Ads 468x60px

Wednesday, October 17, 2012

HUJAN DI HARI PERTAMA BULAN ZULHIJAH


Bismillah…

            Baru saja aku pulang dari taklim rutin di sebuah masjid di belakang kampusku. Nama masjidnya ialah Ar-Rahma. Taklim tadi membahas tentang keutamaan bulan Dzul Hijjah—kalau dalam KBBI tertulis Zulhijah. Kawan, sungguh agung bulan ini, apatah lagi di sepuluh hari awal bulan ini, sungguh-sungguh agung dan penuh kebaikan. Kumohon, jangan sia-siakan bulan ini!!!
            Gairah untuk menuntut ilmu agama semakin hari semakin membuncah dalam dadaku, begitu rindu aku meneguknya, mencari tetes demi tetes ilmu tempat ia jatuh dari wadahnya. Begitulah ilmu kawan, ia didatangi bukan mendatangi. Ketika engkau mencurahkan segalanya untuk mendapatkan ilmu, maka yang engkau tuai hanya setengahnya. Apatah lagi kalau engkau hanya setengah-setengah menuntut ilmu, maka jangan harap mendapatkan ilmu yang lebih. Karena barang siapa meniti jalan menuntut ilmu, Allah akan memudahkannya menuju jalan menuju janah-Nya.
            Seusai taklim, seperti biasa, Saudara Ruslan menggelar acara bazar buku. Namun berbeda untuk malam kali ini, diskon sampai lima puluh persen, bayangkan. Cukup dongkol aku tadi, hanya satu yang kubeli karena saking banyaknya ikhwan yang juga tak kalah ganasnya menatap dan meniti setiap buku dengan harga setengah yang terbanting. Dari Al qahtani hingga Ibnu Qoyyim, semua diskon lima puluh persen, masya Allah.
            Wajar saja, kalau bagi Tsubasah Osora, bola adalah teman, namun bagi kami buku itu ibarat istri. Makin bermakna isinya, makin saleh ia. Apatah lagi ketika sampulnya juga indah, maka mungkin itu sebagai pemanis di cawan hati kami, istri yang cantik. Saleh nan cantik. Namun ketika maharnya murah, maksudnya harganya murah, istri beginilah, maaf maksud penulis, buku inilah yang kami buruh. Apa lagi sang istri dari keturunan yang luar biasa, maksudnya penulisnya memiliki aura dan amal saleh serta pemikiran yang luar biasa, maka buku itu merupakan istri idaman bagi kami. Catat itu, kawan!
            Setelah itu, aku pamit pada mereka dengan salam, lalu kukayuh sepeda putih hitam bekasku yang beberapa bulan lalu kubeli dan kuberi nama Al Asykar—nama kuda Khalid bin Walid. Ia jugalah yang senantiasa menemaniku pergi ke majelis-majelis ilmu dan meniti kuliah di kampusku. Begitu berarti tunggangan ini bagiku, Alhamdulillah.
            Selagi kukayu, terlintas sebuah ingatan bahwa ternyata sore tadi hujan turun membasahi dan melumuri bumi dengan kasih dan cintanya. Yah, hujan kawan, momen yang sangat kurindukan. Sore tadi pula, karena saking rindunya hati dan jiwa ini dengan hujan, kuganti pakaianku dengan pakaian yang kotor lalu kukendarai Al Asykar keluar menuju hujan. Yah, mandi-mandi hujan. Luar biasa gembiranya hati ini, kawan.
            Ini adalah nikmat dari Allah. Ia turunkan tetesan-tetesan hujan ini ke bumi Daeng, yang mungkin tak semua daerah mendapatkan jatah hujan dari-Nya. Dengan hujan, Ia suburkan tanah-tanah gersang. Dengan hujan, Ia hidupkan negeri yang telah mati. Dengan hujan, ia tumbuhkan tumbuhan dan buah-buahan untuk dinikmati oleh manusia. Maka dari itu, mari untuk selalu berdoa agar diberikan hujan yang bermanfaat bagi tanah kita ini. Semoga dengan kesyukuran maka Allah menambah nikmat itu. Namu kawan, ketika engkau membenci setiap pemberian-Nya, maka boleh jadi engkau telah kufur dan bersiaplah menerima adzab dari apa yang engkau lakukan. Wallahu musta’an.
