Ads 468x60px

Friday, April 19, 2013

Ketika Kiriman Tak Berbalas ( ½ Kisah Nyata)


Bismillah,

            Ah, kawan. Kampus indah kalau suasana sore datang menjemput. Semburat jingga kekuningan terpancar di penjuru bumi sana. Membawa dan ikhlas membagi tawa dan bahagia. Berkumpul dengan kawan, hilang gundah dan gulana. Langit biru nan dibalut dengan awan-gemawan yang bertabur secara parsial. hanya angin yang bersepoi simultan menawan.
            Tetabuan gendang, bunyi dram, dawai gitar, dan alunan musik datang dari arah timur dari Fakultas Seni dan Desain. Setidaknya, mereka bisa bebas tanpa harus memikirkan renstra (rencana strategis) untuk berperang melawan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Teknik yang berada di ujung timur sana entah sedang berbuat apa—Namun, bukan berarti bahwa penulis setuju dengan wasilah kebebasan mereka.
            Sore ini, semua orang (tepatnya mahasiswa), sibuk dalam urusannya dan berkutat dalam dunianya (masing-masing).  Ada yang mungkin sibuk memadu cinta di belahan kampus sana. Dan mungkin ada pula yang saking sibuknya belajar di kos masing-masing kalau film Korea, bahan gosip, dan makanan telah habis (sekali lagi mungkin dan tolong catat itu). Inilah yang kusebut euforia di sore hari.
            Lalu, untuk itu... apa yang hendak diucapkan?? Betul, Alhamdulillah (walaupun hal ini masih perlu diintropeksi ulang). Terkadang kita sulit sekali untuk hanya sekadar mengucapkan satu kata dengan redaksi seperti di atas. Mungkin, karena kerasnya hidup ini dan segala soal dan permasalahan yang meliliti dan melingkupi diri kita menjadi penyebab utamanya.
         Taruhlah kita ambil satu contoh dari kalangan mahasiswa. Mungkin kita pernah saling berkorespondensi dengan birokrasi kampung bernama orang tua perihal uang kiriman. Namun ternyata, kita mendengarkan kabar buruk bahwa sedang terjadi hama di kampung dan untuk bulan itu, panen GAGAL! Atau mungkin penyebabnya ialah adik kita baru kecelakaan jatuh dari pohon mangga hingga kepalanya terkilir sehingga membutuhkan dana yang banyak sebagai pengobatannya hingga uang kiriman yang sudah dipersiapkan untuk kita, tidak jadi dikirimkan. Ditambah lagi, orang tua telah memiliki hutang yang banyak di kampung untuk membayarkan kebutuhan hidup sehari-hari.
            Contoh kasus yang kedua, pernahkah kawan selaku mahasiswa merasakan hanya punya uang 27 ribu di dompet yang seribuanya terbuat dari 2 koin 500 rupiah. Namun ternyata, 30 ribunya mau dipakai untuk bayar hutang yang kita telah berjanji kemarin kepada seseorang untuk membayarnya hari ini. Apa yang pembaca lakukan kalau diperhadapkan pada masalah tersebut?
            Mungkin pembaca merespon dengan menjawab “Kan masih ada ATM?” penulis menjawab, “Benar, alhmadulillah, Kita memiliki tiga ATM ternyata. Satunya ATM Mandiri, dua lainnya ATM BRI dan ATM BNI. Namun, pada ATM BNI saldo kita ternyata hanya di bawah sepuluh ribu, otomoatis, mustahil untuk ditarik. Sedangkan pada ATM Mandiri, kita punya saldo 190 ribu. Tapi ternyata tidak bisa ditarik lantaran, ATM tersebut punya persyaratan untuk menetapkan dana awal di rekening sebesar 100 ribu. Nah, kalau mau ditarik 100 ribu, maka itu hal mustahil karena saldo tidak mencukupi untuk dana awal.” Mungkin ada pembaca yang mengatakan, “Kenapa tidak tarik 50 ribu saja, beres kan?” penulis jawab, “Namun kita diperhadapkan susah untuk mencari ATM Mandiri yang 50 ribuan. Selanjutnya ATM BRI. Alhamdulillah, ATM BRI kita memiliki saldo 240 ribuan. Namun masalahnya, berkali-kali mencoba, ternyata tidak bisa ditarik karena entah Kartu atau ATM-nya yang bermasalah. Terus apa yang pembaca lakukan?”
            Bisa jadi pembaca serentak tanpa perlu diakomodir mengatakan “PINJAM!!”
            Aha... ide yang bagus. Walau pun terkesan idenya kurang kreatif. Alhamdulillah penulis merasakan permasalahan di atas (kasus II). Hanya, penulis merasa enggan melakukan solusi tersebut, entahlah. Yah, saya si penulis mencoba untuk bersabar dan berharap keajaiban akan datang entah dari mana. Gaji sebagai guru privat belum jelas kapan cair begitu pula beasiswa Bidik Misi baru cair bulan depan, permasalahan yang cukup kompleks. Namun, Saya terngiang dengan perkataan seorang saudara fi sabilillaah (di jalan Allah) yang ia kirim melalu sms bernada,
meyyiaristha.blogspot.com
           “Bismillah, sabar itu ilmu tingkat tinggi, belajarnya tiap hari, latihannya setiap saat, ujiannya mendadak, sekolahnya seumur hidup, dan hadiahnya kebahagiaan.. mari bersabar dalam kondisi apa pun...”
            Masya Allah, semoga beliau selalu dalam rahmat Allah. Benar kawan, sabar itu ilmu tingkat tinggi. Kita belajar kesabaran itu tiap hari. Mungkin kita pernah digosipi, dibenci, dicaci, dihina, dimaki, dipukuli, diputuskan (untuk hal ini, penulis ucapkan alhamdulillah kalau pacarannya tidak secara Islami), diduakan, dan berbagai permasalahan negatif lainnya. Namun, dengan permasalahan itu semua menuntut untuk kita belajar bersabar dan perlahan menjadi dewasa. Belajarnya benar-benar tiap hari karena masalah itu tiap hari—insya Allah—datang mengecup kita, membelai, hingga menerabas masuk dengan paksa ke dalam hati membuat rasa yang tak pasti (baca: was-was). Hingga sampai napas berada di ujung tenggorokan, mungkin saat itulah kita tamat dari sekolah kesabaran hingga meraih titel kebahagiaan, insya Allah.
            Allah berfirman dalam salah satu ayatnya yang berbunyi, “Mohonlah pertolongan (kpd Allah) dengan  sabar dan salat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.” 2:153, kemudian di dua ayat berikutnya kita temukan “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar....” dan banyak lagi ayat-ayat tentag kesabaran dalam Alquran yang lebih dari empat puluh ayat, wallahu a’alam... (saya tahu, karena saya lihat indeks Alquran tentang ayat kesabaran)...

