Ads 468x60px

Tuesday, April 16, 2013

Belajar Menikmati Hidup dan Tidak Gila Urusan!


Bismillaah...
www.multiply.com
            Ada banyak cara bagi seseorang untuk melampiaskan kekesalan dan keresahan hatinya. Ada cara yang positif, namun ada pula cara yang negatif. Cara negatif sama-sama kita ketahui  seperti mengumpat, mencelah, berkelahi, dan sebagainya. Sedangkan cara yang positif ialah menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang ia sukai serta bermanfaat bagi seperti menulis kekesalannya lewat sebuah tulisan, banyak mendengarkan murottal (bacaan Alquran dengan irama sedang), membaca, berolahraga, dan berbagai macam cara lainnya. Dan apa yang sedang pembaca nikmati ini adalah bentuk sebuah kekesalan dan keresahan dalam sebuah tulisan.
            Cuaca memang tiada yang bisa menebak kecuali Yang Maha Penciptanya sendiri kemudian malaikat yang Ia perintahkan untuk membagikan rezeki hujan tersebut ke bumi cinta-Nya. Dua hari yang lalu, kita saksikan sendiri bahwa Jazirah Makassar sedang hangat-hangatnya dalam pelukan mentari. Namun, kemarin dan pagi ini, mentari bersembunyi entah ke mana. Awan menggumpal datang dan menurunkan butiran-butiran air yang lembut. Membasahi bumi dengan kasih dan sayang hingga tetumbuhan pun kembali bersememangat untuk melakukan dinamisme hidup.
            Pagi dan mendung. Sebuah perpaduan indah yang biasanya menghasilkan kemalasan bagi sebagian orang hingga lebih memilih berada di balik selimutnya dari pada mencari aktivitas lain, apatah lagi kalau memang hari itu sedang libur dari berbagai aktivitas duniawi seperti kuliah, sekolah, dan bekerja. Namun, mungkin bagi sebagian orang menyatakan kesyukurannya karena telah lama menunggu cuaca dan suasana yang demikian hingga memberikan aura positif bagi dirinya untuk berbuat dan melakukan sesuatu. Benar-benar, kita harus memahami seseorang dan tidak memaksakan kehendak diri pribadi untuk menyukai hal yang kita sukai.
            Setidaknya, kita perlu belajar. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa tidaklah beriman seseorang sampai mencintai sesuatu yang yang juga dicintai saudaranya. Sebuah perkataan indah dari pemilik Jawami’ Al-qalim (sedikit kata padat makna), Rasulullah saw.
            Tahukah kita pembaca, mungkin kita pernah menegur seseorang yang sebenarnya teguran kita itu lebih pantas untuk diri kita sendiri—Penulis pernah melakukan hal yang demikian entah berapa kali. Kita dengan sedemikian pongahnya memberikan keritikan kepada orang lain dengan perkataan yang kasar hingga benar-benar bemaksud menjatuhkan dan menyakiti hati saudara kita. Kita begitu tega dan tak mau pusing dengan peluruh-peluruh yang terlontar dari mulut ini, peluruh-peluruh yang hakikatnya akan kembali menembuh raga kita di hari akhir nanti. Pernah kita sadar apa akibatnya nanti sebelum melepaskan hardikan, cacian, dan celaan tersebut. Kita merasa bahwa ini adalah nasehat namun kita tuliskan atau bahkan kita katakan dengan perkataan-perkataan kasar. Kira-kira apa tanggapan dari orang yang kita “nasehati” tersebut? Bagaimana jikalau posisi kita di balik, kita yang di“nasehati” dengan perkataan kasar tersebut, apa yang kira rasakan dan lakukan?
       Atau bahkan lebih parahnya lagi, kita mungkin  telah berembuk dengan teman-teman kita memperbincangkan sesuatu yang tentang kekeliruan yang dilakukan oleh saudara kita tanpa menyembunyikan identitas saudara kita itu ketika meminta sebuah pendapat untuk menasehatinya. Paham maksud saya wahai pembaca? Pernahkah kita melakukannya? Padahal kita boleh jadi tidak tahu bahwa hal itu akan menyakiti saudara kita. Dan tahukah pembaca bahwa hal itu adalah gibah?
            “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat; 12)
            Kita mungkin dengan bangganya berkata bahwa apa yang kita perbincangkan (bahasa kasarnya gosipkan) itu adalah kebenaran tanpa memedulikan apakah saudara yang menjadi objek diskusi kita sakit hatinya atau tidak. Namun tahukan kita bahwa itulah sejatinya gibah. Karena dalam sebuah riwayat dari Tirmidzi dikatakan bahwa:
             “Abu Hurairah berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, apakah gibah itu?" beliau menjawab: "Kamu menyebutkan tentang temanmu dengan sesuatu yang ia benci." Ia bertanya lagi, "Bagaimana sekiranya apa yang kukatakan memang benar?" Beliau menjawab: "Jika memang apa yang kamu katakan itu benar, maka sungguh kamu telah menggibahnya, namun jika apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka sungguh kamu telah berdusta." Hadits semakna juga diriwayatkan dari Abu Bazrah, Ibnu Umar dan Abdullah bin Amr. Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.”
