujan membawa kesejukan!”. “semoga hujan ini menghapuskan dan meluluhkan dosa-dosaku ketika butiran-butirannya membasahi tubuhku.” Dsb. Karena, ketika kita bersyukur, maka Ia senantia menambah dan menambahnya. Namun tatkala kita kufur dan tak bersyukur, maka tunggulah Azab-Nya.

25 Maret 2012
Hapuskanlah dosa kami dari air-Mu, dari embun-Mu, dari salju-Mu, dan dari hujan-Mu yaa Rabb

Sumber:
Ust. Slamet. 20 Mei 2012. Taklim Ar Rahmah.
http://al-atsariyyah.com/hujan-dalam-syariat-islam.html
http://katamanis-katamanis.blogspot.com/2011/11/jangan-mencela-hujan.html
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTEuqDGxgVUFNplqIlWSzqmHRw3B1c5Bop2P8QKhSo0zIrfS-OYSOngFSz3qcGyDxgzuEpaXcq9h_DbKrgUI3hiq28jeQa-i1JwS81gaE1Ahv-prHGWSOka283G7lM5nGCUtHWWYrNua4/s1600/Where_Rain_Grows_by_x_horizon.jpg

0 comments:

Post a Comment