***
            Hujan deras, di kampus. Dedaunan basah dan berjatuhan karena angin. Sekali lagi, manusia tiada yang bisa menebak cuaca dengan pasti. Kemarin cerah, sekarang hujan. Entah bagaimana nanti.
            Di bagian akhir ini, penulis mengajak kepada membaca untuk sama-sama belajar bersabar, walau pun dan bagaimana pun situasi yang kita hadapi. Kesabaran ada pada awal permasalahan, bukan ketika kita telah lelah merontah, berteriak tak karuan, dan mengeluh kepada setiap orang (pakai facebook pula) dan setelah itu berkata “Baiklah, saya akan bersabar!!!”.
            Benar hal ini susah, penulis pun merasakannya. Namun, tak ada kata tak mungkin selama kita mau berusaha. Berusaha untuk bersabar. Boleh jadi, masih banyak yang lebih buruk keadaannya daripada kita. Taruhlah, kiriman kita tak berbalas namun badan kita masih sehat sehingga bisa digunakan untuk bekerja sampingan. Sementara di sisi lain, ternyata ada mahasiswa yang kurang beruntung mengalami sakit mag akut karena sudah enam bulan tidak dikirimkan uang. Contoh lainnya, badan kita begitu sehat namun kita sering mengeluhkan berbagai macam hal. Sementara masih ada orang yang pincang kakinya, patah tangannya, hilang matanya, menderita penyakit kanker kronis, menderita tumor ganas di seluruh tubuhnya, dan mungkin telah ada yang mati. Kawan, rumput tetangga tak selamanya lebih hijau dari rumput di halaman sendiri. Mengapa kita selalu melihat ke atas sedangkan kita lupa untuk sesekali menengok ke bawah.
            "Perkara orang mukmin mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR. Muslim).
            Manshabara zhafira, sebuah pepatah dari Arab yang berarti siapa yang bersabar akan beruntung.
            Untuk tulisan ini, sebaiknya kucukupkan sekian. Kalaulah ada manfaatnya, silakan pembaca ambil dan mengimplementasikannya dalam hidup serba unpredictible ini. kalau tidak ada yang bisa dipetik, penulis mengucapkan maaf karena penulis hanya pemula dalam dunia aksara dan hikmah, hanya mencoba untuk saling berbagi.
            Selawat dan taslim kepada Rasulullah saw, keluarga, dan sahabatnya serta orang-orang yang menyertainya. Semoga kita dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cinta dan saya mencintai Rasulullasah saw dan apa-apa yang dicintai beliau. Wallahu a’lam.
Cat.: Uang yang saya miliki sekarang sekitar 5.500 rupiah, tadi bayar hutang kepada seseorang tersebut dan masih ada hutang 20.000 hutang sepuluh ribu yang baru datang karana lusa organisasi yang saya geluti mengadakan musyker. Tampaknya, saya akan pikirkan saran dari pembaca yang mungkin tawarkan, yaitu “PINJAM”, hehe...

18-19 April 2013
Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan sejumlah keluhan!

0 comments:

Post a Comment