            Sore tadi pula, kukayuh sepeda keliling kompleks hartako—kompleks tempatku tinggal. Badan ini rindu bermandikan hujan. Di tengah perjalanan, kulihat sekumpulan anak kecil juga menikmati keadaan dan suasana yang sama. Bermain bola di tengah hujan. Lalu kukenang pula diriku sewaktu belum cukup umur. Dahulu, ketika hujan turun, maka kulepas baju lalu aku berlari keluar rumah dengan euforia yang sungguh berlebihan mengecup hujan dan berdansa bersamanya.
            Ini hujan kawan. Hujan yang baru bertamu setelah sekian lama melanglang buana entah ke mana. Ini hujan di awal Zulhijah, bulan penuh kemuliaan. Dua kali aku mengelilingi kompleks tuk menyambutnya. Dan berkali-kali pula aku mengumbar senyum kegirangan. Begitu indah ketika setiap tetes hujan membasahi kulit ini dengan kecepatan yang luar biasa membangkitkan rasa dan adrenalin ini, begitu tak menentu. Mungkin, ia lebih indah dibandingkan dengan berduaan dengan kekasih yang tak halal. Mungkin ia lebih nikmat dibanding sebungkus rokok bermerk dengan peringatan vatal yang tertulis besar di bagian bawahnya. Dan mungkin juga, ia lebih indah dibandingkan dengan aksi solidaritas lempar batu anatar mahasiswa yang terjadi di kampusku beberapa waktu lalu. Serta berbagai kemungkinan lain yang tak mungkin mengalahkan keelokan hujan di sore hari di awal bulan Zulhija.
            Aku tak peduli kalau saja ada orang yang mengatakan, “ini orang, sudah berjenggot masih saja mandi-mandi hujan”, bahkan mungkin ada yang berkata “seperti anak kecil saja main hujan-hujan, apa sudah gila yah?”. Kukatakan sekali lagi, aku tak peduli.
            Ini luapan rindu untuk sang penentram hatiku. Ia bagaikan kekasih yang datang dari jauh. Dan kuucap syukur untuk nikmat yang satu ini. Dan tak ada yang salah ketika seorang dewasa meluapkan kegembiraannya terhadap datangnya hujan dengan bermain-main hujan. Tak ada larangan kawan. Engkau boleh mengajak istri untuk bermain hujan bersama nantinya, tak ada yang melarang. Dengan itu pula, semoga benih-benih cinta itu makin subur dan menggelayut di setiap dahan-dahan dalam lubuk hatimu.
            Ini hujan, kawan. Ini hujan di bulan Zulhijjah. Begitu indah, begitu nyata.
            Yah, keindahan itu terjadi sore tadi. Sekarang masih kunikmati sisa-sisa kedatangan hujan. Engkau tentu tahu bagaimana aroma ketika hujan selesai turun. Aromanya khas. Aroma dedaunan yang bercampur dengan bauh hujan. Bukan hanya itu, partikel-partikel aroma aspal pun ikut menyatu dalam metamorfosa aroma hujan. Kupinjam untaian kata Andrea Hirata, ini euphoria di musim hujan.
            Tadi pun sewaktu dalam kayuhan sepeda, begitu yang kurasakan. Di jalan-jalan kota Makassar terpampang aroma khas semerbak menyelimutinya. Ia bercinta dengan kegelapan malam dan membagikan cintanya kepada manusia-manusia yang juga menaruh cinta dalam hatinya. Cinta yang nanti ia pertanggungjawabkan di hadapan Maha Pencipta cinta dan Maha membolakbalikkan hati karena cinta. Baik itu cinta yang ia rahmati atau pun cinta yang masih dalam tahap menuju cinta berlabel halal kalau tak boleh aku menyebutnya percintaan yang sesat dan menyesatkan.
            Ini hujan di awal bulan Zulhijah, kawan… maka sambut dengan kesyukuran…

17 Oktober 2012

0 comments:

Post a Comment