Ads 468x60px

Wednesday, April 18, 2012

Orator Perempuan dalam Catatan Sejarah Islam

     Saudaraku, orator dalam kamus bahasa Indonesia berari orang yang ahli dalam berpidato. Nah, orator identik dengan aksi demonstrasi. Pertama kali ikut demonstrasi, kukatakan dalam hati “wah siapa orang ini, jago banget berbicara.”  Yah begitulah, tidak gampang menjadi seorang orator karena harus memiliki kemampuan retorika dan pengetahuan yang luas seperti cakrawala. Orator biasanya berorasi apabila ada yang ingin disuarakan. Khusus dalam demonstrasi, orator mewakili rakyat untuk disuarakan hak-haknya.
     Dominannya, orator adalah laki-laki (sependek pengetahuan penulis). Orator perempuan sungguh langka adanya kecuali beberapa yang mungkin hanya bisa dihitung jari seperti Hillary Clinton, Megawati, dan Mama Dede. Nah, kalau orator dari laki-laki sungguh melimpah ruah, seperti Soekarno, Hitler, Ahmadinejad, Zainuddin MZ, AAGym, dll.
     Nah, yang ingin saya bagikan kali ini ialah, sejarah Islam mencatat ada seorang orator perempuan yang sungguh cerdas  menyuarakan hak-hak perempuan. Beliau merasa Islam kurang adil dalam memperlakukan hak-hak perempuan dengan hak-hak laki-laki, bahwa laki-laki cenderung lebih utama dan pertama dibandingkan dengan perempuan, benarkah demikian? Apakah Engkau wahai saudariku di jalan Allah yang membaca artikel ini pun berpikir demikian? Sebelum Engkau menjawab, simak penjelasan dari pembawa agama ini (shallallahu ‘alaihi wasallam).
     Perempuan ini berasal dari kaum Anshar (bertempat di Madinah) yang memimpin delegasi kaum perempuan datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu, beliau sedang berkumpul dengan sahabat-sahabat beliau. Perempuan itu lalu berkata,
     “Demi Bapak dan Ibuku, wahai Rasulullah, saya adalah delegasi kaum perempuan yang sengaja datang menemuimu ingin menanyakan suatu persoalan. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada kaum laki-laki dan kaum perempuan secara keseluruhan. Kami mempercayaimu, dan kami percaya terhadap Rabbmu. Kami kaum perempuan adalah pihak yang termarjinalkan dan gerak kami terbatas. Kami menjadi penjaga rumah kalian, pemuas nafsu kalian, dan mengandung anak-anak kalian. Kalian, para kaum laki-laki, mempunyai keistimewaan daripada kami dengan salat Jumat, dan berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, bisa berkali-kali menunaikan ibadah haji, umrah, atau berperang, kami menjaga harta kalian, menyiapkan pakaian kalian, dan mendidik anak kalian. Apakah kami tidak bisa melakukan kebaikan yang sama dengan kalian dan juga mendapatkan pahala yang sama?”
     Mendengar pengaduan perempuan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menoleh kearah sahabat-sahabatnya seraya bersabda,
     “Pernahkah kalian mendengar ungkapan seorang perempuan yang lebih mengerti akan permasalahan agamanya dari perempuan ini ?”
     “Ya Rasulullah, menurut kami tidak ada perempuan yang lebih paham terhadap agamanya dari perempuan ini.”
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menoleh kearah perempuan itu lalu bersabda,
    “Ketahuilah wahai perempuan, dan beritahukan kepada perempuan-perempuan yang kamu pimpin (dan kuaharap kalian juga yang membaca artikel ini, pen.), bahwa pahala perempuan yang taat kepada suaminya, meminta keridhaannya, dan mengikuti apa yang diinginkan oleh suaminya, menyamai pahala laki-laki yang melakukan kebaikan di atas.”
    Usai mendengar penjelasan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perempuan itu pergi dengan wajah yang berseri-seri.

                                                                            ***

    Masya Allah, masihkah Engkau berpikirian demikian wahai saudaraku? Semoga tidak karena Allah dan penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya Allah itu Dzat Yang Mahaadil wahai saudaraku. Bahwa hak-hak kaum Hawa akan senantiasa dibagi secara adil seadil-adilnya dengan hak-hak kaum Adam oleh Allah Azza wa Jalla. Sesunguhnya kita tidak memerlukan kesetaraan gender dan Hak Asasi Manusia karena Islam telah mengatur itu semua. Kita saja yang kurang memahami dan memperdalam agama ini. Bahwa kita yakin dua jam pelajaran agama setiap minggu di sekolah dahulu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan spiritual kita, benarkah demikian?
    Andai itu benar adanya, maka negara ini akan sejahtera. Namun faktanya, masih banyak saudara-saudara kita di luar sana masih mempertanyakan keeksistensian Tuhannya, “Apakah benar Tuhan itu ada?” katanya. Bahkan dengan entengnya berkata, “Kalau kau percaya Tuhan tunjukkan Tuhanmu!”. Subahanallah generasi yang tak bisa diharapkan. Aku katakan, orang yang demikian tidak mempunya akal dalam kata lain dia adalah orang gila, mengapa demikian? Bisakah ia menunjukkan akalnya sebagaimana ia berkata bahwa tunjukkan kepadanya Tuhan itu?
    Salah satu bab dalam kitab Imam Bukhari yang berbunyi “Berilmu Sebelum Berkata dan Beramal” telah menyetakkan hatiku dan semoga juga menyentak hatimu. Maka mari saudaraku, jangan bosan menuntut ilmu agama yang sama-sama kita ketahui merupakan salah satu sarana menaikkah derajat di mata Allah.

 …(يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ (11…

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujaadilah: 11)
Jika engkau ingin meraih dunia maka ilmu adalah jalannya, jika engkau ingin meraih akhirat maka ilmu adalah jalannya, dan jika engkau ingin meraih keduanya seperti halnya aku wahai saudaraku di jalan Allah, maka ilmu jualah jalannya.
     Abu Musa mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Perumpamaan apa yang diutuskan Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gembur yang dapat menerima air, lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak. Daripadanya ada yang keras dapat menahan air dan dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia lalu mereka minum, menyiram, dan bertani. Air hujan itu mengenai kelompok lain yaitu tanah licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan apa yang diutuskan kepadaku bermanfaat baginya. Ia pandai dan mengajar. Juga perumpamaan orang yang tidak menghiraukan hal itu, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah yang saya diutus dengannya."
    Maka, sebaik-baik manusia ialah orang yang paling bermanfaat di antara manusia lainnya. Aku tutup dengan sebuah hadits dari Imam Muslim dan semoga kita termasuk orang-orang didalam hadits tersebut,
    “Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.”

18 April 2012
Ku ingin memetik bunga di taman Firdaus

Sumber:
Hakim, Manshur Abdul. 2011. Wanita-Wanita Cerdas Sepanjang Masa. Solo: At-Tibyan
http://us.123rf.com/400wm/400/400/alexmit/alexmit1103/alexmit110300035/9199250-orator- on-tribune--speaks-in-front-of-people-isolated-on-white.jpg

0 comments:

Post a Comment