            Anggaplah kita di posisi yang dibicarakan dan diceritakan kekeliruannya, bagaimana perasaan kita? Ketika hal tersebut diklarifikasikan kita menjelaskan tentang “kekeliruan” tersebut namun orang yang memgibahi kita tidak mau mengaku namun bersembunyi di balik alasan-alasan dengan bumbuh-bumbuh kebohongan yang telah jelas di mata kita. Ataukah kita orang yang mengelak tersebut? Sering kali kita lupa mencubit diri sendiri sebelum mencubit orang lain. Kita lupa rasanya bagaimana cubitan keras itu lalu kita dengan pongahnya mencubit orang lain dengan begitu kerasnya. Benarlah sebuah pepatah bahwa mulutmu harimaumu. Jagalah mulutmu, jangan sampai ia menelanmu mentah-mentah.
            Wahai pembaca yang budiman, apa yang kita lakukan ketika kita dinasehati oleh orang sebenarnya butuh nasehat bagi dirinya sendiri. Anggaplah, kita disuruh puasa untuk menahan hawa nafsu syahwat namun orang yang mengatakannya memiliki pacar dan senantiasa saling mengumbar aurat dan cinta yang sejatinya dilakukan setelah pernikahan? Ataukah kita disuruh salat oleh orang yang tidak melakukan salat? Paradoks memang! Namun, dalam sebuah pepatah dikatan bahwa jangan lihat dari siapa nasehat itu disampaikan, namun lihat apa yang dinasehatkannya. Lalu bagaimana kalau nasehatnya bernada kasar? Nah, ini yang menjadi persoalan bagi setiap manusia tak terkecuali bagi penulis sendiri untuk selalu menyampaikan kebaikan dengan lembut serta berdakwah dengan hikmah. Tentu saja sebagian besar orang akan marah dan menolak mentah-mentah apabila nasehat-nasehat tersebut dengan bahasa yang kasar, apatah lagi kalaulah yang menyampaikan perkataannya seharusnya kembali kepada dirinya sendiri.
            Kita juga perlu belajar memahami bahwa mungkin saja ada urusan-urusan saudara kita yang tidak mau didiskusikan atau ditanyakan namun kita karena saking gila urusannya mencampuri hal-hal tersebut. Padahal, kita sendiri masih punya segudang permasalahan yang mesti dicarikan solusi dan sibuk di dalamnya. Kita terlalu menganggap hal-hal yang remeh-temeh hingga membuat kita pusing sendiri dan mendapatkan akibatnya sendiri. Bagaimana kalau kita biarkan saja masalah remeh-temeh tersebut, karena sejatinya kita memiliki masalah-masalah yang lebih besar yang perlu untuk kita pecahkan. Bukankah itu adalah salah satu seni menikmati hidup ini. Untuk yang satu ini, penulis kutip dari buku “Enjoy Your Life” karya Dr. Al-A’rifi cetakan Qistipress. Penulis sarankan, pembaca yang budiman membaca buku ini untuk bersama-sama belajar menikmati hidup.
            Setidaknya, kita terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang berani dan mau berubah menuju arah yang lebih baik. Pribadi-pribadi yang lembut dan baik tutur kata dan perbuatannya. Sejatihnya memang kita membutuhkan nasehat karena memang agama itu adalah nasehat. Nasehat yang indah dan meresap lembut di dalam hati. Andai pun nasehat itu kasar, setidaknya nasehat itu berupa kebaikan, maka kita beranggapan saja bahwa yang menasehati itu belum tahu adab menasehati dan mengelus dada ini untuk menerima nasehatnya sambil suatu saat juga kembali menasehatinya untuk memperbaiki kesalahannya. Tentu dengan adab, cara, dan suasana yang lebih baik.
            Bukan pula menasehati orang yang sejatinya tidaklah  melakukan kesalahalan (namun karena kita juga agak suka ikut campur dalam urusan orang lain, terjadilah apa yang terjadi) dan membiarkan serta berlepas diri dari kesalahan-kesalahan yang jelas di kacamata syariat yang dilakukan oleh teman-teman kita yang lain.  Hidup ini terlalu singkat kalaulah kita hanya berkutat pada permasalah kecil dan remeh-temeh.
            Saya pikir, mungkin cukup untuk tulisan ini. Tidak ada kata terlambat untuk belajar menjadi lebih baik. Semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca!
            Selawat dan taslim untuk Rasul saw., keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa menapak tilasi jalannya hingga akhir kelak.

16 April 2013
Komplek Hartako Indah setelah kerja bakti. Untuk diri dan yang membutuhkan.

0 comments:

Post a Comment